The Riot

The Riot
Pengadilan



Setelah mengumpulkan


pendapat dari semua peserta rapat, pada akhirnya diputuskan untuk menyelidiki


kasus ini sementara di Indonesia. Mengingat suara terbanyak untuk saat ini


adalah suara yang meminta mereka untuk tetap ditugaskan di Indonesia. Lagi pula


sejauh ini masih belum ada kejelasan dari kasus tersebut. Hongkong begitu luas.


Mereka tidak mungkin menyisir tempatnya secara satu-persatu. Terlalu memakan


waktu dan sangat tidak efektif.  Pelakunya terus berusaha untuk menunjukkan Hongkong. Tapi, mereka tidak


pernah tahu ada apa di sana. Yang mereka tahu hanya Hongkong.


Jadi, untuk sementara


waktu mereka memutuskan agar tetap berada di Indonesia dan menyelidiki kasus


ini lebih dalam. Siapa tahu jika pelaku belum benar-benar berhenti. Untuk berjaga-jaga


kalau sampai ada kasus baru lagi.


Pada intinya, mereka


tidak bisa berangkat ke Hongkong tanpa ada persiapan. Hal pertama yang


dibutuhkan adalah data yang mendukung. Sejauh ini data mereka masih belum


cukup. Tidak ada kepastian. Tingkat keakuratannya masih sangat lemah. Mereka perlu


berkerja lebih keras lagi untuk mengumpulkan semua hal yang diperlukan.


“Kalau begitu, kukira


rapat kita hari ini cukup sampai di situ saja,” tutup Arjuna.


Tidak ada yang perlu


dibahas lagi. Sepertinya mereka sudah membahas semua hal yang berkaitan dengan


kasus pembunuhan berantai tersebut. Kalau pun ada sesuatu yang dirasa sedikit


mencurigakan dan mengganjal, mereka bisa kembali mendiskusikannya kapan saja.


“Tapi, satu yang harus


kita semua ingat!” celetuk pria itu secara tiba-tiba.


“Tetap jaga kekompakan


tim kita dan bersikaplah professional saat sedang bekerja,” ungkapnya secara


gamblang.


“Terutama saat sedang


menangani kasus-kasus besar seperti ini,” finalnya.


Semua orang mengangguk


untuk mengiyakan perkataan pria itu. Terkecuali Agatha. Sepertinya hanya gadis


itulah satu-satunya orang yang tampak tidak memberikan respon apa pun kepada


ucapan Arjuna barusan. Alih-alih menanggapi hal tersebut, Agatha malah memutar


bola matanya dengan malas. Ia tahu jelas kalau saat ini Arjuna tengah berusaha


untuk menyindir dirinya.


“Apa menurutmu aku tidak


professional saat bekerja?” gerutu Agatha di dalam hati.


Hampir saja ia


mengucapkan sumpah serapah di dalam hatinya. Agatha nyaris mengutuk seorang


pria yang sedang berada di hadapannya saat ini secara diam-diam. Beruntung gadis


itu masih waras. Kalau tidak, sudah habis Arjuna di sini.


“Jadi, apa kami sudah


bisa kembali ke meja kerja kami masing-masing?” tanya Agatha yang tiba-tiba


buka suara.


“Lagi pula rapatnya


sudah selesai, bukan?” tanya gadis itu lagi.


Arjuna mengangguk pelan


untuk mengiyakan perkataan gadis itu. Apa yang barusan dikatakan oleh Agatha


tadi ada benarnya juga. Tidak salah sama sekali. Mereka memang harus segera


kembali bekerja. Ada banyak hal yang harus diselesaikan. Jadi, tidak ada alasan


lagi untuk berlama-lama lagi berada di ruangan ini.


“Baiklah, karena


rapatnya sudah selesai kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing!” ucap


Arjuna.


“Silahkan kembali


bekerja!” pungkasnya.


Satu detik setelahnya


semua orang tampak mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka langsung


membubarkan diri begitu saja. Setelah keluar dari ambang pintu, semua orang


langsung pergi ke arah yang berbeda. Mereka semua adalah orang sibuk yang


memiliki urusan masing-masing setiap kali datang ke kantor. Tidak ada waktu


untuk bicara, kecuali pada saat jam istirahat.


‘DRRTTT!!!!’


