
Baguslah. Sejauh ini
sama sekali tidak ada hal aneh yang terjadi. Semua berjalan sesuai dengan
rencana yang sudah ditentukan sebelumnya. Para sniper tidak perlu bersiaga
lagi. Mereka hanya perlu waspada saja. Ketiga tim sudah berhasil masuk ke dalam
gedung. Sekarang apa pun yang terjadi di sana menjadi tanggung jawab mereka. Orang-orang
itu berhak untuk mengendalikan situasi di dalam.
Tim sniper dan juga
Hiraeth sudah menyerahkan semuanya kepada ketiga tim. Sisanya akan kembali
diurus oleh Agatha dan teman-temannya ketika memang sudah waktunya.
“Sekarang apa yang
harus kita lakukan?” tanya Alexa.
“Tidak, ada hanya
menunggu perintah selanjutnya,” jawab Immanuel.
Entah kenapa Alexa
tidak ikut briefing bersama yang lainnya sebelum pergi kemari tadi. Malah
Hiraeth mengatakan kalau gadis itu sudah sampai di sini lebih dulu. Mungkin ia
adalah orang pertama yang sampai di tempat. Pasti Hiraeth yang menyuruhnya. Kalau
tidak, mana mungkin ia berani membantah perintah pria itu untuk berkumpul di
markas utama. Kecuali ia memiliki nyali yang sedikit lebih banyak seperti
Agatha.
Untuk menghadapi
Hiraeth kau tidak perlu mengandalkan kekuatan. Karena pada akhirnya itu sia-sia
saja. Bekerja cerdas jauh lebih berdampak. Taktik. Satu-satunya hal yang perlu
kau lakukan ketika berhadapan langsung dengan pria itu adalah menyusun taktik
dengan secepat mungkin. Di sinilah kau harus memutar otak.
“Kenapa kau diam saja
sejak tadi?” tanya Alexa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Sepertinya sikap
sombongnya yang satu itu tidak akan pernah berubah. Agatha masih tidak habis
pikir kenapa bisa-bisanya ada manusia seperti dirinya di muka bumi ini.
“Memangnya aku harus
bicara apa?” tanya Agatha balik.
“Ya, apa saja. Bebas!
Tidak ada yang melarangmu untuk bicara di sini,” kata gadis itu.
“Benar, memang tidak
ada yang melarangku untuk berbicara. Tapi, aku bukan tipikal orang yang akan
banyak bicara pada saat serius seperti ini,” jelas Agatha dengan begitu tenang.
Alih-alih merasa puas
dengan penjelasan gadis itu barusan, Alexa malah nyaris melampiaskan amarahnya.
Menurutnya itu bukan penjelasan, tapi ledekan. Dia meniru gaya bicaranya. Mana bisa
Alexa menerima hal tersebut.
Sejak awal gadis itu
memang ingin membuat Alexa membungkan mulutnya sendiri. Bukankah ia terlalu
banyak bicara. Rongga telinga Agatha bahkan rasanya sudah penuh karena
mendengar perkataan gadis itu sejak awal kedatangannya kemari. Sungguh menyebalkan.
Selain Aaron dan Arjuna, sepertinya gadis ini juga akan membuat suasana hatinya
berubah jadi buruk tiap kali bertemu. Anehnya, kenapa nama orang-orang itu
harus berawalkan huruf A. Sebenarnya ada apa dengan huruf itu. Tapi, bahkan
namanya sendiri juga dimulai dari huruf A. Agatha. Apa jangan-jangan semua ini
kutukan.
Sudahlah Agatha tidak
ingin ambil pusing soal yang satu itu. Selama ini Agatha sadar kalau dirinya
terlalu banyak mencemaskan hal yang tak terlalu penting. Bahkan sama sekali
tidak berpengaruh kepada hidupnya sekali pun.
“Dasar menyebalkan!”
gumam Alexa dengan suara pelan. Namun, ternyata suaranya masih belum cukup
pelan.
“Sudahlah!” lerai
Immanuel lagi.
Pria itu memiliki
firasat jika mereka berdua tidak akan pernah akur kalau begini terus caranya. Padahal
malam ini adalah pertama kalinya bagi Alexan dan Agatha bertemu secara resmi. Tapi,
mereka tampaknya tidak baik-baik saja. Entah sampai kapan situasi seperti ini
akan tetap berlangsung.
