
Menurut kabar yang baru
saja ia dapatkan dari Fadli, tidak semua orang pergi ke kantor polisi. Hanya
beberapa. Lebih tepatnya hanya Zean dan Mike. Sementara Immanuel pergi ke
bandara untuk menjemput Hiraeth. Hari ini adalah hari kepulangannya dari
perjalanan bisnis. Yang jelas bukan bisnis legal.
Ketika semua orang
memiliki kepentingan mereka masing-masing, maka Fadli adalah satu-satunya orang
yang paling bisa diharapkan untuk menjaga markas. Memangnya mau menyuruh siapa
lagi. Agatha sedang tidak berada di sana tadi. Mereka tidak bisa meninggalkan
markas begitu saja tanpa penjagaan. Jika markas unit saja tidak bisa dibiarkan
tanpa penjagaan, maka markas utama pasti memiliki sistem keamanan yang tidak
main-main.
Sampai sekarang gadis
itu masih terus memikirkan bagaimana caranya agar suatu hari ia bisa sampai ke
sana tanpa dicurigai. Pasti ada kamera pengawas dan fasilitas lain yang
mendukung keamanan. Jika tidak berhati-hati dan tidak menyusun taktik lebih
dulu, mungkin pergerakannya akan terbaca dengan mudah.
Pasti markas utama
tidak pernah sepi. Mereka tidak akan meninggalkan tempat penting seperti itu
dalam kondisi apa pun. Paling tidak harus ada satu orang yang berjaga di sana.
Tapi, sepertinya markas utama memang selalu ramai. Sehingga sulit bagi Agatha
untuk menelusuri tempat itu. Padahal ia diminta Arjuna untuk menyelinap masuk dan
mengumpulkan semua bukti dalam jangka
waktu yang terbilang tidak panjang. Mencukupkan waktu dan kesempatan yang
sebenarnya tidak cukup, adalah sebuah tantangan tersendiri baginya.
“Kapan mereka kembali?”
tanya Agatha.
“Entahlah!” jawab pria
itu.
Sepertinya Agatha
memang harus tetap menunggu di sini sampai mereka semua kembali. Baru ia bisa
mengerti situasinya. Agatha harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengorek
setiap informasi penting dari orang-orang di sekitarnya. Dan yang terpenting,
mereka tidak boleh sampai merasa curiga.
***
“Ada berapa orang yang
perlu kita bebaskan?” tanya Zean tanpa mengalihkan pandangannya. Dia perlu
menjaga konsentrasinya saat berkendara jika tidak ingin celaka.
“Empat orang. Tidak
terlalu banyak,” jawab rekan bekerjanya untuk hari ini. Memangnya siapa lagi
jika bukan Mike. Hanya mereka berdua yang ditunjuk oleh Immanuel untuk
menjalankan misi tersebut.
Zean mengangguk paham. Di
dalam kepalanya telah tergambar wajah teman-temannya yang tertangkap kemarin.
Mereka sama sekali tidak menduga jika polisi akan datang. Jadi, tidak ada
persiapan apa pun. Inilah akibatnya kalau tak berhati-hati terhadap kemungkinan
paling buruk.
“Kencangkan sabuk
pengamanmu, aku akan menaikkan kecepatannya!” perintah Zean.
Tanpa menunggu balasan
dari pria itu, Zean langsung menginjak pedal gas. Padahal Mike belum sempat
melaksanakan perintah dari temannya. Beruntung ia tidak kehilangan keseimbangan
saat Zean menaikkan kecepatan mobilnya secara tiba-tiba.
Kendaraan mereka
melesat dengan cepat di jalanan tanpa hambatan. Zean sengaja memilih rute yang
satu ini agar sampai lebih cepat di tempat tujuan.
Sementara itu, di sisi
lain Agatha berusaha untuk tetap menjaga jarak dengan Fadli. Ada sesuatu yang
bersifat rahasia di sini. Agatha sedang mencoba untuk menghubungi Arjuna
melalui pesan singkat. Memberi tahu pria itu jika beberapa mafia akan pergi ke
sana untuk menyelematkan temannya yang tertangkap.
Mereka mungkin tidak
bisa mencegah kehadiran Zean dan Mike. Kedua pria itu sudah berada di tengah
perjalanan saat ini. Tapi, jika Agatha memberi tahu soal info ini lebih cepat,
maka kemungkinan besar dampaknya tidak akan terlalu fatal. Mereka bisa bersiap
lebih dulu. Mengeluarkan semua pertahanan terbaik yang dimiliki.
