
Energi surgawinya melonjak dengan cepat dan membuat ruangan bergetar hebat. Para tamu histeris dan tahu bahwa mereka tidak bisa berlama- lama disana segera keluar menjauh dari inseden. Adapun yang lainnya mereka tetap tenang walau ruangan bergetar.
“Apakah tetua ingin menggunakan kekerasan untuk menekan kami?” Zheng Cho sangat tidak senang. Acaranya hari ini harus berakhir jauh lebih cepat karena sang tetua membuat keributan.
Tidak menjawab pertanyaan Zheng Cho sang tetua malah memerintahkan kelima pengikutnya untuk mengeliling Zheng Cho. “Bunuh dia!”
Seketika itu juga kelima pengikut sang tetua melepaskan energi surgawi mereka. Rupanya mereka berlima memiliki kemampuan untuk mengimbangi kultivator Bijak Maju jika bergabung.
Zheng Cho baru saja ingin melawan namun segera ditekan oleh kelimanya. Untung saja keempat pemimpin dataran yang hadir cepat bertindak dan membebaskan Zheng Cho.
“Kau tidak apa- apa saudara?” Pria paruh baya bertanya dengan khawatir.
“Tidak apa- apa, lebih baik kita hadapi mereka!” Zheng Cho berhasil diselamatkan tepat waktu sehingga ia tidak terluka. Setelah itu Zheng Cho mulai menyerang salah satu pengikut terdekatnya begitupula dengan yang lainnya.
Para tetua lapisan 9 dipimpin oleh Frander menghadapi salah satu pengikut, sementara 3 pemimpin dataran menghadapi 3 pengikut yang tersisa. Sementara Pria paruh baya itu sedang bertarung dengan sengit dengan sang tetua.
Zhen Yuan mengamati dengan tenang pertarungan mereka, sambil memakan anggur yang terhidang dimeja.
“Kekuatan dari mereka masih sangat biasa! Walau mereka kultivator Bijak tapi yayasan mereka masih sangat rapuh. Mungkin tidak ada diantara mereka yang akan melangkah lebih dari ini!” Zhen Yuan menggeleng pelan. Meski begitu, mereka masih merupakan kultivator terkuat di dataran mereka masing- masing.
Tidak lama, pertarungan mereka terhenti ketika Zheng Cho berhasil membunuh salah satu pengikut sang tetua sementara 3 lainnya yang menghadapi para pemimpin dataran juga menderita luka parah.
Sang tetua menyadari posisinya semakin terpojok segera menghentikan serangannya. Pria yang menghadapinya juga mau tidak mau harus berhenti sebab kematian sang tetua akan membuat gurunya bergerak.
Ketika kontrak perjanjian itu hancur, Zheng Cho dan Frander menjadi sangat senang. Bahkan keempat pemimpin dataran mengucapkan selamat kepada keduanya dihadapan sang tetua.
“Bagus sekali! Lihat bagaimana kalian akan menderita setelah hari ini sama seperti leluhur Pencuri Tua itu dulu” Sang tetua mendengus lalu meninggalkan ruangan bersama 4 pengikutnya yang tersisa.
Zheng Cho terkejut ketika mendengar sang tetua menyinggung tentang leluhur pencuri tua. Itu adalah guru sekaligus pemimpin sekte Pencuri Bayangan sebelumnya. Sayang sekali ia tewas karena tidak mampu menghadapi kesengsaraan Surgawi.
Dulu waktu pertama kali Zhen Yuan menginjakkan kaki di dataran Gurun Bandit, mereka telah bersitegang dengan Zheng Cho karena yang terakhir berniat menjadikan mereka persembahan unuk sisa jiwa pencuri tua. Untunglah Zhen Yuan cepat menyadarkannya dan mengatakan jika itu bukanlah cara yang baik dan tidak menjamin jika jiwa pencuri tua akan kembali.
“Kenapa kau menyamakan kami dengan mendiang tuan?” Zheng Cho tidak terima.
Sang tetua berbalik, memasang senyum mengerikan lalu berkata dengan pelan. “Karena saya dan guru tidak akan membiarkan kalian lepas dari genggaman. Kami akan melakukan segala cara untuk membiarkan kalian tetap ada ditangan kami”
Mendengar ucapan sang tetua, Zheng Cho gemetar karena marah. Ia sadar bahwa makna dari perkataan tetua adalah untuk mengancamnya dan juga membuat pengakuan jika ia yang telah membunuh tuannya dimasa lalu.
Zheng Cho teringat jika tuannya mengatakan untuk tidak khawatir. Tuannya telah berhasil menyempurnakan tekniknya menjadi teknik Bijak sehingga ia akan dapat melewati kesengsaraan surgawi dengan sempurna. Belum lagi, ia memiliki konstitusi Bayangan yang dapat membantunya juga.
Itulah sebabnya ketika guru Zheng Cho pergi kesuatu tempat untuk melewati kesengsaraan surgawi, tidak ada seorangpun yang menemaninya. Saat itu sangat mungkin ia mendapatkan serangan dari sang tetua dan tuannya. Hanya ketika di ujung hayatnya, ia mengirimkan pesan tentang lokasi dan keadannya pada Zheng Cho sehingga Zheng Cho dan para tetua dapat menolongnya. Sayang sekali lokasi sangat jauh sehingga Zheng Cho dan para tetua terlambat menyelamatkannya.
Kini setelah Zheng Cho menyadari kebenarannya, ia melepaskan kekuatan Bijak Sejati lalu bergerak menyerang sang tetua. Ia tidak peduli lagi dan ingin membalaskan dendam. Sayang sekali, ia segera ditahan oleh pria paruh baya di dekatnya.