The Riot

The Riot
Are You Mad?



Semesta sudah


membohonginya secara terang-terangan. Isu kepercayaan? Tidak seburuk itu.


Agahta belum sampai ke fase tersebut. Dia hanya tidak ingin terlalu percaya


kepada orang lain. Terkadang, pengkhianatan bisa menyisakan luka traumatis bagi


beberapa orang tertentu. Memangnya siapa yang suka atau bahkan sudi untuk


dikhianati.


“Kapan sidangnya akan


dilaksanakan?” tanya Jeff.


“Entahlah, mungkin


dalam minggu ini,” balas Agatha.


“Aku juga belum


menerima informasi apa-apa,” ungkapnya.


Jeff mengangguk pelan,


untuk mengiyakan perkataan gadis itu.


Sekarang mereka berdua


sudah sampai di kantor. Tepat beberapa menit sebelum jam makan siang. Lagi pula


Agatha dan Jeff juga sudah sepakat untuk langsung kembali ke kantor setelah


urusan mereka selesai. Akan jauh lebih baik lagi kalau mereka sampai sebelum


makan siang. Jadi masih ada sedikit sisa waktu yang bisa digunakan untuk


mengisi energi sebelum pada akhirnya harus pergi lagi.


Setelah ini mereka


memiliki jadwal untuk pergi ke tempat kejadian pekara atau TKP. Beberapa menit


lalu mereka mendapatkan kabar jika ada insiden laka lintas. Tabrak lari lebih


tepatnya. Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya luka berat saja. Korban


langsung dilarikan ke rumah sakit tepat setelah kejadian berlangsung. Sementara


itu, Thomas dan Robi sudah pergi lebih dulu ke sana untuk mengamankan tempat


kejadian. Arjuna kabarnya akan menyusul setelah jam makan siang. Masih ada


beberapa hal yang harus ia kerjakan. Sedangkan Jeff dan Agatha juga akan


menyusul setelahnya. Semua orang tahu kalau mereka berdua baru saja menangani


kasus yang lain tadi. Jadi tidak masalah kalau mereka akan datang beberapa saat


setelahnya. Lagi pula salah satu dari tim mereka juga sudah berada di sana


lebih dulu. Semuanya pasti aman.


“Lakukan segalanya


dengan cepat, karena kita akan langsung pergi ke sana!” perintah Arjuna.


“Baik!” balas Jeff.


Sementara itu, di sisi


lain tampaknya Agatha sama sekali tidak ingin untuk menanggapi perkataan pria


ini, esok dan seterusnya ia akan bicara sepatah kata pun kepada pria itu. Yang


jelas Agatha bisa memastikan kalau mereka tidak akan menjalin komunikasi


apa-apa selama hal tersebut tidak penting. Apalagi tidak berhubungan sama


sekali dengan pekerjaan.


Karena mobil sudah


dibawa oleh Thomas dan Robi pada saat pergi ke tempat kejadian, untuk membawa


beberapa perlengkapan, jadi mau tidak mau sisanya harus pergi ke sana dengan


menggunakan sepeda motor.


“Ini helmnya,” ujar


Arjuna sambil menyodorkan benda tersebut.


“Tidak perlu, aku akan


pergi bersama Jeff saja,” balas gadis itu kemudian berlalu begitu saja.


Seolah tidak ada yang


terjadi sama sekali, Agatha kembali bersikap normal ketika berbicara dengan


Jeff. Sepertinya memang benar jika gadis itu hanya tidak suka kepada Arjuna


seorang saja. Sikapnya langsung berubah. Bukan hanya Arjuna saja yang menyadari


hal tersebut. Sepertinya semua orang juga merasakan hal yang sama.


“Kenapa tidak bersama


Arjuna saja?” tanya Jeff dengan hati-hati.


“Memangnya kenapa? Apa


kau merasa keberatan?” tanya gadis itu balik.


“Tidak sama sekali!”


tepis Jeff dengan cepat.


Dia tidak mau kalau


sampai ada kesalah pahaman yang terjadi di sini. Apalagi jika harus berurusan


dengan Agatha. Sekali kau mencari masalah dengannya, maka jangan heran kalau


Agatha akan memasukkan namamu ke dalam blacklist.


“Kalau begitu tunggu


apa lagi?” tanya Agatha.


“Iya-iya, sebentar!”


balas Jeff kemudian menyalakan mesin sepeda motornya.


Mereka


harus segera pergi ke tempat kejadian pekara untuk membantu Thomas dan Robi.


Seharusnya sebagai sebuah tim mereka pergi dam melakukan segalanya


bersama-sama. Tapi, karena satu dan lain hal terpaksa harus begini. Tidak apa.


Itu bukan maslaah yang serius.