The Riot

The Riot
Meet Her



Hari ini sepulang bekerja ia tidak langsung pergi ke tempat


tinggalnya, melainkan pergi ke tempat lain. Tidak, kali ini bukan kolong


jembatan itu lagi. Ada tempat yang ternyata jauh lebih baik untuk menenangkan


pikirannya. Dan yang terpenting ia tidak akan sendirian nantinya. Baru kali ini


Agatha menjumpai seseorang yang mau menawarkan dirinya secara sukarela untuk


menjadi tempat berkeluh kesah gadis ini. Entah manusia jenis apa dia. Mungkin


bukan manusia, lebih tepatnya malaikat berwuju manusia.


Beberapa hari yang lalu, Agatha dan Dokter Viona sempat


saling bertukar nomer telepon. Bermula dari wanita itu yang begitu antusias.


Sepertinya Dokter Viona memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap gadis


itu. Ada sesuatu dari Agatha yang cukup untuk menarik perhatiannya.


Sampai-sampai ia tidak bisa berpaling dari gadis itu.


Kemarin Dokter Viona mengajaknya untuk pergi ke salah satu


café dan berbagi cerita di sana sepulang dari kantor. Sebenarnya ia bisa saja


menolaknya. Mengingat jadwal Dokter Viona yang lumayan padat. Terkadang ia sama


sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa orang penting nan sibuk seperti


dirinya masih mementingkan Agatha. Yang pada kenyataannya gadis itu bukan


siapa-siapa. Kalau saja mereka tidak bertemu di rumah sakit pada waktu itu,


Agatha pasti tidak akan mengenal Dokter Viona. Mungkin hal yang sama belum


tentu berlaku bagi Dokter Viona. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi


sebelumnya. Sebelum mereka saling bertemu lebih tepatnya.


Ternyata Dokter Viona sudah sampai lebih dulu di café. Buktinya


ketika Agatha datang, ia sudah mengambil tempat duduk di meja yang mereka


maksud. Awalnya gadis itu berpikri kalau dirinya sudah terlambat dan membuat


Dokter Viona menunggu terlalu lama. Tapi, ternyata setelah memeriksa jam


tangannya lagi, ia sama sekali tidaak terlambat. Sepertinya memang Dokter Viona


yang ingin sampai lebih dulu. Tapi tetap saja, di sisi lain ia merasa tidak


enak. Agatha telah membuat orang penting menunggunya. Padahal posisinya bukan


ini mereka maksud. Ternyata posisimu saat ini bisa mempengaruhi bagaimana


pandangan orang lain terhadap dirimu.


“Maaf karena telah membuatmuu terlalu lama menunggu,” ucap


Agatha begitu sampai.


“Ah, tidak perlu minta maaf!” tepis Dokter Viona.


“Aku juga baru sampai di sini beberapa menit yang lalu,”


tambahnya.


Tampaknya wanita itu sama sekali tidak mempermasalahkan soal


tersebut. Bahkan jika Agatha sungguhan terlambat sekalipun ia sama sekali tidak


akan merasa keberatan.


Dokter Viona langsung mempersilahkan Agatha untuk duduk.


Kemudian mereka memesan minuman dengan makanan pendampingnya. Sebenarnya, hari


ini Dokter Viona tidak hanya ingin mengajak Agatha untuk melepas beban


pikirannya saja. Meskipun itu adalah salah satunya, tapi masih ada yang lebih


penting lagi. Hal yang menjadi alasan utama kenapa Dokter Viona mengajaknya


kemari.


Mereka akan membicarakan hal yang cukup serius. Tidak hanya


bagi Dokter Viona saja. Tapi, sepertinya hal ini akan sama seriusnya untuk


Agatha. Keduanya perlu saling tahu soal hal ini.


“Bagaimana harimu tadi?” tanya Dokter Viona sebagai pembuka.


“Ah, baik-baik saja,” bohong Agatha.


Jelas saja gadis itu tidak akan


bicara yang sejujurnya tentang kejadian di kantor tadi. Sungguh memalukan. Hal


seperti itu tidak pantas untuk dibagikan kepada orang lain. Apalagi mereka


belum terlalu dekat. Hubungannya dengan Dokter Viona hanya sebagai pasien


dengan dokter. Tidak lebih. Sungguh hanya sekedar itu saja.