“Aku tidak ingin
peringati Immanuel.
“Apa kalian
mendengarnya?!” seru pria itu karena sama sekali tidak ada yang menjawab.
“Hmm…” jawab keduanya
pada saat yang bersamaan.
Semua orang menatap ke
arah yang berlawanan. Menghindar untuk tidak saling menatap antara satu sama
lain. Sepertinya itu adalah satu-satunya cara untuk meredakan situasi yang kian
memanas.
“Hahaha! Bisa-bisanya
mereka bertengkar. Padahal sedang bekerja pada tim yang sama,” ujar seorang
wanita yang berada di gedung lainnya.
Jangan bilang kalau
Alexa telah melewatkan sesuatu di sini. Mereka semua lebih tepatnya. Bagaimana bisa
tidak ada satun pun dari mereka yang menyadari kalau ada sniper lainnya di sini
selain mereka bertiga. Tidak bisa dibiarkan. Dia mungkin akan mengacau. Rencana
yang sudah mereka susun dengan sedemikian rupa tidak boleh hancur begitu saja.
Gadis itu meletakkan
teropong miliknya. Sudah cukup untuk memantau apa yang sedang terjadi di sana.
Dia tidak perlu bergerak kalau mereka tidak bergerak. Pergerakan yang ia buat hanya
akan membuat orang lain curiga. Dari segi jumlah ia sudah kalah. Tentu gadis
itu tak mau mencari masalah.
Kabar soal penyerangan
markas Hato ini sudah lama terdengar. Namun, tidak ada yang tahu kapan tanggal
pastinya. Ternyata malam ini. Hato dan rrekan-rekannya selalu menyiapkan
beberapa penjaga untuk memantau sepanjang hari dan sepanjang malam. Tentu saja
secara bergantian. Mereka perlu berjaga dalam kondisi yang prima.
Sistem keamanan juga
sudah ditingkatkan jadi beberapa kali lebih baik. Persiapan ini sudah mereka
lakukan sejak dua bulan yang lalu muungkin. Atau lebih tepatnya sejak kabar angina
soal penyerangan markas tersebut mulai terdengar.
Kebetulan sekali malam
ini Gabriel tengah mendapatkan tugas untuk berjaga. Perkenalkan, sniper ternama
dari pasukan yang dipimpin oleh Hato. Sejauh ini dia cukup bisa diandalkan
meski wanita. Tidak ada yang membedakannya dengan para pria. Terutama kemampuannya
yang terbilang setara.
“Beruntung aku sudah
mengingatkan seisi gedung untuk bersiaga tadi,” gumam Gabriel.
Tampaknya misi mereka
kali ini tengah di dominasi oleh para sniper wanita. Immanuel menjadi
satu-satunya sniper pria yang berada di sini. Tapi tak apa-apa. Jenis kemalin
sama sekali tidak menentukan apa pun. Satu-satunya hal yang bisa membuatmu
bertahan di sini adalah kemampuan.
“Selama kalian tidak
mengancam, aku juga tidak akan melakukan hal tersebut,” kata Gabriel.
Sampai saat ini
sepertinya ketiga sniper unggulan dari pasukan yang dipimpin langsung oleh
Hiraeth sama sekali tidak menyadari jika mereka sedang diawasi. Memang sulit
untuk melihat jarak jauh saat malam hari. Akibat minimnya pencahayaan pada
waktu tersebut, jadinya jarak pandang juga ikut berkurang. Terlebih jika mereka
rabun. Itu adalah masalah tambahan.
Tidak ada yang bisa
disalahkan di sini. Mereka sama-sama sedang mempertahankan posisinya. Pada intinya,
kau tidak akan diserang balik jika kau tidak menyerang. Jadi, jalan yang benar
adalah tidak saling menyerang.
“Sniper! Bersiaplah!”
Satu aba-aba baru
muncul dari alat komunikasi mereka. Bisa diidentifikasi dengan jelas kalau itu
adalah suara Hiraeth.
Tanpa
banyak bicara, semua orang langsung bersiap pada posisinya masing-masing.
Sepertinya sebentar lagi akan memasuki waktu puncaknya. Agatha tidak sabar
untuk melihat sehebat apa skill menembaknya nanti. Apakah akan berguna untuk
saat ini atau malah tidak sama sekali. Mari kita lihat saja nanti.