The Riot

The Riot
Sister



Aaron menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar


yang menopang bangunan ini. Sesekali ia menghela napasnya dengan kasar. Ia


masih tidak menyangka jika sekarang keluarga kecilnya yang dulu diduga akan harmonis,


kini malah berakhir tragis. Sepertinya semesta memang tidak merestui


hubungannya dengan wanita itu.


Di satu sisi Aaron merasa kasihan. Karena bagaimanapun


ia merupakan anak kandung dari pria itu. Mereka masih memiliki hubungan darah


yang cukup kuat antara satu sama lain. Aaron tidak penah benar-benar membenci


pria yang selama ini ia sebut sebagai ayah. Pasti, sekurang-kurangnya masih ada


sedikit rasa kasih sayang yang tersisa di dalam dirinya.


Tapi, tetap saja Aaron tidak bisa membenarkan


perbuatannya. Dengan berkhianat pada seseorang yang begitu mencintainya adalah


kebuah kesalahan fatal. Mungkin semesta sudah mengutuknya sekarang. Hingga


sampai detik ini ia sama sekali tidak pernah merasakah kebahagiaan yang


sesungguhnya.


Sampai sekarang Aaron masih belum bisa memaafkan


pria tersebut. Terlepas dari rasa penyesalan ayahnya kini. Ada dua kemungkinan.


Yang pertama mungkin ia menyesal, atau malah sebaliknya. tidak ada yang tahu.


“Pasti anaknya ninggalin dia karena enggak tahan


juga dengan kelakuan bokapnya,” ujar Aaron dengan begitu santainya.


“Maksud lo?” tanya Mico. Kini gilirannya yang


mengajukan pertanyaan.


“Bokap gue bukan tipikal orang yang suka kalau


perintahnya di bantah. Dia bahkan neggak akan segan-segan untuk melakukan


kekerasa fisik sama orang yang udah berani-beraninya membantah perintah dia,”


jelas Aaron dengan panjang lebar.


Menjadi salah satu orang yang sempat tinggal bersama


pria itu selama beberapa tahun, tentu bukan sesuatu yang mengejutkan lagi jika


Aaron tahu segalanya. Bahkan tidak terkecuali terhadap sikap buruk pria itu.


Terlepas dari statusnya yang merupakan ayahnya atau bukan. Sesuatu yang salah


tetap saja salah. Tidak bisa dibenarkan. Aaron bicara dengan jujur kali ini.


Semua yang barusaja dikatakannya adalah fakta. Ia tidak sedang mengada-ngada.


“Apa dia pernah melakukan kekerasan?” tanya Mico


dengan hati-hati.


Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung


soal keburukan ayah sahabatnya. Apalagi sampai menuduh pria itu yang


tidak-tidak. Tapi, tidak ada salahnya untuk bertanya bukan?


“Menurutmu siapa yang membuat kepribadianku menjadi


seperti ini sekarang?” tanya Aaron balik.


Namun bagi lawan bicaranya, pertanyaan tersebut


malah menjawab pertanyaan lain yang sempat ia ajukan sebelumnya.


“Pantas saja,” batin pria itu di dalam hati.


Setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya perkataan


Aaron ada benarnya juga. Bukan hanya pola asuh kedua orang tua saja yang


berpengaruh terhadap perilaku anak mereka. Melainkan sifat turunan. Setiap manusia


pasti mewariskan setidaknya satu atau dua sifat genetik kepada keturunan mereka


nanti.


“Ternyata kau sama kerasnya dengan saudara tirimu,”


ungkap Mico.


“Tunggu dulu!” cegah Aaron.


“Sejak tadi kau terus saja membicarakan soal saudara


tiriku, tapi tidak pernah memberi tahu siapa dia,” protes pria itu tak terima.


“Baiklah, akan kuberi tahu,” balas Mico.


“Tapi terserah kepadamu mau percaya atau justru


tidak sama sekali,” katanya.


Pria itu kemudian beralih merogoh saku celananya. Ia


mengambil ponsel miliknya. Berkutat dengan beda berbentuk persegi itu sebentar,


sepertinya ia sedang mencari sesuatu yang cukup untuk dijadikan bukti.


