
Sepertinya ada sesuatu
yang sedang ia cari di dalam sana. Agatha tak tahu apa. Dia hanya bisa diam
sambil tetap mengamati Arjuna yang masih belum selesai. Dari tadi ia tampak
merogoh tas miliknya.
“Nah, ketemu!” seru
pria itu kegirangan.
Agatha masih tetap
memperhatikan. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan sekarang. Tidak ada.
“Apa itu?” tanya gadis
itu penasaran.
“Misimu yang
berikutnya,” jawab Arjuna secara gamblang.
Bukannya mengerti,
Agatha malah sebaliknya. Gadis itu tampak mengerutkan dahinya. Hingga kedua
alisnya tampak menyatu. Sudah jelas-jelas jika Agatha sedang kebingungan.
Tak Lama kemudian,
Arjuna menyodorkan benda tersebut. Yang Agatha sendiri tidak tahu apa itu.
Terutama fungsinya. Lalu apa hubungannya dengan misi selanjutnya. Agatha sama
sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria itu sejak tadi. Entah
memang perkataan Arjuna yang terlalu berat untuk dicerna oleh otaknya, atau
memang Agatha saja yang sedikit lebih lambat dalam berpikir.
“Ini adalah alat
perekam suara,” ungkap pria itu.
Sekarang Agatha sudah
mulai paham. Meski ia masih belum benar-benat tahu untuk apa benda tersebut.
Bukannya kemarin Arjuna sudah memberikan satu kepadanya. Dan sejauh ini alat
perekan suara tersebut masih berfungsi dengan bagus.
“Aku membelikan yang
baru sebanyak dua buah,” bebernya.
“Untuk apa lagi?” tanya
Agatha.
“Bukannya sudah
kubilang tadi kalau kau akan membutuhkan benda ini untuk misi selanjutnya?”
tanya pria itu balik.
Agatha memiringkan
kepalanya beberapa derajat sambil tersenyum masam. Kenapa Arjuna selalu saja
menuntutnya untuk berpikir. Padahal ia bisa langsung memberi tahu apa misi
selanjutnya. Tidak perlu meminta gadis itu untuk berpikir dan menebak lebih
dulu.
“Bisa beri tahu
langsung ke intinya saja?” tanya Agatha dengan ragu.
Sudah ia duga jika
gadis itu akan mengatakan hal demikian. Memang tidak seharusnya ia berharap
lebih kepada orang seperti Agatha. Karena pada akhirnya pasti akan sama saja.
Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti sebelumnya.
Arjuna menghela
napasnya dengan kasar. Kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi
yang sedang ia duduki.
“Permisi, ini
pesanannya!” ucap seorang pelayan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Padahal baru saja
Arjuna akan buka suara dan mulai menjelaskan. Tapi, ada saja sesuatu yang
menghambat. Tidak apa. Sepertinya gadis itu perlu sedikit asupan kafein agar
bisa lebih fokus lagi. Mungkin juga sedikit makanan. Arjuna yakin jika gadis
itu belum sempat makan malam. Jadi, wajar saja kalau ia jadi tidak begitu fokus
seperti ini.
“Selamat menikmati
hidangan kami!” ucap si pelayan sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka
berdua.
“Terima kasih!” balas
keduanya secara bersamaan.
Setelah si pelayan
berada dalam posisi yang sedikit lebih jauh, barulah Arjuna mulai bicara. Tapi,
sebelum itu ia akan menyuruh Agatha untuk minum lebih dulu. Mereka bisa
berbincang kapan saja. Bahkan sambil menikmati hidangan kali ini.
“Minumlah lebih dulu!”
perintah Arjuna yang kemudian lekas diangguki oleh gadis itu.
Tidak hanya Agatha saja
yang minum. Bahkan pria itu juga ikut. Mereka berdua sama-sama memesan kopi.
Hanya saja berbeda jenis. Jika Agatha memesan kopi latte, maka Arjuna sudah
pasti memesan Americano. Itu adalah minuman kegemarannya.
“Jadi, apa inti dari
hal yang ingin kau perbincangkan mala mini?” tanya Agatha sekali lagi.
Dia tidak akan berhenti
bertanya, sampai Arjuna bisa menjawabnya. Gadis itu akan terus menuntut jawaban
“Jadi begini,” ucap
Arjuna dengan sedikit menggantung.
