
Sejak tadi gadis itu tidak pernah berhenti memikirkan
hal yang sama. Sepertinya setiap hari adalah sebuah kesialan baginya. Entah
kenapa Dewi Fortuna tidak pernah memihak dirinya. Semakin ke sini, ia semakin
yakin jika dirinya sudah dikutuk semesta. Sepertinya dugaan itu benar adanya,
tidak meleset sama sekali. Melainkan tepat mengenai titik sasaran.
Kalau sampai gadis itu
benar-benar mendengar seluruh isi pembicaraan mereka tadi, maka itu berarti
nyawa Agatha sedang berada di dalam bahaya. Semua orang tahu betapa tingginya
jiwa solidaritas para mafia itu. Mereka tidak akan meninggalkan siapa pun dari
timnya tertinggal atau bahkan terancam dalam bahaya. Kecuali jika mereka memang
berkhianat, maka itu berbeda lagi ceritanya.
Agatha tidak pernah
membayangkan jika rencana yang sudah mereka susun dengan sedemikian rupa akan
hancur secara mendadak. Cepat atau lambat, penyamarannya pasti akan terbongkar.
Paling tidak mereka pasti merasa curiga. Agatha tidak bisa terus berpura-pura. Lagipula
dia bukan orang yang pandai dalam bersandiwara. Arjuna telah memilih orang yang
salah untuk misi kali ini.
Sekarang gadis itu
sudah benar-benar pasrah. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya dalam beberapa jam
ke depan. Sejauh ini memang belum ada yag tahu dimana tempat tinggal gadis itu.
Namun, mereka bisa melakukan apa saja. Mencari lokasi terkini Agatha bukanlah
sesuatu yang sulit bagi mereka.
Urusan hidup atau mati,
itu sudah ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang bisa merubah apa lagi sampai
menolak takdir begitu saja. Mereka tentu tidak bisa berbuat apa-apa jika itu
sudah menyangkut urusan takdir. Termasuk Agatha. Ia yang biasanya begitu
ambisius, kini terlihat benar-benar pasrah. Jalan pikirannya sudah buntu. Sepertinya
memang tidak akan pernah ada jalan keluar untuk permasalahan yang satu ini.
“Sebenarnya kesalahan
gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya sebal.
Sampai saat ini, Arjuna
sama sekali belum mengetahui hal tersebut. Tentang sesuatu yang selama ini
dicemaskan olehnya. Kali ini bukan masalah sepele. Melainkan menyangkut
nyawanya sendiri. Tapi, tenang saja. Tidak perlu khawatir. Agatha akan memberi
tahu pria itu secepat mungkin. Bagaimanapun juga, Arjuna ikut terlibat dalam
misi kali ini. Dia berhak tahu segala hal yang menyangkut misi tersebut.
Tanpa pikir panjang,
gadis itu segera meraih ponselnya yang berada di sudut ranjang. Nama Arjuna
adalah yang pertama kali terlintas di kepalanya saat itu. Tidak ada hal lain
yang jauh lebih penting kali ini.
Agatha mendekatkan benda
persegi tersebut ke telinganya. Menunggu seseorang di seberang sana untuk
menjawab teleponnya. Dia sedang harap-harap cemas. Tak pernah tenang sejak
tadi. Bahkan Agatha tak bisa berhenti untuk menggigiti kukunya. Itu adalah satu
kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa ia hindari. Agatha selalu melakukannya
ketika cemas.
“Ayo! Angkat!” gumam
gadis itu.
Sampai
panggilan pertama berakhir secara otomatis, sama sekali tidak ada jawaban. Jangankan
menjawab, diangkat saja tidak. Tapi, Agatha tidak putus asa. Dia tidak akan
berhenti begitu saja. Tidak sampai Arjuna mengangkat teleponnya. Mereka perlu bicara
sekarang juga. Agatha tidak mau merasa cemas sendirian. Jadi, pria itu juga
harus ikut merasakan hal yang sama. Paling tidak Agatha bisa membagi beban
pikirannya kepada pria itu. Mengingat jika mereka bekerja di dalam satu tim
yang sama.