
Hari ini entah akan
menjadi hari yang seperti apa untuk Agatha. Ia tidak tahu masalah seperti apa
lagi yang harus ia hadapi kali ini. Kemarin dirinya hampir diculik oleh orang
tidak dikenal. Yang jelas itu adalah suruhan Liora. Sepertinya wanita itu tidak
akan pernah berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau.
Beberapa hal buruk yang
akan terjadi di dunia ini memang tidak bisa diprediksi. Begitulah cara semesta
mendidik manusia untuk belajar dewasa dari keadaan. Mereka akan belajar dengan
sendirinya dari pengalaman. Siklus hidup. Orang-orang kerap kali mengatakan
kalau pengalaman adalah guru terbaik. Memang benar adanya seperti itu.
‘BRUK!’
Begitu sampai di
kantor, Agatha secara tidak sengaja telah menabrak seseorang. Memang dari awal
ia terlalu sibuk dengan ponselnya, sehingga tiadak memperhatikan jalanan di
depannya. Sedikit banyaknya, Agatha memang salah. Tanpa pikir panjang lagi,
gadis itu buru-buru meminta maaf. Ia tidak ingin membuat keributan. Apalagi sekarang
ini ia sedang berada di kantor. Masih terlalu pagi baginya untuk mendapatkan
masalah baru.
“Maaf!” ucap Agatha
secara spontan.
Gadis itu kemudian
menegakkan kepalanya. Pndangannya beralih dari layar ponsel dan mengamati seseorang
yang sedang berada di depannya saat ini. Sial. Ternyata itu adalah Arjuna.
Kenapa bisa-bisanya ia sampai menabrak pria itu secara tidak sengaja.
Sebenarnya Agatha sudah
lama ingin menghindar dari pria itu. Tapi, mana mungkin. Sepertinya itu adalah
salah satu hal paling mustahil di dalam hidupnya. Bagaimana bisa ia pergi
jauh-jauh dari Arjuna. Bukan karena Agatha mencintai pria itu. Tidak sama
sekali. Rasa cinta itu sudah berubah menjadi rasa benci sejak beberapa hari
lalu.
Alasan utama sekaligus
menjadi alasan yang paling tepat adalah karena tuntutan pekerjaan. Agatha tidak
bisa menghindari Arjuna karena alasan pekerjaan. Selama ini mereka berada di
dalam satu tim yang sama. Kemana-mana selalu bersama. Bukan hanya itu saja.
Agatha dan Arjuna pun berada di kantor yang sama. Mereka akan bertemu setiap
harinya, terlepas dari ada atau tidaknya kasus yang akan mereka selesaikan.
“Kenapa aku harus
bertemu dengan pria ini pagi-pagi sekali?” batin Agatha sambil memutar bola
matanya malas.
Tanpa ada meninggalkan
sepatah kata pun, sebagai bentuk permintaan pamit, Agatha langsung pergi begitu
saja ke ruang kerjanya. Meninggalkan Arjuna jauh di belakang. Pria itu tidak
berhak untuk menghentikan atau bahkan mencegah Agatha untuk tidak pergi
kemana-mana. Lagi pula tadi Agatha juga sudah meminta maaf soal insiden yang
diyakini tidak disengaja itu.
“Apa dia diam-diam
sudah mengetahui soal hubunganku dengan Zura?” gumam Arjuna.
“Sepertinya memang
begitu. Dia pasti sudah tahu!” lanjutnya.
Arjuna berasumi jika
gadis itu memang diam-diam sudah mengetahui segalanya. Terlepas dari mana
Agatha memperoleh informasi tersebut.
Sebenarnya sekarang
Arjuna jadi merasa bersalah. Secara tidak langsung ia sudah mempermainkan
perasaan gadis ini. Padahal Agatha tidak salah apa-apa pada awalnya. Namun,
kenapa tiba-tiba jadi begini. Arjuna sadar kalau awal dari permasalahan ini
berasal dari dirinya sendiri.