Kemudian ia meletakkan
kembali cangkir Americano miliknya. Sekarang Agatha telah menjadi pusat
perhatiannya. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain. Sementara gadis
itu tampak tidak sabar untuk menunggu jawaban dari Arjuna.
“Menurut rekaman suara
yang kudengar tadi, kau telah berkunjung ke markas besar mereka bukan?” tanya
pria itu untuk memastikan.
Tidak ada jawaban sama
sekali dari Agatha. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai bentuk
jawaban.
“Jadi, bisa tolong
jelaskan bagian yang itu kepadaku?” pinta Arjuna.
“Dengan senang hati!”
balas Agatha.
Gadis itu buru-buru
membenarkan posisi duduknya. Mendekatkan dirinya ke arah Arjuna. Tapi, sebelum
itu ia perlu memastikan kalau tidak ada sesuatu yang tampak mencurigakan di
sini. Mereka terpaksa berbicara di tempat umum. Padahal sebelumnya Arjuna sudah
mengatakan jika dia akan memesan ruangan VIP demi alasan keamanan. Tapi,
ternyata semua tempat itu sudah diisi dengan beberapa orang yang berbeda.
Lagi-lagi ia kurang
beruntung. Kalah cepat dengan orang asing. Tapi, tidak masalah. Mereka masih
bisa bicara di sini. Lagipula pengunjung cafenya sedang tidak terlalu ramai.
Arjuna juga sengaja memilih meja yang terletak di sudut ruangan.
“Mereka ternyata memiliki
markas utama. Dan yang kita datangi kemarin itu bukan markas utama. Masih ada
yang jauh lebih besar lagi. Bahkan orang-orangnya terlihat jauh lebih
menyeramkan,” beber Agatha di awal.
“Aku yakin jika lututmu
bahkan akan ikut bergetar ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di
tempat itu,” timpal gadis itu.
“Apa kau sedang mencoba
untuk meledekku?” balas pria itu tak terima.
“Jangan asal
menyimpulkan begitu saja,” ujar Agatha dengan begitu santai.
Baiklah, sudah cukup
untuk meledek pria itu. SSekarang mari kembali ke topik utamanya. Wajah gadis
itu langsung berubah jadi serius. Atmosfirnya bahkan ikut berubah juga. Selain
itu Arjuna sepertinya juga mulai terbawa suasana. Permasalahannya tidak
main-main sekarang. Mereka sedang berhadapan dengan para mafia. Salah sedikit
saja, nyawanya belum tentu selamat. Untuk pertama kalinya Agatha mau
menjalankan misi yang tergolong cukup beresiko tinggi.
“Tadi salah satu dari
mereka sudah mengajakku untuk berkeliling markas. Kami mendatangi setiap
ruangan yang ada di sana. Bahkan sampai ke ruangan bos besar. Tapi, orang itu
sedang tidak berada di sana ketika kami tiba,” jelas Agatha lagi.
“Apa itu ruangan
Hiraeth?” tanya Arjuna untuk memastikan.
“Benar!” jawab gadis
itu.
“Tapi, dari mana kau
tahu?” tanyanya balik.
“Sepertinya kau
benar-benar lupa kalau semua rekaman itu akan diteruskan secara otomatis
kepadaku,” jelas Arjuna.
Agatha lantas langsung
menepuk jidatnya pelan. Benar juga. Selama ini bukankah ia selalu memakai alat
perekan suara berukuran kecil di dekat telinganya. Bagaimana bisa gadis itu
melupakan hal penting.
“Besok pria itu akan
kembali kemari. Immanuel yang akan menjemputnya. Aku sungguh tidak sabar untuk
bertemu dengan seorang pria yang bernama Hiraeth itu,” ucap Agatha dengan apa
adanya.
“Baru kali ini aku
melihat seseorang yang begitu ingin bertemu dengan para penjahat tak kenal
ampun seperti dia,” komentar Arjuna.
“Tapi, kau harus tetap
berhati-hati selama berada di sekitar mereka. Jangan sampai membahayakan
nyawamu sendiri,” peringati pria itu sekali lagi.
Karena
Agatha mudah melupakan sesuatu, tidak ada salahnya untuk mengingatkan lagi dan
lagi. Terlebih ini menyangkut keselamatannya sendiri.