The Riot

The Riot
Call You



Sejak tadi  gadis itu tidak pernah berhenti memikirkan


hal yang sama. Sepertinya setiap hari adalah sebuah kesialan baginya. Entah


kenapa Dewi Fortuna tidak pernah memihak dirinya. Semakin ke sini, ia semakin


yakin jika dirinya sudah dikutuk semesta. Sepertinya dugaan itu benar adanya,


tidak meleset sama sekali. Melainkan tepat mengenai titik sasaran.


Kalau sampai gadis itu


benar-benar mendengar seluruh isi pembicaraan mereka tadi, maka itu berarti


nyawa Agatha sedang berada di dalam bahaya. Semua orang tahu betapa tingginya


jiwa solidaritas para mafia itu. Mereka tidak akan meninggalkan siapa pun dari


timnya tertinggal atau bahkan terancam dalam bahaya. Kecuali jika mereka memang


berkhianat, maka itu berbeda lagi ceritanya.


Agatha tidak pernah


membayangkan jika rencana yang sudah mereka susun dengan sedemikian rupa akan


hancur secara mendadak. Cepat atau lambat, penyamarannya pasti akan terbongkar.


Paling tidak mereka pasti merasa curiga. Agatha tidak bisa terus berpura-pura. Lagipula


dia bukan orang yang pandai dalam bersandiwara. Arjuna telah memilih orang yang


salah untuk misi kali ini.


Sekarang gadis itu


sudah benar-benar pasrah. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya dalam beberapa jam


ke depan. Sejauh ini memang belum ada yag tahu dimana tempat tinggal gadis itu.


Namun, mereka bisa melakukan apa saja. Mencari lokasi terkini Agatha bukanlah


sesuatu yang sulit bagi mereka.


Urusan hidup atau mati,


itu sudah ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang bisa merubah apa lagi sampai


menolak takdir begitu saja. Mereka tentu tidak bisa berbuat apa-apa jika itu


sudah menyangkut urusan takdir. Termasuk Agatha. Ia yang biasanya begitu


ambisius, kini terlihat benar-benar pasrah. Jalan pikirannya sudah buntu. Sepertinya


memang tidak akan pernah ada jalan keluar untuk permasalahan yang satu ini.


“Sebenarnya kesalahan


gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya sebal.


Sampai saat ini, Arjuna


sama sekali belum mengetahui hal tersebut. Tentang sesuatu yang selama ini


dicemaskan olehnya. Kali ini bukan masalah sepele. Melainkan menyangkut


nyawanya sendiri. Tapi, tenang saja. Tidak perlu khawatir. Agatha akan memberi


tahu pria itu secepat mungkin. Bagaimanapun juga, Arjuna ikut terlibat dalam


misi kali ini. Dia berhak tahu segala hal yang menyangkut misi tersebut.


Tanpa pikir panjang,


gadis itu segera meraih ponselnya yang berada di sudut ranjang. Nama Arjuna


adalah yang pertama kali terlintas di kepalanya saat itu. Tidak ada hal lain


yang jauh lebih penting kali ini.


Agatha mendekatkan benda


persegi tersebut ke telinganya. Menunggu seseorang di seberang sana untuk


menjawab teleponnya. Dia sedang harap-harap cemas. Tak pernah tenang sejak


tadi. Bahkan Agatha tak bisa berhenti untuk menggigiti kukunya. Itu adalah satu


kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa ia hindari. Agatha selalu melakukannya


ketika cemas.


“Ayo! Angkat!” gumam


gadis itu.


Sampai


panggilan pertama berakhir secara otomatis, sama sekali tidak ada jawaban. Jangankan


menjawab, diangkat saja tidak. Tapi, Agatha tidak putus asa. Dia tidak akan


berhenti begitu saja. Tidak sampai Arjuna mengangkat teleponnya. Mereka perlu bicara


sekarang juga. Agatha tidak mau merasa cemas sendirian. Jadi, pria itu juga


harus ikut merasakan hal yang sama. Paling tidak Agatha bisa membagi beban


pikirannya kepada pria itu. Mengingat jika mereka bekerja di dalam satu tim


yang sama.