The Riot

The Riot
Diary



Agatha sedang berusaha untuk mengingat-ingat kembali


kapan kira-kira pria itu membaca buku hariannya. Dan memangnya dimana Agatha


meletakkan buku tersebut, smapai-sampai ia bisa menemukannya dengan begitu


mudah. Padahal seharusnya buku harian itu bersifat rahasia. Tidak semua orang


bisa membaca, atau bahkan mengaksesnya.


“Tapi, darimana kau mendapatkan buku itu?” tanya


Agatha dengan hati-hati.


Gadis itu tak ingin pusing sendirian, karena


memikirkan sesuatu yang belum tentu akan ia dapatkan jawabannya.


“Kemarin aku sempat berkunjung kemari. Ketika kau


pulang tanpa berpamitan,” ungkap pria itu secara gamblang.


“Sebenarnya tadi aku juga ingin langsung masuk saja.


Tapi ternyata kau sudah mengubah kata sandinya.” Bebernya.


“Jadi, ku putuskan untuk tetap menunggu seperti


biasa saja,” final pria itu kemudian.


Ini yang kesekian kalinya. Entah sampai berapa kali


lagi Arjuna akan membuat gadis itu terkejut dengan berbagai fakta yang ia


suguhkan.


“Tunggu dulu! Bagaimana kau tahu kata sandi


apartmentku?” tanya gadis itu.


Kali ini nada bicaranya berubah jadi serius. Agatha


tak sedang bercanda sekarang. Ini bukan masalah yang bisa dianggap sepele.


Bagaimanapun juga, secara tidak langsung ini menyangkut soal keamanannya.


Seperti yang kita tahu jika tidak semua orang bisa dipercaya untuk jangka waktu


tertentu. Belum tentu mereka akan tetap sama. Apa pun bisa berubah kapan pun.


“Kupikir kau masih ingat, tapi ternyata sudah lupa,”


ujar Arjuna.


“Sayang sekali,” sambungnya kemudian.


“Beberapa bulan yang lalu kau pernah memintaku


mampir kemari untuk mengambil berkas. Padahal saat itu kau sedang berada di kantor.


Jadi, mau tidak mau kau terpaksa memberikan kata sandimu kepadaku, agar aku


bisa memiliki akses masuk ke dalam,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Agatha tidak langsung merespon perkataan pria itu


sama sekali. Melainkan ia tampak terdiam untuk beberapa saat. Bukannya tidak


paham, ia malah sudah paham. Kin Agatha ingat betul kejadian di hari itu yang


baru saja dimaksud oleh Arjuna. Sekarang adalah gilirannya untuk menggerutu.


Merutuki kebodohan dirinya sendiri.


Beruntung beberapa hari yang lalu ia sudah mengubah


kata sandinya menjadi kata sandi baru. Yang jelas, kata sandi kali ini pasti


akan lebih aman. Pasalnya, tidak ada satu pun orang yang tahu kecuali dirinya


sendiri. Bahkan pihak keamanan saja tidak berhak untuk mengetahuinya.


Sejauh ini masih tergolong aman. Baik Aaron maupun


Arjuna atau bahkan teman-temannya yang lain tidak ada yang tahu. Dengan begitu,


mereka tidak bisa keluar masuk dengan bebas. Bagaimanapun juga, tempat ini


masih merupakan daerah kekuasaan gadis itu. Dia berhak untuk membuat peraturan


apa saja, yang bertujuan untuk melindungi dirinya sendiri. Karena tidak ada


orang lain yang bisa ia andalkan, oleh sebab itu Agatha hanya bisa bergantung


kepada dirinya sendiri.


“Beruntung aku kemari langsung mengganti kata


sandiku,” batin gadis itu di dalam hati.


Setidaknya sekarang ia bisa bernapas dengan sedikit


lebih lega. Untuk beberapa bulan ke depan, paling tidak kehidupannya akan


berubah jadi lebih aman. Meski tidak menjamin seratus persen, paling tidak


sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


“Kau bilang jika berkasnya ada di kamarmu, di laci


meja belajar lebih tepatnya,” ujar pria itu secara tiba-tiba.


“Kebetulan di bawah map berkas itu ada sebuah buku


harian. Karena penasaran, aku refleks membacanya,” bebernya kemudian.


