To Be Celestial's Emperor II

To Be Celestial's Emperor II
Melawan Keluarga Zhen



“Para tuan dapat tetap disini! Saya akan menemui tamu diluar, mohon maaf atas gangguannya” kata putri Embert. Ia bersama dengan Shu Lian menemani para tamu sedangkan Zhen Yuan memimpin Botak Kun dan Chun Jian menemui keluarga Zhen.


“Master Zhen, biarkan saya dan Botak Kun yang lebih dulu menemui mereka.” usul Chun Jian ketika mereka telah tiba di depan pintu. Zhen Yuan menurut.


Pintu penginapan terbuka, Chun Jian dan Botak Kun berjalan keluar menemui rombongan keluarga Zhen. Dari dalam, Zhen Yuan mengamati situasinya.


Keluarga Zhen dipimpin oleh 2 orang dari generasi muda, mereka tidak lain Zhen Tian dan Zhen Ruo. Sedangkan dibelakang mereka terdapat 3 kultivator Mortal yang tidak lain adalah alkemis kelas 6 milik keluarga Zhen, ada juga beberapa master kelas 7 dan tetua penjaga.  


“Kami menyambut keluarga kedatangan keluarga Zhen. Master telah menyuruh kami menyambut anda”  Botak Kun berkata dengan nada ramah, walau sebelumnya tindakan keluarga Zhen dihitung kurang ajar tapi mereka tidak ingin memulai konflik dengan keluarga besar setelah semua masalah yang ada.


Tapi tidak ada satupun dari mereka memperhatikan Botak Kun, seolah kehadiran Botak Kun benar- benar tidak terlihat disana. “Arogan sekali! Apakah begini keluarga besar memperlakukan orang yang lebih lemah dari mereka?”


Karena Botak Kun tidak ditanggapi, Chun Jian yang kini maju dan menyambut mereka. Tapi nadanya tidak seramah Botak Kun.


“Dimana Master Zhen Yuan? suruh dia keluar dan menemui tuan dan nona muda kami!” akhirnya tetua Chun Jian dibalas oleh seorang tetua penjaga namun dengan nada penuh kesombongan.


Wajah Chun Jian menggelap, “Perhatikan nada bicaramu! Master Zhen Yuan tidak menerima tamu yang kurang ajar seperti kalian!”  


“Huh! Apa kau pikir master Zhen Yuan pantas menemui kami? perhatikan posisimu! Ia hanya mendapatkan tempat 3 besar karena ia beruntung mengetahui resep yang sebenarnya!” Kini seorang master kelas 7 ikut berbicara.


“Kami akan menunggu selama 3 detik, jika master Zhen Yuan tidak keluar juga maka jangan salahkan kami jika berbuat kasar!” tetua itu mengancam.


Dihadapkan dengan ancaman seperti itu, Chun Jian sangat tersinggung. “Lalu kau bisa mencobanya! Jangan pikir kami akan membiarkan kalian berbuat seenaknya disini!”


Tetua itu mengeluarkan auranya seorang kultivator lapisan 6, Chun Jian tidak mau kalah, ia juga melepaskan auranya sebagai kultivator lapisan 6. Keduanya melesat secara bersamaan dan mulai bertarung.


“LEMAH!” Tetua itu mengejek Chun Jian, ia mengeluarkan jurusnya. Tangannya kini dilapisi oleh lapisan batu berwarna perak lalu mulai melayangkan tinjunya kearah Chun Jian.


Suara sayatan pedang bergema ketika pedang Chun Jian berhasil melukai tinju sang tetua. Terkejut, membuatnya lengah. Chun Jian sekali lagi melakukan tebasan, kali ini ia mengarahkan tebasannya kearah pinggang bawah membuat tetua itu tidak siap.


Sayang sekali tetua itu segera tewas dalam dua serangan. Chun Jian menatap sinis tetua yg telah terpotong menjadi dua itu, “Dengan kekuatan yang lemah seperti itu ingin berhadapan denganku?”


“Siapa selanjutnya?” Chun Jian menantang,


Seorang tetua lainnya maju dengan penuh amarah ketika melihat temannya tewas. Ia mengeluarkan aura lapisan ke tujuh seolah memberitahukan kekuatannya pada Chun Jian.


Sayang sekali Chun Jian bahkan tidak terintimidasi dengan hal tersebut. Ia sekali lagi mengirimkan dua tebasan pada tetua itu.


“Cih! Kau tidak memiliki kemampuan untuk membunuhku!” Tetua itu maju dan meneriakkan jurusnya. Seketika gumpalan tanah bergerak dari arah belakangnya dan membentuk sebuah boneka tanah.


“Serang!” Tetua tersebut mengirim boneka tanahnya untuk menghadapi Chun Jian.


Tebasan Chun Jian berhasil membuat goresan cukup besar tapi kemudian goresan itu perlahan menutup kembali seperti sedia kala.


“Sekarang giliranku!” Boneka itu menyerang, dari tubuhnya muncul duri- duri yang tajam yang kemudian terbang menuju Chun Jian.


“Panglima Chun awas!” Botak Kun berteriak khawatir melihat serangan tersebut.


“Nak kau tidak usah mengkhawatirkanku! lihat bagaimana kekuatanku yang sebenarnya!” Chun Jian tersenyum percaya diri. Ia kemudian berputar kearah kiri lalu berteriak dengan sekuat tenaganya. Angin terbentu dari putarannya itu lalu mulai membuat arah serangan jarum tanah tak beraturan.


Tidak sampai disana, angin itu terus berjalan mendekati boneka tanah.


“Hancurkan!” Chun Jian menerjang kearah boneka tanah. Pedangnya ia acungkan kedepan. Gerakan dari Chun Jian sangat cepat, ia segera menusukkan pedangnya ke boneka tersebut