To Be Celestial's Emperor II

To Be Celestial's Emperor II
7/45



Sambaran petir itu mengejutkan Zhen Yuan ketika memasuki tubuhnya. Pagoda Surgawi maupun tubuh beracunnya dengan susah payah. Keduanya menjadi teknik andalan Zhen Yuan namun tetap saja tidak dapat membuat pemuda itu menahan petir surgawi ketujuh.


“Buahkkk!” Zhen Yuan menyemburkan darah dari mulutnya ketika ia jatuh dan menghantam rumah kecil yang ada di salah satu puncak pegunungannya.


“Sial!” Zhen Yuan tidak menyangka jika keduanya akan sangat melemah dan bait surgawi ketujuh berhasil menundukkan keduanya. Ia harus membuat keduanya kembali dan menghadapi bait surgawi ketujuh sementara teknik petirnya akan menghadapi petir kesengsaraan.


Tidak seperti petir surgawi sebelumnya, petir surgawi ketujuh sangat sulit untuk dihadapi oleh Zhen Yuan untuk saat ini.


Zhen Yuan mengepalkan tangannya, ia bertekad untuk bertahan. Saat ini ia tidak lagi memiliki posisi tinggi dengan terbang di langit melainkan duduk bersilah bersikap tenang walau didalam ia terguncang.


Samar- sama, pegunungan tempat Zhen Yuan bergetar dan mengalirkan energi petir dalam jumlah yang kecil. Meski begitu sudah cukup membuat pegunungannya terlihat luar biasa. Para tetua dan pelindung menengah yang kebetulan memiliki pegunungan tidak jauh dari sana menyaksikannya bahkan beberapa merasa iri karena pegunungan mereka tidak begitu megah.


Zhen Yuan bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkannya, ia memasuki kondisi fokus tertinggi dan tidak membiarkan apapun mengganggu. Hanya ketika tubuhnya telah membuat perlawanan pada Petir Surgawi juga Bait Suci, Zhen Yuan mulau merasa nyaman.


Seolah tidak menunggu Zhen Yuan beristirahat, petir surgawi kedelapan turun dan memecah keheningan. Itu datang dengan suara yang menggelegar membuat pegunungan berguncang hebat. Hal ini cukup membuat keributan di sekitar dan beberapa tetua mencoba untuk mendekati pegunungan Zhen Yuan.


Sayang sekali, tepat ketika mereka mendekati jarak 100 meter dari gunung terluar, sebuah petir emas datang dan menyambar seorang tetua dan membuatnya terluka parah.


Sementara di dalam pegunungan, Zhen Yuan berjuang sekuat tenaga mengatasi petir kedelapan. Ia telah mengaktifkan pill Armor Thunder untuk melindungi tubuhnya. Meski pill Armor Thunder adalah pelindung namun itu bukanlah kekuatan eksternal seperti baju baja atau yang lainnya. Sebab itu Zhen Yuan dapat tenang memakainya.


Pill Armor Thunder menahan petir yang menyambar tubuh Zhen Yuan, sementara 5 pedang terbang melayang dan membuat 5 teknik pedang terbang secara bersamaan. Zhen Yuan bahkan menggunakan lotus Api dan Airnya untuk menahan sebagian petir yang menghantamnya.


Petir kedelapan jauh lebih ganas dibandingkan petir ke tujuh. Baik mengatakan jika petir ke tujuh bahkan hancur dalam sekali lihat dihadapan petir kedelapan. Ini cukup membuktikan bagaimana kelima pedang terbang itu secara bertahap hancur. Meski Zhen Yuan ulet dan selalu membat pedang terbang lainnya membuatnya tidak terkalahkan.


Adapun Lotus Api dan Airnya, mereka terlalu rapuh untuk menahan petir kedelapan. Bahkan jika mereka memiliki kekuatan regenerasi yang suci tetap saja mereka, mereka hanya bisa memperlambat kecepatan dari petir kedelapan.


Meski begitu, ditegah gelombang petir kedelapan, lotus api dan airnya secara bertahap mulai beradaptasi. Pertama kali mereka akan segera hancur bahkan sebelum menyentuh petir surgawi. Namun kini, setelah penghancuran sebanyak ratusan atau bahkan ribuan kali, mereka berhasil bertahan selama beberapa detik untuk menahan petir surgawi sebelum akhirnya hancur dan muncul kembali.


“Bahkan jika surga memberikan petir surgawi terkuat, saya akan tetap berdiri dan menghadapinya!” Seberkas tekad yang kuat muncul dan memberi harapan baru pada Zhen Yuan. Ia mengingat hari- harinya kembali dikehidupan ini.


Ada begitu banyak hal yang dulu ia impikan sebagai dewa yang tinggi namun tidak dapat ia miliki kini ia dapatkan bahkan jika ia hanya seorang kultivator yang lemah. Yang bahkan para pelayan terendah milik pengikut para dewa tidak akan sudi untuk melihatnya sekarang.


Tapi ia begitu bersyukur mendapatkan kehidupan yang kedua ini. Ia mendapatkan pengalaman yang baru dan sesuatu yang sangat ia impikan dulu. Ia tidak ingin semuanya sia- sia, ia adalah orang yang percaya pada takdir surga.