
Tanpa menunggu balasan
dari pria itu, Agatha langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Tujuan utama gadis itu menelepon Arjuna hanya ingin memberi tahu hal tersebut.
Memberi tahu kalau besok dia tidak akan pergi kemana-mana. Terutama ke markas.
Arjuna tak perlu mengandalkan Agatha lagi. Karena bagaimanapun juga sejak awal
peran Agatha memang hanya sebagai pembuka jalan. Tidak lebih. Sekarang rasanya
jalan itu sudah terbuka cukup lebar. Meski tugas Agatha tidak akan selesai
sampai di sini saja tentunya. Masih ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Tidak
banyak. Hanya tinggal selangkah lagi menuju kemenangan. Garis finalnya sudah
berada di depan mata.
‘DRRTTT!!!!’
Padahal baru saja
Agatha mematikan teleponnya. Belum ada sekitar satu menit yang lalu. Sekarang Arjuna
sudah menghubunginya balik. Pasti pria itu masih ingin melanjutkan obrolan mereka
yang tadi. Tapi, tidak dengan Agatha. Gadis itu malah merasa sebaliknya. Ia
malas untuk memperdebatkan hal yang tidak penting untuk diperdebatkan.
Lagi pula Agatha sudah
tahu akan kemana ujung pembicaraan meraka nanti. Lagi-lagi pasti Agatha yang
disalahkan. Dalam hal apa pun itu, Agatha pasti selalu terkena imbasnya meski
sebenarnya ia tidak ikut. Sudah bukan sesuatu yang mengejutkan lagi. Ini bukan
kejadian yang pertama.
Tak ingin menanggapi
panggilan dari pria itu, Agatha lantas mengubah setelah ponselnya menjadi mode
senyap. Sehingga ia tidak perlu mendengar suara berisik yang bisa timbul kapan
saja dari ponselnya itu. Agatha sama sekali tidak peduli. Yang jelas
pembicaraan mereka cukup sampai di sana saja. Ia tidak mau memperpanjang hal
tersebut untuk besok atau nanti dan kapan pun.
Agatha tidak ingin
terlalu ambil pusing. Sejauh ini sudah cukup banyak benda di kepalanya yang
membuat kapasitas otaknya terasa berlebih. Kepalanya akan meledak
sewaktu-waktu.
Sepertinya hari ini ia
akan tertidur lebih cepat daripada biasanya. Sekarang padahal masih pukul
setengah sepuluh malam. Meski sudah termasuk larut, tapi tidak biasanya ia
terlelap pada pukul segini. Mungkin, hari ini adalah sebuah pengecualian.
Agatha menuju alam bawah sadarnya jauh lebih cepat dari apa yang pernah ia
bayangkan. Tidur adalah satu-satunya situasi yang paling menenangkan baginya.
***
“Ah, sial!” umpat
Arjuna sambil menggebrak meja.
“Kenapa dia tidak
menjawab teleponku?” tanya pria itu kepada dirinya sendiri.
Ia perlu menuntut
penjelasan kepada Agatha. Berani-beraninya ia tidak pergi ke markas besok dan
malah melimpahkan tugasnya kepada kamera pengawas dan alat sadap suara. Itu saja
mana cukup. Tidak semua informasi bisa mereka dapatkan dengan hanya
mengandalkan alat-alat tersebut. Harus tetap ada setidaknya satu orang yang
terjun langsung ke lapangan untuk mengawasi.
Bagaimana bisa mendadak
gadis itu berubah pikiran seperti ini. Bukankah di awal mereka sudah membuat
kesepakatan. Dan keduanya sama-sama sepakat. Tidak ada yang boleh meninggalkan
misi ini dengan begitu saja. Padahal Agatha sebenarnya sama sekali tidak
bermaksud seperti itu. Dia hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Percuma
saja rasanya kalau ia kembali ke markas, tapi tidak ada seorang pun yang
mempercayainya. Memangnya informasi macam apa yang bisa ia dapatkan. Arjuna
berharap apa pada situasi rumit seperti itu.
