The Riot

The Riot
The Riot in Office



Agatha sama sekali tidak menghiraukan permintaan wanita itu


untuk bicara kini. Alih-alih mengurusi hal tidak penting seperti itu, akan jauh


lebih baik kalau ia mengurusi pekerjaannya sendiri. Berkas-berkas yang sudah


menumpuk di atas meja itu butuh perhatian lebih sebelum semakin banyak.


“Aku bilang tunggu!” teriak Liora.


Wanita itu mendadak kesal karena calon anak tirinya itu


tidak mau mendengarkan perkataannya sama sekali. Memang untuk saat ini Liora


bukan ibunya. Wanita itu hanya akan segera menjadi ibunya. Jadi, Liora sama


sekali tidak memiliki hak untuk mengatur gadis ini. Terlepas dari status wanita


itu yang sudah atau belum menjadi ibu sambungnya. Kalau Liora berpikir jika


nanti gadis itu akan menuruti semua perintahnya, maka ia salah. Agatha bukan


tipikal orang yang mudah dekat dengan orang lain. Apa lagi kalau itu orang


asing.


Agatha hanya bungkam. Dia sama sekali tidak ingin membalas


perkataan wanita itu. Sungguh memuakkan. Agatha memutar bola matanya dengan


malas, kemudian pergi begitu saja. Ia akan memanggil petugas keamanan untuk


mengusir wanita itu. Meskipun Agatha bisa melakukan hal itu sendiri tentunya,


tapi ia terlalu tidak sudi. Ia memang selalu begini. Menjaga jarak dengan


orang-orang yang tidak ia sukai. Itu adalah salah satu cara untuk menghidar


dari masalah.


Di sisi lain, Liora yang tidak terima diacuhkan seperti ini


berusaha untuk menghentikan gadis itu dan menyit perhatiannya. Liora menyusul


langkah Agatha. Namun tetap saja tertinggal, karena ia menggunakan high heels. Sepatu


dengan jenis tersebut membuatnya sulit untuk bergerak dengan leluasa.


“Siapa yang mengizinkan dia untuk masuk ke dalam


ruanganku?!” interupsi Agatha begitu sampai di pos keamanan.


“Aku yang mempersilahkannya untuk masuk dan menunggumu di


sana!” sahut seseorang dari arah belakang.


lagi-lagi mendapati Arjuna di sana. Sebenarnya apa mau pria itu. Kenapa selalu


saja mencari masalah dengannya. Apa hidupnya sudah terlalu tenang,


sampai-sampai ia begitu hobi mencari masalah. Sedangkan hal yang sebaliknya


terjadi pada gadis ini.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Agatha tanpa basa-basi.


“Mengizinkan orang asing untuk masuk ke dalam ruanganku


tanpa seizinku,” timpalnya.


“Dia bukan orang asing. Aku yakin kalau kau tahu itu. Dan


yang terpenting, asal kau tahu saja kalau aku tidak butuh izin apa pun darimu.


Termasuk untuk mengakses ruangan kerjamu,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Agatha menghela napas panjang sambil menyugar rambutnya ke


belakang. Pria itu sepertinya benar-benar sedang berusaha untuk memancing


emosinya saat ini. Tidak, dia tidak boleh hanyut dalam permainan.


“Aku tidak terlalu terkejut sebenarnya. Karena memang


beberapa pemimpin tidak memiliki sikap yang terlalu baik. Contohnya dirimu,”


sarkas Agatha secara gamblang.


Ia sama sekali tidak takut dengan berbagai ancaman yang


diperkirakan akan keluar dari mulut pria itu.


“Jadi, kau berani menyela atasanmu sekarang ya?” tanya


Arjuna tak terima.


“Aku hanya mengatakan apa yang perlu ku katakan,” balas


Agatha dengan santai.


“Lakukan saja semaumu, maka aku juga akan melakukannya


semauku,” timpal gadis itu.


Jangan pernah beranggapan kalau Agatha akan mudah menyerah. Tidak sama sekali. Dia bukan tipikal orang yang seperti itu. Sekali berurusan dengan gadis itu, maka ia tidak kaan melepaskanmu dengan mudah. Lagi pula memangnya siapa yang menyuruh untuk mencari masalah dengan Agatha.


***