The Riot

The Riot
Bakery



“Rienna pergi ke toko


roti. Sepertinya dia memang ingin membeli roti saja,” ujar salah seorang pria


yang sedang melakukan panggilan dengan Immanuel.


Dia sengaja menggunakan


headset nirkabel agar lebih mudah dan juga praktis. Dugaan gadis itu yang


sebelumnya ternyata benar. Intuisinya memang kuat. Immanuel  mengirim seseorang untuk membuntuti kemana


saja gadis itu pergi setelah dari sini. Untuk mendukung kecurigaannya. Apakah


benar jika Agatha itu mata-mata atau bukan.


Setelah berkeliling


toko roti selama kurang lebih lima menit, akhirnya Arjuna sampai. Pria itu


langsung menghampiri Agatha. Mereka masih bersikap seolah-olah tidak saling


mengenal. Dan dalam hitungan ketiga, flashdisk tersebut berhasil di serahkan


kepada Arjuna tanpa kendala. Dan yang terpenting tidak ada yang merasa curiga


sama sekali.


Karena sudah terlanjur


masuk ke dalam toko roti, Arjuna mau tak mau terpaksa membali sepotong roti. Bukan


karena ia lapar atau sedang ingin makan roti. Tapi, hanya untuk mengurangi


tingkat kecurigaan orang-orang di sekitarnya.


Mata-mata yang


dikirimkan oleh Immanuel untuk mengawasi gadis itu tidak berada dalam jarak


yang dekat. Mungkin mereka sekarang terpaut jarak sekitar sepuluh meter. Jadi,


dengan begitu ia tidak mungkin bisa melihat segalanya dengan jelas. Apalagi secara


mendetail. Terlebih sekarang objek yang menjadi sasarannya tengah berada di


pusat keramaian.


Setelah melaksanakan


apa yang perlu ia lakukan, Agatha langsung pergi ke rak lainnya untuk mencari


roti. Kali ini bukan karena skenario. Dia memang benar-benar lapar. Lagi pula


sekarang sudah memasuki jam makan siang. Kebetulan sekali ia sedang berada di


toko roti. Jadi, kenapa tidak membeli satu atau dua potong untuk mengganjal


perutnya.


Tampaknya Arjuna sudah pergi


lebih dulu. Batang hidungnya sama sekali tidak terlihat di sini. Pria itu


langsung pergi begitu saja setelah urusannya selesai. Memangnya untuk apa juga


ia berlama-lama di sini. Agatha juga akan melakukan hal yang sama nanti. Dia akan


langsung pergi begitu semua urusannya selesai.


Setelah mendapatkan apa


yang ia inginkan, gadis itu buru-buru pergi ke kasir. Selagi antriannya masih


kosong. Kalau nanti sudah mengular, ia akan menunggu lebih lama lagi. Kalian


tahu sendiri kalau gadis itu bukan tipikal orang yang bisa menunggu. Barang sebentar


saja. Beruntung ia bergerak cepat, sehingga bisa mendapatkan posisi paling


depan. Sementara orang-orang yang lainnya terpaksa harus mengantri di belakang


gadis itu.


“Hanya ini saja mbak?”


tanya si petugas kasir yang kemudian diangguki oleh gadis itu.


“Kalau begitu totalnya


empat puluh lima ribu rupiah ya,” ujarnya kemudian.


Tepat sebelum proses


pembayaran, Agatha sudah menyiapkan selembar uang pecahan lima puluh ribu


rupiah sebelumnya. Jadi, sekarang ia hanya perlu menunggu kembaliannya saja.


“Terima kasih telah


berkunjung ke toko kami!” ucap si kasir.


Sementara itu Agatha


hanya membalasnya dengan senyuman tipis saja. Tepat setelah Agatha pergi, gadis


itu kembali melayani pelanggan lainnya. Tapi, tunggu dulu. Mendadak Agatha


teringat akan sesuatu. Sontak gadis itu langsung menghentikan langkah kakinya


dan menoleh ke belakang untuk memastikan.


“Petugas kasir itu, aku


seperti pernah melihatnya,” gumam Agatha sambil tetap berusaha untuk mengingat.


Ia tahu kalau terkadang


ingatannya tidak bisa diandalkan. Terutama pada saat-saat genting seperti itu.


“Entahlah, aku tidak


tahu!” pasrahnya lalu menggidikkan bahu.


