The Riot

The Riot
Ready? Go!



Baguslah. Sejauh ini


sama sekali tidak ada hal aneh yang terjadi. Semua berjalan sesuai dengan


rencana yang sudah ditentukan sebelumnya. Para sniper tidak perlu bersiaga


lagi. Mereka hanya perlu waspada saja. Ketiga tim sudah berhasil masuk ke dalam


gedung. Sekarang apa pun yang terjadi di sana menjadi tanggung jawab mereka. Orang-orang


itu berhak untuk mengendalikan situasi di dalam.


Tim sniper dan juga


Hiraeth sudah menyerahkan semuanya kepada ketiga tim. Sisanya akan kembali


diurus oleh Agatha dan teman-temannya ketika memang sudah waktunya.


“Sekarang apa yang


harus kita lakukan?” tanya Alexa.


“Tidak, ada hanya


menunggu perintah selanjutnya,” jawab Immanuel.


Entah kenapa Alexa


tidak ikut briefing bersama yang lainnya sebelum pergi kemari tadi. Malah


Hiraeth mengatakan kalau gadis itu sudah sampai di sini lebih dulu. Mungkin ia


adalah orang pertama yang sampai di tempat. Pasti Hiraeth yang menyuruhnya. Kalau


tidak, mana mungkin ia berani membantah perintah pria itu untuk berkumpul di


markas utama. Kecuali ia memiliki nyali yang sedikit lebih banyak seperti


Agatha.


Untuk menghadapi


Hiraeth kau tidak perlu mengandalkan kekuatan. Karena pada akhirnya itu sia-sia


saja. Bekerja cerdas jauh lebih berdampak. Taktik. Satu-satunya hal yang perlu


kau lakukan ketika berhadapan langsung dengan pria itu adalah menyusun taktik


dengan secepat mungkin. Di sinilah kau harus memutar otak.


“Kenapa kau diam saja


sejak tadi?” tanya Alexa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Sepertinya sikap


sombongnya yang satu itu tidak akan pernah berubah. Agatha masih tidak habis


pikir kenapa bisa-bisanya ada manusia seperti dirinya di muka bumi ini.


“Memangnya aku harus


bicara apa?” tanya Agatha balik.


“Ya, apa saja. Bebas!


Tidak ada yang melarangmu untuk bicara di sini,” kata gadis itu.


“Benar, memang tidak


ada yang melarangku untuk berbicara. Tapi, aku bukan tipikal orang yang akan


banyak bicara pada saat serius seperti ini,” jelas Agatha dengan begitu tenang.


Alih-alih merasa puas


dengan penjelasan gadis itu barusan, Alexa malah nyaris melampiaskan amarahnya.


Menurutnya itu bukan penjelasan, tapi ledekan. Dia meniru gaya bicaranya. Mana bisa


Alexa menerima hal tersebut.


Sejak awal gadis itu


memang ingin membuat Alexa membungkan mulutnya sendiri. Bukankah ia terlalu


banyak bicara. Rongga telinga Agatha bahkan rasanya sudah penuh karena


mendengar perkataan gadis itu sejak awal kedatangannya kemari. Sungguh menyebalkan.


Selain Aaron dan Arjuna, sepertinya gadis ini juga akan membuat suasana hatinya


berubah jadi buruk tiap kali bertemu. Anehnya, kenapa nama orang-orang itu


harus berawalkan huruf A. Sebenarnya ada apa dengan huruf itu. Tapi, bahkan


namanya sendiri juga dimulai dari huruf A. Agatha. Apa jangan-jangan semua ini


kutukan.


Sudahlah Agatha tidak


ingin ambil pusing soal yang satu itu. Selama ini Agatha sadar kalau dirinya


terlalu banyak mencemaskan hal yang tak terlalu penting. Bahkan sama sekali


tidak berpengaruh kepada hidupnya sekali pun.


“Dasar menyebalkan!”


gumam Alexa dengan suara pelan. Namun, ternyata suaranya masih belum cukup


pelan.


“Sudahlah!” lerai


Immanuel lagi.


Pria itu memiliki


firasat jika mereka berdua tidak akan pernah akur kalau begini terus caranya. Padahal


malam ini adalah pertama kalinya bagi Alexan dan Agatha bertemu secara resmi. Tapi,


mereka tampaknya tidak baik-baik saja. Entah sampai kapan situasi seperti ini


akan tetap berlangsung.


