
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama tiga
puluh menit di markas, mereka semua sepakat untuk melancarkan aksinya tepat
tengah malam nanti. Sebenarnya tidak ada yang berbeda. Kantor polisi tidak akan
pernah dibiarkan begitu saja tanpa penjagaan. Paling tidak harus ada satu atau
dua orang yang berjaga-jaga di sana. Semua itu dilakukan demi alasan keamanan.
Menurut informasi yang ia dengar dari Agatha sejauh
ini, mereka akan melakukan pergantian shift setiap enam jam sekali. Yang
berarti dalam satu hari akan terjadi sebanyak empat kali pergantian. Salah
satunya adalah pada pukul dua belas malam.
Bagi Aaron waktu tersebut adalah yang paling tepat
jika dibandingkan dengan waktu lainnya. Kalian bisa bayangkan seberapa banyak
anggota kepolisian yang berjaga di kantor dari pagi hingga sore. Jumlahnya
bahkan nyaris dua kali lipat dari jumlah mereka yang tetap berada di kantor
pada malam hari. Sehingga pergantian shift jaga terakhir adalah yang paling
tepat.
“Baiklah, jadi apakah kalian sudah mengerti dengan
tugas kalian masing-masing?” tanya Aaron sekali lagi.
Ia hanya ingin memastikan jika semuanya sudah cukup
jelas untuk nanti malam, sebelum ia mengakhiri pertemuan mereka kali ini.
“Sudah,” jawab orang-orang yang duduk di hadapannya.
“Bagus,” balas pria itu.
Sekarang rencana mereka sudah siap. Sumber daya
manusianya juga sudah. Jangan tanya lagi soal kesiapan mereka. Tentu
orang-orang ini akan selalu siap dalam kondisi apa pun.
“Kita akan menang lagi untuk kali ini,” gumam Aaron
sambil tersenyum miring.
Mungkin mala mini akan terjadi sedikit kekacauan di
sana. Tapi jika pada polisi itu membiarkan mereka membawa teman-temannya yang
lain bersamanya, tentu tidak akan jadi masalah. Aaron dan dan teman-temannya
yang lain lantas tidak akan menyerang lebih dulu. Pada dasarnya mereka bukan
tipikal orang yang suka mencari masalah. Jika saja kemari mereka tidak
menangkap dan menahan teman-temannya di balik jeruji besi, maka Aaron dan temannya yang lain tentu tidak akan membuat
rencana ini.
Tidak ada jalan lain untuk membebaskan mereka. Akan
terlalu rumit jika melalui proses hukum terlebih dahulu. Sama sekali tidak ada
waktu untuk menunggu. Aaron juga bukan seorang tipikal orang yang akan sabar.
Lebih tepatnya, ia tak pernah sudi melakukan sesuatu yang rumit.
“Kalau begitu, nanti malam kita berkumpul lagi di
sini,” ujar Aaron.
“Pukul sebelas malam!” tegasnya sekali lagi.
Mereka hanya bisa mengangguk. Mengiyakan perkataan
pria itu barusan. Lagipula semua orang juga sudah setuju pada awalnya. Jadi
tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi di sini.
“Kalau begitu aku pergi dulu!” pamit Aaron.
Tanpa basa-basi lagi, ia lantas segera beranjak
untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Tunggu!” cegah Mico.
Pria itu buru-buru menyusul langkah Aaron. Sementara
sosok yang dipanggil hanya bisa diam di tempat sambil menunggu Mico sampai
kemari. Ia langsung menghentikan langkah kakinya tadi begitu Mico menyebutkan
namanya.
“Ada apa?” tanya Aaron.
“Kita perlu bicar sebentar,” jawab pria itu.
“Tapi, jangan di sini,” cegahnya kemudian.
Sepertinya Mico tidak ingin jika obrolan mereka kali
ini di dengar oleh orang lain. Pasti bersifat cukup rahasia. Sehingga ia tidak akan membiarkan teman-temannya yang
lain tahu. Padahal jika dipikir-pikir, bukan satu atau dua tahun mereka
berteman. Melainkan sudah dari awal menginjak masa remaja. Bahkan pertemanan
mereka masih awet sampai sekarang. Ketika semuanya sudah menginjak usia lebih
dari dua puluh tahun.