10.12
Berhati-hatilah. Dua orang mafia sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi
untuk menyelamatkan teman mereka yang tertangkap kemarin.
10.13
Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Sedikit banyaknya pasti akan
10.13
Berhati-hatilah. Lindungi dirimu sendiri. Jangan sampai terluka!
Gadis itu buru-buru
mematikan layar ponselnya setelah selesai. Tentu dengan alasan tak ingin tampak
mencurigakan. Sesaat setelah Arjuna membaca pesannya, Agatha akan langsung
menghapus pesan-pesan tadi.
Tiba-tiba saja, dari
arah luar terdengar suara sepeda motor. Sepertinya pengendara itu memang
sengaja menepikan sepeda motornya di depan markas mereka. Agatha dan Fadli
sontak langsung berdiri. Melihat ke luar jendela. Memastikan jika tidak ada
orang asing yang datang ke markas mereka.
“Itu Immanuel,” ucap Fadli
sesaat setelah mereka berdiri.
Mendengar perkataan
tersebut, Agatha tidak langsung percaya. Dia perlu membuktikannya sendiri
dengan mata kepalanya sendiri agar benar-benar percaya. Ternyata pria itu tidak
sedang berbohong. Itu benar Immanuel.
“Apa dia menjemput
Hiraeth dengan sepeda motor seperti itu?” tanya Agatha kepada Fadli yang
menjadi lawan bicaranya.
“Tidak. Tadi dia pergi
ke markas utama dulu dengan sepeda motor. Kemudian menukar kendaraannya dengan
mobil untuk pergi ke bandara,” jelas Fadli dengan panjang lebar.
“Mana mungkin kau pergi
ke bandara dengan sepeda motor. Mau diletakkan dimana kopernya?” tanya pria itu
di akhir kalimat.
“Aku kan hanya
bertanya. Memangnya salah?!” proter gadis itu.
‘TAP! TAP! TAP!’
Dari arah yang
berlawanan, terdengar suara tapak sepatu yang beradu dengan lantai. Sudah jelas
jika itu milik Immanuel. Semakin lama suaranya terdengar semakin jelas. Itu
berarti jika Immanuel tengah menuju kemari.
“Oh, kau ternyata!”
seru pria itu sambil melirik ke arah Agatha.
Entah itu bentuk sapaan
terhadap dirinya untuk hari ini, atau malah hanya sekedar basa-basi saja.
“Baru sampai?” tanya
pria itu lagi.
“Dia sudah sejak tadi
berada di sini!” jawab Fadli dengan cepat.
Pria itu berhasil
menyerobot lebih dulu. Padahal seharusnya Agatha lah yang menjawab semuanya. Lantas
gadis itu memutar bola matanya malas.
“Nanti malam kita akan
ke markas utama lagi,” ujar Immanuel.
“Untuk apa lagi?
Bukannya kemarin sudah?” tanya Agatha.
“Kau bisa pergi kapan
saja ke sana. Tidak ada aturan khusus,” jelas Fadli yang tampak lebih tahu atas
segalanya.
“Tapi, omong-omong ada
acara apa memangnya di sana?” tanya pria itu kemudian.
“Hiraeth memutuskan
untuk mengadakan acara makan malam bersama di markas utama. Sekaligus sebagai
upacara penyambutan atas kepulangannya,” jelas Immanuel dengan apa adanya.
“Ini adalah
kesempatanmu untuk bertemu dengan seluruh anggota dalam formasi yang lengkap.
Karena semua orang diwajibkan untuk hadir dalam perjamuan makan malam nanti,”
lanjutnya kemudian.
Yang ia maksud di sini
adalah Agatha. Dengan berkumpulnya semua formasi tim mereka pada satu meja
makan, itu adalah sebuah kesempatan besar baginya. Akan sangat sayang kalau
sampai dilewatkan begitu saja.
Agatha
bisa bertemu denga semua orang. Paling tidak pasti ada satu atau dua orang baru
yang akan ia kenal nantinya. Semoga tidak terlalu banyak. Sehingga gadis itu
bisa menyimpannya di dalam memori sedikit lebih lama. Seperti yang semua orang
tahu jika ingatan Agatha kerap kali tidak bisa diandalkan pada saat-saat
tertentu.