
Kepergian Zhen Yuan secara mendadak sedikit membuat para anggota keluarga merasa sedih, untunglah Patriark Zhen segera mengeluarkan banyak tenik dan jurus yang telah diberikan oleh Zhen Yuan semalam untuk dipelari oleh anggota keluarga membuat perhatian mereka semua segera teralihkan.
Zhen Yuan meminta Botak Kun dan Shu Lian untuk mengendalikan kereta roh menuju kerajaan Neteer. Ia memiliki janji temu dengan mentri Yan Jie. Karena niatnya hanya untuk bertemu dengan Mentri Yan Jie saja, Zhen Yuan tidak repot untuk membuka keberadaannya pada semua orang.
Ia menyembunyikan keberadaannya lalu memasuki istana Neteer dengan sangat mudah. Karena pernah tinggal disana selama beberapa waktu membuat Zhen Yuan mengetahui ruangan- ruangan penting, termasuk ruangan mentri Yan Jie.
Barulah ketika ia memasuki ruangan Mentri Yan Jie, Zhen Yuan melepaskan penyembunyiannya. “Junior memberi salam pada Mentri Yan Jie” ucapnya sambil menakupkan tinjunya.
Mentri Yan Jie tersenyum lebar melihat kedatangan Zhen Yuan. “Tidak salah saya mempercayakan dirimu, kau tidak mengecewakan saya” Ia tertawa puas sebentar lalu kembali melanjutkan,
“Kau pasti bertanya- tanya mengapa saya mengundang anda secara tiba- tiba hari itu. Sebenarnya, puluhan tahun yang lalu saya menemukan sebuah giok ingatan dari seorang kultivator yang sangat kuat. Ia telah hidup lama sekali dengan kekuatannya yang mencapai ranah Bijak Suci. Selain menjadi kultivator terkuat di zamannya, ia juga menjadi Peramal besar.
Di dalam giok ingatan itu, tersimpan sebuah ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang anak yang lahir diwilayah rendah daratan. Anak itu memiliki takdir petir di hidupnya yang mana setiap ia bertambah kuat, surga akan mengirimkan ujian petir pada anak itu, dan membuatnya menjadi sangat kuat dengan pemahaman yang kompleks disegala bidang.
Anak itu akan mengawali awal dari kejayaan tapi juga awal dari kehancuran. Sebab bersamaan dengan bangkitnya anak itu, bencana besar yang telah menghantui daratan ini selama bertahun- tahun lamanya yaitu bangsa Iblis akan kembali terbebas dari segelnya.
Hanya anak itu yang dapat menghentikan kehancuran dan membawa kejayaan dan hanya anak itu pula yang dapat membawa kehancuran daratan itu sendiri. Ingatlah ketika langit diseluruh daratan ditutupi oleh petir 3 warna maka kebangkitan anak itu telah tiba. Menemukan keberadaan anak itu sangat penting untuk masa depan umat manusia.”
“Kurang lebih begitulah isi ramalan yang ada di dalam giok ingatan” ucap Mentri Yan Jie pada Zhen Yuan.
Sayangnya, Zhen Yuan sama sekali tidak berminat menjadi pahlawan. Bahkan untuk menjadi seorang penyelamat dunia membutuhkan pengorbanan yang tak kenal pamrih, itu bukan salah satu sifatnya. Jika ramalan itu benar maka mungkin kehancuran akan dibawa oleh Zhen Yuan.
Zhen Yuan menatap mentri Yan Jie, “Lalu apa hubungannya dengan saya?”
Mentri Yan Jie tersenyum tipis, “Mungkin orang lain tidak mengetahuinya tapi saya tahu bahwa kejadian langit yang berawan gelap itu disebabkan olehmu, walau saya tidak tau mengapa itu terjadi. Jadi seperti yang dikatakan oleh ramalan ini, kau adalah sang penyelamat itu.”
Zhen Yuan tertawa keras mendengar penjelasan Mentri Yan Jie. “Mentri, apakah anda benar- benar berpikir ramalan itu nyata? tidak ada yang mampu membuktikan bahwa ramalan itu benar, sebab itu anda tidak boleh terlalu percaya.”
Tapi mentri Yan Jie tetap bersikukuh, “Zhen Yuan, alasan mengapa saya berada di kerajaan Neteer ini adalah karena ramalan itu. Saya mengorbankan banyak tahun demi tahun disini membuat kultivasi saya tidak mengalami kemajuan. Saya tidak ingin ramalan itu berakhir sia- sia, jika benar ramalan itu tidak terjadi maka saya sendiri yang akan membuatnya terjadi” ucap mentri Yan Jie pada Zhen Yuan.
Zhen Yuan tersenyum kecut, ia melihat tekad yang ada di mata mentri Yan Jie. “Mentri apapun yang anda lakukan dimasa depan, saya tidak berniat untuk ikut campur”
“Baiklah Zhen Yuan, apapun di masa depan jika kau berubah pikiran maka temui saya.” Mentri Yan Jie tersenyum tipis, namun entah mengapa Zhen Yuan dapat merasakan sebuah rencana dan situasi yang rumit akan menghampirinya di masa depan hanya melihat senyuman mentri Yan Jie.
Setelah berbasa- basi sejenak, Zhen Yuan pamit dan melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia tidak lagi berniat untuk berhenti lagi dan langsung menetapkan tujuannya ke Istana Pusat.