
Agatha sama sekali tidak menghiraukan permintaan wanita itu
untuk bicara kini. Alih-alih mengurusi hal tidak penting seperti itu, akan jauh
lebih baik kalau ia mengurusi pekerjaannya sendiri. Berkas-berkas yang sudah
menumpuk di atas meja itu butuh perhatian lebih sebelum semakin banyak.
“Aku bilang tunggu!” teriak Liora.
Wanita itu mendadak kesal karena calon anak tirinya itu
tidak mau mendengarkan perkataannya sama sekali. Memang untuk saat ini Liora
bukan ibunya. Wanita itu hanya akan segera menjadi ibunya. Jadi, Liora sama
sekali tidak memiliki hak untuk mengatur gadis ini. Terlepas dari status wanita
itu yang sudah atau belum menjadi ibu sambungnya. Kalau Liora berpikir jika
nanti gadis itu akan menuruti semua perintahnya, maka ia salah. Agatha bukan
tipikal orang yang mudah dekat dengan orang lain. Apa lagi kalau itu orang
asing.
Agatha hanya bungkam. Dia sama sekali tidak ingin membalas
perkataan wanita itu. Sungguh memuakkan. Agatha memutar bola matanya dengan
malas, kemudian pergi begitu saja. Ia akan memanggil petugas keamanan untuk
mengusir wanita itu. Meskipun Agatha bisa melakukan hal itu sendiri tentunya,
tapi ia terlalu tidak sudi. Ia memang selalu begini. Menjaga jarak dengan
orang-orang yang tidak ia sukai. Itu adalah salah satu cara untuk menghidar
dari masalah.
Di sisi lain, Liora yang tidak terima diacuhkan seperti ini
berusaha untuk menghentikan gadis itu dan menyit perhatiannya. Liora menyusul
langkah Agatha. Namun tetap saja tertinggal, karena ia menggunakan high heels. Sepatu
dengan jenis tersebut membuatnya sulit untuk bergerak dengan leluasa.
“Siapa yang mengizinkan dia untuk masuk ke dalam
ruanganku?!” interupsi Agatha begitu sampai di pos keamanan.
“Aku yang mempersilahkannya untuk masuk dan menunggumu di
sana!” sahut seseorang dari arah belakang.
lagi-lagi mendapati Arjuna di sana. Sebenarnya apa mau pria itu. Kenapa selalu
saja mencari masalah dengannya. Apa hidupnya sudah terlalu tenang,
sampai-sampai ia begitu hobi mencari masalah. Sedangkan hal yang sebaliknya
terjadi pada gadis ini.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Agatha tanpa basa-basi.
“Mengizinkan orang asing untuk masuk ke dalam ruanganku
tanpa seizinku,” timpalnya.
“Dia bukan orang asing. Aku yakin kalau kau tahu itu. Dan
yang terpenting, asal kau tahu saja kalau aku tidak butuh izin apa pun darimu.
Termasuk untuk mengakses ruangan kerjamu,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Agatha menghela napas panjang sambil menyugar rambutnya ke
belakang. Pria itu sepertinya benar-benar sedang berusaha untuk memancing
emosinya saat ini. Tidak, dia tidak boleh hanyut dalam permainan.
“Aku tidak terlalu terkejut sebenarnya. Karena memang
beberapa pemimpin tidak memiliki sikap yang terlalu baik. Contohnya dirimu,”
sarkas Agatha secara gamblang.
Ia sama sekali tidak takut dengan berbagai ancaman yang
diperkirakan akan keluar dari mulut pria itu.
“Jadi, kau berani menyela atasanmu sekarang ya?” tanya
Arjuna tak terima.
“Aku hanya mengatakan apa yang perlu ku katakan,” balas
Agatha dengan santai.
“Lakukan saja semaumu, maka aku juga akan melakukannya
semauku,” timpal gadis itu.
Jangan pernah beranggapan kalau Agatha akan mudah menyerah. Tidak sama sekali. Dia bukan tipikal orang yang seperti itu. Sekali berurusan dengan gadis itu, maka ia tidak kaan melepaskanmu dengan mudah. Lagi pula memangnya siapa yang menyuruh untuk mencari masalah dengan Agatha.
***