
“Tetua silahkan duduk!” Frander telah menyiapkan sebuah kursi lainnya yang sebaris dengan para pemimpin dataran. Suasana sedikit canggung ketika ia datang, bahkan kelimanya tidak lagi saling mengirimkan candaan dan lelucon membuat acara itu menjadi hening.
Zhen Yuan tidak terganggu pasalnya ia telah duduk disalah satu kursi tamu yang tidak terlalu mencolok lagipula ia sedikit curiga dengan sang tetua dan kelima pengikutnya.
Frander segera meminta para penari dan pemain musik untuk memasuki ruangan agar tidak terlalu hening. Namun sebelum ia dapat mencarinya, sang tetua telah berbicara yang membuatnya tidak berkutik.
“Zheng Cho, selamat karena telah menjadi kultivator Bijak, saya harap kedepannya kita bisa bekerja sama untuk membangun dataran Gurun Bandit menjadi dataran terbaik diantara Dataran lainnya.”
Zheng Cho yang saat itu sedang meminum arak tersedak karena kaget. Ia dan Frander saling melirik.
“Dia sepertinya tidak ingin melepaskan kita! Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Frander panik.
“Saya juga bingung, sebab perjanjian kita padanya telah selesai setelah adanya kultivator Bijak Sejati di dataran Gurun Bandit”
Zheng Cho dan Frander saling mengirimkan pesan telepati, mereka berdua mencari cara agar sang tetua tidak tersinggung. Kemudian Zheng Cho melirik pria paruh baya yang paling dekat dengannya diantara 4 pemimpin dataran yang hadir.
“Saudara, bisakah kau membantuku untuk berbicara dengan sang tetua?” tanya Zheng Cho melalui telepati. Pria itu sepertinya mengerti kesulitan Zheng Cho, ia kemudian setuju untuk membantu.
“Saya berterimakasih pada sang tetua karena masih memikirkan kami bahkan setelah perjanjian kita selesai” ucap Zheng Cho sambil tertawa.
“Benar sekali, saya merasa tersanjung atas tindakan sang tetua, sungguh berhati mulia. Kami tidak akan pernah melupakan semua jasa yang diberikan tetua pada dataran Gurun Bandit” Frander menimpali.
Raut wajah sang tetua berubah mendengar perkataan keduanya. Ia kemudian membanting meja didepannya dan membuat kegaduhan besar. Para pemain dan penari yang ada di dalam aula sampai terkejut dan berhenti.
“Apa maksud kalian? Sepertinya kita tidak pernah membahas mengenai hal ini. Lagipula saya tidak memiliki niatan untuk meninggalkan dataran Gurun Bandit” sang tetua berkata pelan.
Namun tekanan yang kuat segera menahannya dan membuatnya terjatuh di lantai. “Siapa yang menyuruhmu pergi?!” sang tetua berkata pelan sambil memainkan cangkir minuman ditangannya.
Dengan itu suasana menjadi tegang , Frander bahkan keringat dingin merasakan tekanan itu. Ia yakin sang tetua dapat membunuhnya dengan mudah ditempat.
“Tetua sangat suka bercanda! Frander, mana mungkin tetua melupakan perjanjian kita! Ia pasti mengingatnya jika perjanjian kita akan berakhir setelah kita mendapatkan seorang kultivator Bijak” Zheng Cho berusaha tenang dan tertawa agar suasananya tidak terlalu tegang.
Sang tetua memicingkan matanya dan menatap Zheng Cho dengan tajam. Zheng Cho dan Frander berusaha untuk menjebaknya dan mengatakan perjanjian itu dihadapan 4 pemimpin dataran lainnya.
Sambil tersenyum ia berkata. “Betul, saya mengingatnya dengan jelas. Lagipula itu hanyalah perjanjian biasa, mana mungkin saya memutuskan hubungan yang telah saya jalani selama bertahun- tahun lamanya hanya karena sepucuk surat”
Namun pengalamannya selama bertahun- tahun telah memberinya kemampuan untuk bersilat lidah. Ia mungkin terpojok dan harus mengakui sebagian namun tidak semuanya.
“Lagipula perjanjian itu telah sangat lama, saya tidak yakin jika kita masih menyimpannya” ucapnya sambil menunjukkan ekspresi kemenangan.
Namun disaat itu juga, sebuah gulungan muncul di depan meja. “Tenang saja, kami telah menyimpannya dengan baik” Zheng Cho memberikan perlawanan yang keras. Mereka ingin tahu apa lagi alasan yang akan dikatakan oleh sang tetua untuk menyangkalnya.
Sang tetua tiba- tiba memasang wajah sedih. “Apakah kalian benar- benar menginginkan hal ini dan menyiapkan semuanya? Kita bisa memusnahkan surat itu dan membuat surat kerja sama abadi”
Disaat inilah, sebuah suara baru terdengar. “Namun untuk menjadi murid dari Letnan, anda harus menghormati kata dan janji anda. Adapun kedepannya, anda tidak perlu khawatir sebab kami berlima telah memutuskan untuk bekerja sama dan saling membantu.” Kini pria paruh baya yang memanggil Zheng Cho saudara memberikan suara.
“Yah, kami telah merencanakan ini dengan begitu tetua tidak lagi harus melindungi dataran Gurun Bandit dimasa depan” pria tua lainnya berbicara.
Kini 2 dari 4 pemimpin dataran yang hadir telah mengatakan hal yang serupa. Tetua itu menatapnya dengan tajam, ia tidak berharap 4 pemimpin itu bekerja sama dan melawannya hari ini. Ia sadar bahwa jika bukan karena gurunya, seorang letnan tingkat atas dan menjadi pengawas dari 10 dataran mungkin mereka tidak perlu repot- repot untuk menjamunya.