07.20
Tercatat ada dua puluh
panggilan masuk dari Arjuna kemarin malam. Sama seperti dua digit angka
“Ternyata dia masih
terus berusaha untuk meneleponku kemarin,” gumam gadis itu.
“Dasar keras kepala!”
lanjutnya.
Agatha masih belum
beranjak dari tempat tidurnya. Padahal ia sudah bangun sejak lima menit yang
lalu. Hal pertama yang dilakukannya setelah membuka mata adalah mengumpulkan
nyawa terlebih dahulu. Kemudian meraih ponsel yang sudah berada di sebelahnya
sejak kemarin malam. Agatha tidak sempat meletakkannya di atas nakas seperti
biasa, karena sudah terlalu mengantuk. Dia bahkan tidak sempat memikirkan apa
pun lagi.
Hari ini ia berencana
untuk pergi ke pusat olahraga. Sudah lama Agatha tidak pergi ke sana. Karena
hari ini ia akan pergi ke pusat olahraga, jadi harus buru-buru. Sekarang adalah
jam yang paling tepat untuk menikmati pagi sambil berolahraga. Karena masih
cukup pagi, jadi belum terlalu banyak orang di sana. Lain ceritanya kalau jarum
jam sudah menyentuh hangka sembilan.
Agatha sudah siap
dengan pakaian olahraganya. Karena gedung apartment tempat ia tinggal ini
memiliki fasilitas yang cukup lengkap, jadi ia tidak perlu pergi ke luar.
Bahkan pusat olahraga saja ada di sini. Tepatnya berada di lantai tiga. Dia hanya
perlu turun ke lantai tiga saja, tidak perlu mengeluarkan mobil atau bahkan
sepeda motor miliknya.
Setelah sampai di sana
ia pergi ke loker lebih dulu untuk menyimpan barang-barang miliknya. Loker pria
dan wanita berada pada ruangan terpisah. Namun, pintu keluarnya saling
berhadapan. Jadi bisa saja kau akan berpapasan secara tidak sengaja dengan
orang lain di pintu keluar.
“Agatha!” sahut
seseorang dari belakang.
Ia baru saja beranjak
beberapa langkah dari pintu keluar. Namun, secara tiba-tiba ada sebuah suara
yang memanggil namanya. Agatha yakin kalau orang itu tengah bicara dengannya. Pasalnya
tidak ada orang lain di sini. Dan yang terpenting, namanya adalah Agatha. Sama persis
seperti apa yang baru saja diucapkan oleh pria itu tadi.
Tanpa pikir panjang, ia
segera memutar balikkan tubuhnya ke arah sumber suara. Kedua bola matanya
membulat dengan sempurna. Ia sungguh terkejut saat mendapati sosok ayah yang
selama ini tidak pernah ia lihat lagi, dan ternyata sekarang harus bertemu di
tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Bagaimana bisa kau ada
di sini?” tanya Agatha dengan datar.
“Apa kau masih tidak
ingin memanggilku dengan sebutan ayah?” tanya Narendra balik.
Dengan cepat gadis itu
menggeleng sebagai bentuk jawaban.
“Jangan pernah berharap
hal itu akan terjadi,” gumamnya pelan.
Sejak hari dimana
mereka tak lagi hidup bersama, Agatha telah berjanji kepada dirinya sendiri
untuk tidak memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Bahkan sepertinya ia sudah
melakukan hal tersebut sebelum mereka benar-benar berpisah satu sama lain.
Sejak ibunya sakit mungkin. Orang seperti dirinya memang tidak pantas untuk
mendapatkan julukan tersebut. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk
menjadi seorang ayah yang baik.
“Bagaimana
kau bisa berada di sini?” tanya gadis itu sekali lagi. Karena sebelumnya
Narendra belum sempat menjawab pertanyaan tersebut.