Mendadak ponsel Agatha


bergetar pelan saat akan kembali ke ruangannya. Sontak gadis itu langsung


menghentikan langkah di saat yang bersamaan untuk menjawab panggilan tersebut.


“Nomer tidak dikenal,”


gumamnya setelah melihat layar ponsel sekilas.


lagi, Agatha langsung menjawab panggilan tersebut. Ia sama sekali tidak merasa


curiga dengan panggilan masuk itu. Meski datang dari nomer yang tidak di kenal.


“Halo, dengan Ibu


Agatha?” sapa si penelepon lebih dulu.


“Iya, benar. Dengan


siapa saya bicara sekarang?” tanya Agatha balik.


Untuk beberapa saat si


penelepon bungkam. Lalu kemudian mulai bicara kembali.


“Kami ingin


menindaklanjuti kasus yang anda ajukan ke pengadilan kemarin,” ungkapnya.


“Oh, iya. Saya ingat,”


kata Agatha.


Gadis itu sepertinya


langsung tahu, soal kasus apa yang dimaksud oleh si penelepon tadi. Memangnya apa


lagi. Sejauh ini Agatha hanya melaporkan satu kasus ke pengadilan. Yang tidak


lain dan tidak bukan adalah perihal perbuatan Liora kepadanya beberapa waktu


lalu. Agatha sama sekali tidak dapat mentoleransi apalagi menerima hal


tersebut. Menurutnya itu sudah kelewatan batas. Keterlaluan.


Agatha hampir meregang


nyawa karenanya. Ini adalah sebuah pembunuhan yang direncanakan. Bukan satu


kali Liora mencoba untuk membunuhnya. Tapi terhitung sampai tiga kali sejauh


ini.


“Sidangnya akan


dilaksanakan dua hari lagi. Jadi, kami meminta anda untuk hadir pada saat


persidangan dengan tepat waktu,” ujar sebuah suara yang berasal dari seberang


sana.


“Baiklah, saya pasti


akan datang!” balas Agatha dengan yakin.


“Tapi, kalau boleh tahu


bagaimana dengan terdakwa?” tanya gadis itu.


Dia hanya ingin


memastikan apakah Liora akan datang atau tidak pada saat persidangan sedang


berlangsung. Mari kita lihat seberapa besar nyalinya untuk mempertanggung


jawabkan semua perbuatannya selama ini.


“Beliau sudah mengonfirmasi


untuk hadir pada saat sidang nanti,” kata si penelepon.


“Baiklah kalau begitu. Terima


kasih banyak atas informasinya,” balas Agatha.


Sekarang setidaknya ia


sudah bisa bernapas lega. Mengetahui Liora tidak akan mencoba untuk menghindar


dari masalah ini, sudah cukup untuk membuatnya tenang. Tapi, meski sudah


mengonfirmasi kehadirannya pada saat sidang nanti, tetap saja Agatha masih


belum bisa percaya. Tahu sendiri seperti apa wanita yang bernama Liora itu.


“Aku tidak bisa


memegang perkataannya sepenuhnya,” gumam Agatha sambil menyelipkan ponsel


tersebut di dalam sakunya.


“Wanita itu benar-benar


licik,” ucap gadis itu.


Agatha


menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia


bertemu orang seperti Liora di dalam hidupnya. Wanita itu bahkan sudah mencari


masalah dengannya pada saat pertama kali kenal. Di awal saja ia sudah


menciptakan kesan buruk kepada Agatha. Gadis itu sama sekali tidak bisa


membayangkan akan jadi seperti apa nantinya jika mereka berdua terpaksa tinggal


dalam satu atap.


“Aku tidak akan pernah tinggal


bersama mereka!” tegas gadis itu sekali lagi kepada dirinya sendiri.


Agatha tidak pernah


main-main. Sejauh ini ia cukup berpegang teguh pada pendiriannya sendiri. Terutama


jika itu soal hal yang serius.


Tidak masalah jika


Narendra akan menikah dengan wanita itu. Agatha tidak mempermasalahkan hal


tersebut sama sekali. Bahkan mereka bisa menikah tanpa meminta persetujuan


Agatha. Dan yang terpenting, Agatha tidak akan mencoba untuk menghalang-halangi


hubungan mereka.


Yang


jelas, Agatha tidak akan mau terlibat sama sekali dalam urusan kedua manusia


tersebut. Lebih tepatnya ia memang tidak ingin ikut campur.