
Pria paruh baya itu meledak dengan kekuatan yang kuat, elemen hitam menyebar dalam jarak 100 meter yang kemudian membangkitkan banyak pasukan dari energi hitam tersebut. Pasukan kecil itu segera menyerbu kultivator Bijak Sejati yang fokus menerima serangan dari 4 kultivator tidak lagi dapat menghiraukan serangan seperti itu dan membuat punggungnya terbuka.
Kultivator Bijak Sejati tidak akan menyangka jika serangan dari pasukan kecil akan melukainya dengan begitu parah. Namun mengetahuinya sekarang sudah terlambat sebab pasukan kecil itu mulai memasuki luka- luka yang ada dipunggunya dan ia dapat merasakan jejak ribuan hewan kecil di dalam tubuhnya.
Ia ingin membuat energinya menghapuskan hewan kecil yang ada di dalam sana tapi sayang keempat kultivator itu tidak membiarkannya. Keempatnya telah mendapatkan penjelasan dari leluhur Shen Dao melalui pesan telepati.
“Bajingan, kalian tidak mampu berdiri satu lawan satu dan menggunakan jumlah untuk melawanku! Saya tidak akan melupakan hal ini bahkan jika menjadi iblis di akhirat!” Kultivator itu meraung keras, ia mencoba meledakkan energi dalam tubuhnya dan bermaksud untuk menyeret mereka dalam lubang.
Sayang sekali ia kalah cepat dengan pasukan kecil yang memasuki tubuh mencapai lautan energinya. Bagai kutu dan lintah, mereka mulai menghisap seluruh lautan energinya dan membuatnya kering dalam sekejap mata. Rencana meledakkan diri kultivator itu akhirnya dihentikan dan membuat mati dengan menyesal.
Seorang kultivator Bijak Sejati lainnya tewas membuat dua rekannya yang tersisa menjadi lebih buruk. Qing Hongyun juga memanfaatkan momentum dan bersiap untuk menyerang ranah Bijak. Ia telah mendapatkan pemahaman dan wawasan dari pertempurannya dan siap untuk menerobos.
Angin panas yang kuat tiba- tiba terbentuk dan membuat irisan bagi Qing Hongyun dan lawannya. Keduanya akhirnya terjebak dalam irisan yang sama. Tentu saja angin panas itu merupakan bentuk wawasan dari seorang kultivator yang memiliki Bakat Bawaan. Ia memasuki angin panas dengan tenang namun lawannya mulai menjerit kesakitan karena tubuhnya dibakar dan cincang oleh angin panas. Ia tewas dengan menjadi daging cincang setelah sepuluh menit berjuang.
Kematian dua rekannya dalam satu waktu yang hampir bersamaan membuat pembunuh kehilangan konsentrasinya. Ia nyaris salah arah dalam melemparkan pisau kecilnya dan membuat jarum beracun itu lolos dan menusuknya.
Jelas sekali bahwa efek dari racun mulai beredar di tubuhnya. Ia ketakutan dan tidak lagi memasang front untuk bertarung dan berjanji akan menjadi pengikut dari Du Lian jika wanita itu memberinya penawar.
Sayang sekali bukannya memaafkan, Du Lian memberikannya serangan lain dan membuat pembunuh tewas menjadi lilin cair. Setelah memastikan lawannya telah tewas, Du Lian dapat merasakan efek samping akibat pemakaian Bakat Bawaan yang terlalu keras. Ia terjatuh dan memuntahkan dua teguk darah.
Melihat hal ini, mereka semua datang dengan cepat dan membantu Du Lian menstabilkan energinya. Untung saja pria dan wanita yang baru saja datang mengetahui efek samping yang di derita oleh Du Lian karena pria itu juga seorang memiliki tubuh bakat bawaan.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, pria itu menjelaskan bahwa keadaan Du Lian tidak apa- apa. “Sangat bagus efek sampingnya terlalu kecil dengan kekuatan yang ia keluarkan. Selain itu pertarungan sebelumnya mungkin akan menambah pemahamannya dan mendekatkan dirinya menjadi kultivator Bijak Maju.”
Setelah beberapa pengaturan, dua leluhur dan kerajaan di tugaskan untuk membereskan tempat pertarungan dan membangun kembali kerajaan Pasir Besi diwilaha tersebut. Meski kerajaan Pasir Besi telah kehilangan 90 persen kultivator Mortal yang mereka miliki dan hanya menyisakan mereka yang ada di dataran Asal Mula, namun tetap saja Du Lian memberikan mereka hak untuk tetap menjadi kekuatan kelas 1 selama satu dekade.
Du Lian kembali bersama dengan Mentri Yan Jie dan ratu Musim Semi, sementara Shu Lian dan Darma menjaga Qing Hongyun dari terobosannya lalu kembali bersama dengan pasangan suami istri yang ingin bertemu Botak Kun.
Beberapa jam setelahnya, dataran Asal Mula kedatangan tamu lainnya yang tidak lain adalah Zheng Choi. Ia begitu cemas setelah mendengar dataran Asal Mula di serang dan memutuskan untuk pergi sendiri, sayangnya di saat yang bersamaan seorang murid dari Letnan teratas mengunjunginya dan menanyakan pembangkangan dari 4 dataran. Dengan begitu ia harus menurut dan menyelesaikan masalah tersebut dengan 3 kepala dataran lainnya.