
Sedikit kejutan terlihat diwajah Chu Xingtian, meski ia dengan cepat mengubahnya. Jika itu orang lain mungkin saja Chu Xingtian berhasil menghindar namun ini adalah Zhen Yuan, ia memiliki kepekaan yang jauh lebih besar dari orang lain sehingga langsung menyadari sesuatu.
Chu Xingtian terdiam, disatu sisi ia sangat tergoda dengan resep pill kelas 4, bahkan jika hanya 1 dari mereka namun Zhen Yuan ingin memberikannya 4. Ia menoleh kearah Baisheng yang kini mulai bertarung dengan genius muda peringkat 6 asal aliansi Dewa Api.
Logikanya memaksa Chu Xingtian untuk setuju pada taruhan Zhen Yuan namun hatinya mengatakan tidak. “Baisheng mungkin adalah genius sekaligus monster jika ia berhasil diposisi kedua namun untuk yang pertama..” Chu Xingtian ragu.
Zhen Yuan tersenyum tipis, sejujurnya ia tidak memiliki keyakinan untuk Baisheng diposisi pertama. Untuk mendapatkan posisi 3 besar saja sudah cukup. Itu sudah membuat legenda dan rekor dari kepulauan terbuang.
Sebab di turnamen- turnamen sebelumnya posisi 1 hingga 3 selalu ditempati oleh pulau utama. Aliansi Jeritan Neraka, Kelompok Surga hingga Dewa Api selalu berebut untuk posisi ke empat dan kelima. Bahkan ada masanya ketika posisi 1 hingga 5 ditempati oleh pulau utama membuat 10 aliansi besar hanya menempati sisanya.
Saat itu Pemimpin pulau akan sangat menghargai Baisheng, ini karena terdapat hadiah tambahan untuk aliansi yang berhasil menduduki 3 besar di genius muda ataupun tetua. Namun tidak ada yang tahu hadiah seperti apa itu karena mereka tidak pernah mendapatkan tempat di 3 besar.
Sementara itu Baisheng mulai terlihat kewalahan menghadapi berbagai teknik dari genius muda aliansi Dewa Api. Lawannya telah mengembangkan 2 teknik serangan ketingkat Bijak, 1 teknik pelarian dan 1 teknik pertahanan membuatnya tidak memiliki celah untuk Baisheng.
“Genius terkuat dari aliansi Dewa Api sesuai dengan namanya! Kekuatan yang ia perlihatkan saat ini telah setara dengan kultivator bijak awal. Bahkan yang lemah mungkin bukan tandingannya” Seorang menyanjung dihadapan Pria berjubah merah dengan lukisan api membara di ujung pakaiannya.
Pria itu tidak lain adalah ketua aliansi Dewa Api, Tuan Dewa. Ia sekaligus pemimpin pulau dari pulau Dewa Api, pulau peringkat ketiga. Meski ia tidak memiliki kata- kata untuk diucapkan dari sikapnya memang ia sangat bangga dengan genius muda miliknya.
Barulah kali ini banyak orang terdiam. Tetua yang pertama kali berbicara juga tidak mengatakan apa- apa lagi, ia awalnya ingin menjilat untuk Tuan Dewa namun kini pujiannya mungkin akan terdengar seperti ejekan berkat Raja Hitam.
Wajah dari Tuan Dewa sedikit tidak sedap dipandang, Ia ingin berbicara namun telah didahului oleh pemimpin pulau.
“Keduanya adalah genius muda yang patut dibanggakan oleh Kepulauan Terbuang. Saya yakin genius dari Dewa Api belum mengembangkan seni Ilahi Api yang menjadi andalan pulau Dewa Api, jika ia berhasil menguasainya maka mungkin lawannya akan kalah dilangkah pertama”
“Benar sekali, tuan pulau berpikir jernih. Tidak seperti seorang disana yang mengambil kesimpulan seenaknya” seorang wanita muda berpakaian ungu berbicara. Ia memakai cadar dengan warna yang sama sehingga hanya memperlihatkan bola matanya yang berwarna ungu.
Ia tidak lain adalah tuan Istana Bulan, pemimpin aliansi Istana Bulan sekaligus pemimpin pulau. Meski seorang wanita dan nampak muda, kekuatannya patut diperhitungkan. Setidaknya ia hanya sedikit lebih lemah dari wakil kapten ketiga atau setara dengan Raja Hitam.
Begitulah kelima pemimpin aliansi teratas dengan masing- masing sebutannya, mulai dari Penguasa Neraka, Pemimpin Pulau, Tuan Dewa, Rajah Hitam dan Tuan Istana. Pemimpin aliansi lainnya mungkin memiliki gelar, namun mereka semua pucat dibandingkan dengan kelimanya.
“Baiklah saya setuju!” Akhirnya dibawah godaan resep pill kelas 4, Chu Xingtian setuju untuk bertaruh. Dimasa depan, ia mungkin akan menyesal dan membuatnya kapok untuk bertaruh dengan Zhen Yuan lagi.