Sejak awal Arjuna sudah
salah. Ia bersikap seolah-olah benar menyukai seorang gadis yang bernama Agatha
itu. Padahal tidak sama sekali. Semua yang ia tunjukkan telah diatur dengan
tujuan gadis itu melakukan hal demikian. Bukankah sebelumnya mereka memiliki
hubungan yang cukup dekat. Sahabat. Seharusnya kata itu cukup untuk
melambangkan rasa kepercayaan mereka antara satu sama lain. Tapi ternyata makna
sesungguhnya dari sebuah persahabatan tidak sepenuhnya berlaku.
“Mereka saling
menyakiti sekarang ini,” ucap pria itu lalu beranjak pergi.
Pertemanan yang tidak
sehat. Itulah yang sedang dijalani oleh Agatha sekarang ini. Sebenarnya sampai
saat ini pun ia masih tidak benar-benar yakin. Masih sulit untuk dipercaya jika
sahabatnya sendiri telah mengkhianatinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Mau tidak
mau Agatha harus percaya. Fakta sudah terjadi di depan matanya. Kurang bukti
apa lagi memangnya.
***
‘CEKLEK!!!’
‘TAP! TAP! TAP!’
‘BRUK!’
Begitu sampai di dalam
ruangan kerjanya, Agatha langsung menuju meja tempat ia biasa menghabiskan
sebagian besar waktunya dengan mengamati berbagai macam berkas. Meski telah
berada di tempat yang sama selama bertahun-tahun, ia tidak pernah merasa bosan
sama sekali. Malah Agatha sangat merindukan tempat ini jika tidak datang kemari
sehari saja. Sulit rasanya untuk membayangkan akan seperti apa ia nanti kalau
sudah tidak bekerja di sini lagi. Tapi, sejauh ini Agatha sama sekali tidak
memiliki rencana untuk keluar dari pekerjaannya yang sekarang. Lebih tepatnya
ia tidak akan meninggalkan pekerjaan yang satu ini sebelum mendapatkan
pekerjaan lain yang jauh lebih menjanjikan. Mari bersikap realistis saja.
“Huh!”
Agatha menyandarkan
punggungnya pada tempat duduknya. Memejamkan mata untuk beberapa saat, sebelum
membukanya kembali. Kali ini bukan karena mengantuk. Entahlah, selain menghela
napas, menutup mata untuk beberapa detik sepertinya juga bisa membantu untuk
menenangkan diri.
Gadis itu hampir lupa
kalau dirinya belum sarapan. Jadi, hal pertama yang ia raih bukanlah kotak
bekal. Melainkan berkas pembunuhan berantai. Kasus yang paling menyita
perhatiannya sejak beberapa bulan terakhir. Sepertinya bukan hanya Agatha saja.
Tapi, semua orang. Kasus ini telah mendapatkan tempat tersendiri di hati setiap
orang.
Kasus ini bisa
dikatakan sedikit istimewa. Karena pelakunya yang memiliki motif unik dalam
menjalankan setiap aksinya. Dan yang jelas ia tidak mudah untuk ditebak. Bahkan
sampai sekarang mereka belum memiliki tersangka sama sekali.
“Jadi, sampai kapan kau
tetap akan beraksi?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
“Kuharap yang kemarin
adalah yang terakhir. Bukankah kau sudah menyelesaikan koda titik koordinat
dari tempat yang kau maksud itu?” lanjutnya.
Sesekali Agatha tampak
menghela napasnya dengan kasar. Jujur saja, ia tidak tahu harus berbuat apa
sekarang. Sepertinya Agatha perlu berkonsultasi kepada rekan-rekan satu timnya
untuk masalah yang satu ini. Ia tidak akan bisa menemukan jalan keluarnya kalau
hanya berpikir sendirian. Tidak akan pernah.
Agatha melewatkan
sarapan paginya begitu saja. Padahal ia sudah membawa bekal roti dari rumah. Gadis
itu malah jauh lebih mementingkan pekerjaannya dari pada kesehatannya sendiri.
Padahal kalau bukan ia yang menjaga kesehatannya sendiri, memangnya siapa lagi.
Kalau ia jatuh sakit pun, tentu tidak akan bisa bekerja.
Tapi,
begitulah anak muda zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka workaholic. Tidak jauh berbeda dengan Agatha sekarang.