
Di dalam dunia ilusi tetua Bai, kedua tetua lainnya mulai menyerang menggunakan teknik yang mereka miliki. Tetua Huang melepaskan ratusan bilah angin yang tajam dan dapat memotong baja yang paling kuat sekalipun sementara tetua kedua membuat roda- roda api yang mengeliling dan membakar pria itu hidup- hidup.
Jika saja lawannya bukanlah kultivator Mortal Puncak maka ia akan tewas berkali- kali dihadapan serangan gabungan 3 tetua.
Bukannya pria itu lemah yang dapat dengan mudah dikalahkan oleh kelompok Zhen Yuan, namun itu karena pria itu bukanlah tandingan Zhen Yuan dan kelompoknya jika mereka bersatu. Kekuatan dari kelompok Zhen Yuan sendiri telah menandingi Kultivator Bijak Suci lapisan awal sehingga pria ini tidak layak untuk dibicarakan.
Namun bukan berarti ia lemah sebab tanpa sepengetahuan Zhen Yuan, pria yang ia dan kelompoknya kalahkan adalah seorang ketua perampok Bayangan, salah satu dari 3 kelompok perampok terkuat yang ada di dataran Gurun Bandit.
“Lepaskan dia! Kita perlu informasi dari pria ini!” Zhen Yuan melihat pria itu telah mengalami luka yang parah sehingga menyuruh ketiga tetua untuk berhenti.
“Singa Kecil bisakah kau menyegel kultivasinya untuk sementara?” Zhen Yuan meminta.
Singa Kecil mengangguk, ia menyentuh perut pria itu lalu energi hijau mengalir dari telapak tangannya dan memasuki perut pria yang seketika memuntahkan seteguk darah segar.
“Kultivasimu telah kami segel dan kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu lagi tanpa seizin kami.” ucap Zhen Yuan.
Mendengar ucapan Zhen Yuan, pria tersebut gemetar ketakutan. Ia meraba- raba perutnya dan mencoba mengeluarkan kekuatannya namun sayang tidak sedikitpun kekuatannya keluar membuatnya semakin panik.
Ia segera sadar dan berlari kearah Zhen Yuan, pria itu tanpa aba- aba berlutut dan memohon untuk mengembalikan kekuatannya seperti dulu. Mengangkat alisnya, Zhen Yuan tersenyum puas. “Saya bisa melakukannya tapi kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu”
“Saya akan menjawab semua yang tuan katakan!” jawab pria itu segera.
“Siapa kau ini dan kenapa kau ingin mencelakai kami? Jika bukan karena Singa Kecil yang berjaga dan mengawasimu maka kami mungkin akan celaka hari ini dan memakan masakanmu”
“Untuk siapa?” Zhen Yuan bertanya lagi.
“Untuk Jiwa leluhur!” ucap pria itu tidak berdaya. Ini sebenarnya adalah rahasia yang tidak banyak orang mengetahuinya.
Zhen Yuan dan Singa Kecil saling memandang, keduanya tahu Jiwa leluhur yang dimaksud oleh pria itu tidak lain adalah Jiwa dari kultivator Mortal Puncak yang kalah dari siksaan Petir Surgawi. Biasanya jiwa ini akan langsung menyebar bersama dengan terciptanya dunia kecil namun ada juga beberapa hal yang membuat jiwa dari kultivator itu selamat.
Walaupun selamat, ia tidak bisa melangkah menjadi kultivator Bijak Suci karena telah kalah oleh petir surgawi. Ia hanya bisa menjadi kultivator Bijak Suci hanya dengan tumbal persembahan ataupun cara lainnya yang merupakan cara curang dan kotor.
Selanjutnya, Zhen Yuan menanyakan lebih banyak hal yang umum seperti keadaan Kepulauan Terbuang, jumlah kekuatan yang ada, hingga sumber daya dan yang lainnya.
Dari Zheng Cho, mereka mengetahui bahwa dataran Gurun Bandit sebenarnya dikuasai oleh 3 kekuatan yaitu Perampok Bayangan, Istana Pusat dan Bandit Bersaudara. Ketiganya masing- masing menguasai satu dunia kecil yang ada di dataran Gurun Bandit.
“Dataran Asal Mula saja mendapatkan dunia kecil begitu sulit sedangkan disini ada 3!” Ketiga tetua menggeleng pelan mendengarnya.
Ketiganya memiliki kekuatan yang sama, mereka masing- masing di pimpin oleh seorang kultivator Mortal Puncak yang mana jika di pulau utama mereka setara dengan Sersan yang masih tidak layak untuk di akui.
“Sumber daya kami telah habis selama bertahun- tahun. Kami hanya bisa mengumpulkan kekayaan dengan merampok orang lain. Tentu saja tidak semua kegiatan kami adalah merampok, kami juga biasanya menjual dan bagi para alkemis dan master lainnya akan mengembangkan bakat mereka agar dapat memasuki pulau utama sebagai master”
Zhen Yuan masih tidak familiar dengan kekuatan dari pulau utama sebab itu ia memberi pertanyaan sekali lagi tentang Pulau Utama. Hal ini membuat Zheng Cho memandangnya aneh namun ia tetap menjawab pertanyaan pemuda itu.