“Aku tidak ingin


peringati Immanuel.


“Apa kalian


mendengarnya?!” seru pria itu karena sama sekali tidak ada yang menjawab.


“Hmm…” jawab keduanya


pada saat yang bersamaan.


Semua orang menatap ke


arah yang berlawanan. Menghindar untuk tidak saling menatap antara satu sama


lain. Sepertinya itu adalah satu-satunya cara untuk meredakan situasi yang kian


memanas.


“Hahaha! Bisa-bisanya


mereka bertengkar. Padahal sedang bekerja pada tim yang sama,” ujar seorang


wanita yang berada di gedung lainnya.


Jangan bilang kalau


Alexa telah melewatkan sesuatu di sini. Mereka semua lebih tepatnya. Bagaimana bisa


tidak ada satun pun dari mereka yang menyadari kalau ada sniper lainnya di sini


selain mereka bertiga. Tidak bisa dibiarkan. Dia mungkin akan mengacau. Rencana


yang sudah mereka susun dengan sedemikian rupa tidak boleh hancur begitu saja.


Gadis itu meletakkan


teropong miliknya. Sudah cukup untuk memantau apa yang sedang terjadi di sana.


Dia tidak perlu bergerak kalau mereka tidak bergerak. Pergerakan yang ia buat hanya


akan membuat orang lain curiga. Dari segi jumlah ia sudah kalah. Tentu gadis


itu tak mau mencari masalah.


Kabar soal penyerangan


markas Hato ini sudah lama terdengar. Namun, tidak ada yang tahu kapan tanggal


pastinya. Ternyata malam ini. Hato dan rrekan-rekannya selalu menyiapkan


beberapa penjaga untuk memantau sepanjang hari dan sepanjang malam. Tentu saja


secara bergantian. Mereka perlu berjaga dalam kondisi yang prima.


Sistem keamanan juga


sudah ditingkatkan jadi beberapa kali lebih baik. Persiapan ini sudah mereka


lakukan sejak dua bulan yang lalu muungkin. Atau lebih tepatnya sejak kabar angina


soal penyerangan markas tersebut mulai terdengar.


Kebetulan sekali malam


ini Gabriel tengah mendapatkan tugas untuk berjaga. Perkenalkan, sniper ternama


dari pasukan yang dipimpin oleh Hato. Sejauh ini dia cukup bisa diandalkan


meski wanita. Tidak ada yang membedakannya dengan para pria. Terutama kemampuannya


yang terbilang setara.


“Beruntung aku sudah


mengingatkan seisi gedung untuk bersiaga tadi,” gumam Gabriel.


Tampaknya misi mereka


kali ini tengah di dominasi oleh para sniper wanita. Immanuel menjadi


satu-satunya sniper pria yang berada di sini. Tapi tak apa-apa. Jenis kemalin


sama sekali tidak menentukan apa pun. Satu-satunya hal yang bisa membuatmu


bertahan di sini adalah kemampuan.


“Selama kalian tidak


mengancam, aku juga tidak akan melakukan hal tersebut,” kata Gabriel.


Sampai saat ini


sepertinya ketiga sniper unggulan dari pasukan yang dipimpin langsung oleh


Hiraeth sama sekali tidak menyadari jika mereka sedang diawasi. Memang sulit


untuk melihat jarak jauh saat malam hari. Akibat minimnya pencahayaan pada


waktu tersebut, jadinya jarak pandang juga ikut berkurang. Terlebih jika mereka


rabun. Itu adalah masalah tambahan.


Tidak ada yang bisa


disalahkan di sini. Mereka sama-sama sedang mempertahankan posisinya. Pada intinya,


kau tidak akan diserang balik jika kau tidak menyerang. Jadi, jalan yang benar


adalah tidak saling menyerang.


“Sniper! Bersiaplah!”


Satu aba-aba baru


muncul dari alat komunikasi mereka. Bisa diidentifikasi dengan jelas kalau itu


adalah suara Hiraeth.


Tanpa


banyak bicara, semua orang langsung bersiap pada posisinya masing-masing.


Sepertinya sebentar lagi akan memasuki waktu puncaknya. Agatha tidak sabar


untuk melihat sehebat apa skill menembaknya nanti. Apakah akan berguna untuk


saat ini atau malah tidak sama sekali. Mari kita lihat saja nanti.