Pria itu bicara dengan jujur kali ini. Dia sedang


berhak tahu, meski sebenarnya tidak perlu diberi tahu. Karena pasti Agatha


tidak suka dengan perbuatan pria itu yang terkesan lancang.


“Lalu, apa kau membaca semuanya?” tanya gadis itu


lagi.


Sekali lagi, ia hanya ingin memastikan apakah semua


ketakutannya itu benar adanya atau tidak. Agatha tidak bisa menyalahkan pria


itu sepenuhnya. Karena bagaimanapun juga, di sini posisi Agatha juga salah. Tidak


seharusnya ia meminta bantuan orang lain. Terllebih untuk masuk ke dalam


rumahnya ketika ia tidak sedang di rumah.


Tapi, dari kejadian ini ia juga belajar untuk tidak


mempercayai siapa pun. Termasuk orang-orang terdekatnya. Ada satu prinsip yang


masih ia percaya sampai sekarang. Tidak ada satu pun manusia yang bisa ia


percaya di hidupnya. Bahkan Agatha saja tidak bisa percaya dengan dirinya


sendiri.


Manusia pada dasarnya memiliki dua sisi kepribadian


yang berbeda. Ada yang baik dan ada juga yang buruk. Tergantung mana yang lebih


dominan. Dan tergantung sisi mana yang paling ingin ia tonjolkan. Mereka yang


terlihat baik, belum tentu akau selamanya bersikap seperti itu. Ingatlah satu


hal jika setiap manusia memiliki dua sisi kepribadian yang berbeda. Jika mereka


bersikap baik, itu berarti mereka hanya belum menunjukkan sisi jahatnya. Begitu


pula sebaliknya. Orang yang selama ini terkesan buruk, pasti setidaknya


memiliki satu hal positif di dalam dirinya.


“Kau membuatku kecewa dengan bertindak ceroboh


seperti itu,” gumam Agatha dengan datar.


Ia jadi tidak mau banyak bicara kalau sedang kesal. Jauh


lebih baik diam. Mau u=sekeras apa pun ia menjelaskan apa yang sebenarnya


sedang terjadi, orang-orang tetap tidak akan mengerti. Mereka tidak akan bisa


mengerti sampai mereka merasakannya sendiri.


“Aku tahu jika perbuatanku itu lancang. Tapi, aku tidak


membaca semuanya sampai habis. Hanya dua halaman pertama saja,” jelas Arjuna.


Pria itu masih berusaha untuk memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.


Memangnya siapa yang ingin disalahkan mentah-mentah


seperti itu. Bahkan jika ia memang bersalah sekali pun. Pada dasarnya, tidak


ada manusia yang ingin menanggung kesalahannya sendiri. Bahkan seorang pencuri


saja tidak ada yang mau mengaku.


“Tapi tetap saja kau sudah membacanya,” ujar Agatha.


“Harusnya kau tahu batas-batasmu. Setiap orang


memiliki privasinya masing-masinng,” jelas gadis itu kemudian.


“Kau bisa balas dendam dengan membaca buku harianku


juga!” celetuk Arjuna secara tiba-tiba.


Ia nyaris saja memotong pembicaraan merek barusan.


Tapi, untunglah gadis itu udah menyelesaikan kalimatnya jauh lebih cepat dari


apa yang ia bayangkan. Sehingga masalah baru tidak akan timbul lagi.


“Anggap saja jika itu setimpal dengan perbuatanku


yang sebelumnya!” tukas pria itu di akhir.


Satu detik setelahnya, Arjuna merogoh saku


celananya. Kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari sana. Entah buku apa


itu. Tapi, jauh lebih mirip seperti agenda harian.


“Ini buku harianku,” ucapnya sambil menyodorkan


benda tersebut kepada Agatha.


“Kau bisa membacanya sampai habis. Tidak masalah


sama sekali bagiku,” katanya.


Sementara itu, di sisi


lain Agatha masih tidak percaya sama sekali. Ternyata masih ada seorang pria


sepertinya yang menulis buku harian. Jika ia terlihat tidak peduli kepada orang


lain, setidaknya ia masih peduli kepada dirinya sendiri. Itu adalah sebuah poin


plus baginya.