Ia tidak ingin ambil


pusing soal hal-hal seperti itu. Sama sekali tidak penting. Jadi untuk apa


Agatha memilih untuk


pergi ke salah satu café yang ada di dekat sana sendirian. Masih di mall yang


sama. Sehingga ia tidak perlu berpindah tempat terlalu jauh. Tidak ada hal lain


yang ingin ia lakukan selain menikmati kesendiriannya. Bukankah setiap orang


juga berhak untuk memiliki waktu dengan dirinya sendiri.


Agatha perlu memikirkan


cara lain untuk membuat posisinya tetap aman. Menghilangkan rasa kecurigaan


mereka dan mengembalikan rasa percaya. Itu adalah poin terpenting sekaligus


poin yang tersulit untuk dilakukan. Sambil menikmati kopi dan roti yang baru


saja ia beli tadi, Agatha tidak berhenti memikirkan soal hal yang sama.


Ini masalah serius. Tidak


bisa dianggap sepele, apalagi sampai ditunda ke nanti-nanti. Mau bagaimana


lagi. Agatha harus begerak lebih cepat dari pada mereka. Mengantisipasi dan


berjaga-jaga adalah hal yang wajib ia lakukan sebelum kembali lagi ke markas.


“Dia terlihat sendirian


saja dari tadi bos!”


“Setelah dari toko


roti, dia pergi ke café dan duduk sendirian. Seperti melamun.”


“Apa kau tidak melihat


ada yang aneh dengannya? Apa dia tidak bertemu dengan seseorang?”


“Tidak bos! Bisa


kupastikan soal yang satu itu.”


“Baiklah kalau begitu.


Tetap awasi dia sampai benar-benar kembali ke apartmentnya.”


“Siap laksanakan bos!”


Agatha sudah memutuskan


untuk masuk ke dalam lubang buaya sejak awal. Meski ia tahu kalau itu terlalu


berbahaya dan beresiko untuknya. Namun, ia tetap melakukannya. Bukan karena


Agatha tidak merasa sayang lagi dengan nyawanya sendiri. Dia hanya tidak ingin melanggar


sumpahnya. Lagi pula Agatha sadar kalau ini adalah salah satu konsekuensi dari


pekerjaan yang sudah ia tekuni selama ini. Ia sama sekali tidak merasa


keberatan kalau pun harus berakhir dengan menyerahkan nyawanya. Mungkin itu


yang terbaik.


***


Seperti biasanya, gedung


apartment ini selalu sepi. Padahal penghuninya banyak. Tapi mereka nyaris tidak


pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Agatha sama sekali. Hal tersebut


membuatnya seolah-olah hidup sendirian di sini. Dari semua tempat, sepertinya


hanya lantai pertama saja yang ramai. Setelah kau naik lift ke atas, tidak akan


terjadi apa-apa. Seperti tidak ada kehidupan sama sekali.


Setelah dari parkiran,


ia langsung masuk ke dalam untuk menunggu lift. Sepertinya kali ini harus


menunggu sedikit lebih lama. Tidak masalah, kalau soal lift Agatha tidak akan


kesal. Selama ia masih bisa naik ke atas tidak masalah sama sekali walau harus


menunggu sedikit lebih lama.


Ketika sedang menunggu


pintu liftnya terbuka, mendadak ada seorang pria yang berdiri tepat di


sebelahnya. Pasti dia ingin naik lift yang sama juga dengan gadis itu. Namun,


entah kenapa Agatha merasa kalau pria itu tampak mencurigakan. Mungkin orang


lain belum tentu merasakan hal serupa. Tapi yang jelas Agatha beranggapan


demikian.


Entah yang sedang


berada di hadapannya saat ini bahaya atau bukan, Agatha sama sekali tidak


berminat untuk menindaklanjutinya. Selama pria itu tidak berniat jahat, Agatha


tidak perlu bertindak. Hanya ada satu hal yang perlu ia lakukan, yaitu


berjaga-jaga. Waspada akan membuatmu aman.


‘TING!’


Suara


yang mendadak muncul tersebut berhasil mengalihkan pandangan Agatha, beserta


dengan isi pikirannya. Setelah beberapa orang di dalam lift keluar, barulah


Agatha dan pria yang tadi masuk ke dalamnya. Beruntung tidak hanya mereka


berdua saja yang berada di dalam lift. Melainkan ada sekitar tiga orang


lainnya.