Keduanya pergi ke beberapa meter dari pusat
keramaian. Memang dari awa Mico berusaha untuk menghindari mereka. Setidaknya dalam
jarak dua atau tiga meter, orang-orang itu tidak akan bisa mendengar isi dari
memiliki jangkauan yang berbeda untuk menangkap sebuah suara. Dan yang
terpenting, tampaknya mereka sama sekali tidak peduli tentang pokok pembahasan
kedua pria itu. Setelah pertemuan itu resmi disudahi, semua orang kembali sibuk
dengan urusannya masing-masing.
“Ada perlu apa?” tanya Aaron tanpa ingin
berbasa-basi.
“Jika tidak penting, maka sebaiknya bicarakan di
lain waktu saja,” peringati pria itu.
Untuk saat ini Aaron tidak punya waktu banyak. Terlebih
jika itu hanya untuk mengurusi hal yang tidak penting sama sekali. Masih ada
jauh lebih banyak hal penting yang perlu ia kerjakan.
“Tapi, kali ini kau harus mendengarkannya. Tidak
peduli apakah itu penting atau tidak bagimu,” ucapnya dengan penuh penekanan.
Terlepas dari itu hal penting atau tidak, Aaron
mulai tidak mempedulikannya sama sekali. Pria itu mulai terbawa suasana. Keduanya
kini sedang dalam mode serius. Selain itu ia tahu betul jika Aaron tidak akan
bercanda di waktu yang tidak tepat. Kali ini Mico juga tidak sedang main-main.
“Kalau begitu apa yang ingin kau katakan?” tanya
Aaron sekali lagi.
“Kau sungguh berteman dengan Agatha?” tanya pria itu
balik.
Aaron lantas mengerutkan dahinya. Membuat kedua
alisnya tampak saling bertautan satu sama lain karena kebingungan. Tidak biasanya
Mico bertanya soal gadis itu. Apalagi sampai mempertanyakan soal hubungan Aaron
dengannya. Padahal sejak jauh-jauh hari Aaron juga sudah menjelaskan semuanya.
Mico adalah orang pertama sekaligus menjadi satu-satunya orang yang mengetahui
hal tersebut sampai sekarang.
“Kami hanya sekedar berteman biasa. Tidak lebih.
Lagipula memangnya kenapa kau sampai menanyakan hal itu?” balas Aaron dengan
panjang lebar.
“Jawab dulu pertanyaanku yang pertama tadi!” seru
Mico.
“Kau tahu jika aku hanya memanfaatkan gadis itu
dengan pura-pura berteman dengannya,” jelas lawan bicaranya dengan begitu
tenang.
“Sekarang giliranku untuk menagih jawaban dari
pertanyaanku barusan,” sambungnya kemudian.
“Kau perlu tahu satu hal sebelum membuat gadis itu
merasa dirugikan lebih banyak lagi,” ucap Mico.
“Maksudmu?” tanya pria itu lagi, menuntut penjelasan
lebih lanjut.
Sampai sekarang ia belum benar-benar paham kemana
arah pembicaraan mereka kali ini. Namun, sepertinya cukup menarik untuk tetap
dilanjutkan. Aaron akan memuaskan semua rasa penasarannya. Ia adalah mahluk
yang haus akan jawaban.
“Bagaimana aku harus menjelaskannya kepadamu? Argh!”
gerutu Mico lalu mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Katakan saja,” kata
Aaron.
Sekilas ia menatap kedua manik mata pria itu
lamat-lamat. Memastikan sekali lagi jika Aaron sudah benar-benar siap untuk mendengar
berita yang akan ia bawakan.
“Aku tidak yakin kalau kau akan percaya, meski yang
kukatakan ini adalah faktanya,” ujar pria itu.
“Tergantung darimana kau mendapatkan informasi
tersebut,” balas Aaron secara gamblang.
Sebenarnya apa yang
barusaja dikatakan oleh Aaron tidak ada salahnya. Namun, juga tidak bisa
dibenarkan sepenuhnya. Ada begitu banyak sumber informasi sekarang, dan tidak
semuanya bisa dipercaya. Jadi semakin ke sini kita dituntut untuk semakin jeli
lagi dalam menerima informasi. Jangan sampai salah.