“Ini! Lihatlah!” celetuk pria itu sembari


menyodorkan ponselnya.


terkejutnya pria itu ketika mendapati foto orang-orang yang ia kenal berada


dalam satu bingkai di sana. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Aaron


tercengang tak percaya.


Di dalam foto itu ada ayahnya, wanita yang menjadi


selingkuhannya serta yang paling terakhir adalah yang paling sulit untuk


dipercaya menurutnya.


“Agatha?” gumam pria itu dengan suara bergetar.


Tidak. Ini pasti omong kosong. Mereka pasti sedang


berbohong. Bagaimana mungkin jika gadis itu adalah saudara tirinya. Lagipula berfoto


di dalam satu bingkai yang sama bukan berarti mereka memiliki hubungan darah. Hal


tersebut tidak menjamin sama sekali. Namun, jika dilihat secara baik-baik, foto


ini persis seperti foto keluarga pada umumnya.


“Tidak mungkin!” ucap Aaron.


“Tadi sudah kukatakan jika mau percaya atau tidak,


itu urusanmu,” peringati pria itu sekali lagi.


“Kau berbohong kan?!” pekik Aaron.


“Foto ini pasti editan! Dari mana kau


mendapatkannya?!” bentaknya dengan suara yang lebih tinggi.


Sontak keributan itu berhasil menarik atensi


teman-temannya yang lain. Beberapa orang datang menghampiri mereka untuk


mencari tahu apa yang sedang terjadi. Pasalnya, tadi kedua pria ini tampak


baik-baik saja. Namun, kenapa mendadak mereka jadi nyaris bertengkar seperti


ini.


“Hei!”


“Ada apa?”


“Apa yang terjadi?”


“Kenapa ini?”


Bukannya menjawab pertanyaan yang mendadak


bermunculan itu, Aaron dan Mico malahs aling melempar pandangan antara satu


sama lain. Sorot mata keduanya berubah jadi tajam. Seolah siap untuk menyerang.


Namun, sepertinya memang ada maksud lain. Tidak ada yang tahu apa makna


tersembunyi dari sorot mata mereka.


“Aku tidak sedang berbohong. Lagi pula memangnya


untuk apa aku berbohong?” ucap Mico sebagai bentuk pembelaan atas dirinya


sendiri.


“Foto itu kudapatkan dari akun sosial media lamanya.


Kalau kau mau, aku mengirimkan nama penggunanya. Jadi, silahkan cek sendiri


sampai kau percaya,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Sementara itu, Aaron hanya mendengus sebal. Kenapa isi


kepalanya mendadak jadi ramai begini. Terlalu berisik. Untuk yang kesekian


kalinya kedua tim di dalam dirinya saling berselisih paham. Ia tidak pernah


benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


“Aarghrr!!! Dasar!” teriak Aaron dengan geram. Ia bahkan


mengepal kedua tangannya kuat-kuat karena emosi.


Tanpa berpamitan sama sekali, pria itu buru-buru


pergi dari sana. Meninggalkan semua orang yang berada di belakangnya. Ia berusaha


untuk bersikap bodo amat dan tidak peduli sama sekali. Seolah barusan tidak


terjadi apa-apa.


Emosinya sedang tidak satabil saat ini. Akan menjadi


sangat berbahaya jika Aaron memutuskan untuk pergi berkendara. Semua orang tahu


jika ia suka memacu kendaraannya di jalan raya dengan kecepatan tinggi. Bahkan pria


itu selalu melakukan hal serupa setiap hari. Jika suasana hatinya sedang tidak


baik-baik saja seperti ini, maka tidak menutup kemungkinan jika ia akan


berkendara dengan kecepatan penuh. Tidak peduli jika ia telah melanggar salah


satu peraturan dalam berkendara dan juga peraturan lalu lintas.


Jangankan untuk


memilikirkan hal lain. Urusan yang tadi saja belum bisa pergi dari dalam


otaknya. Sepertinya Aaron perlu segera menjernihkan pikirannya kembali.