The Riot

The Riot
Lunch



Entahlah,


tidak ada yang pernah benar-benar tahu soal apa yang telah terjadi hari ini.


Semua peristiwa hanya terjadi begitu saja. Terkadang juga tanpa alasan yang


jelas. Sebab, tidak semua hal di dunia ini perlu sebuah alasan. Tak jarang juga


malah sebaliknya.


Meski


tampak begitu tenang sejak tadi, siapa yang bisa memastikan hal tersebut


memangnya. Yang tidak terlihat belum tentu tidak kejadian. Mungkin begitu pula


yang sedang dirasakan oleh gadis ini. Pasalnya sesuatu yang berada di dalam


sana tidak pernah baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan wajahnya. Ekspresi


wajahnya saat ini sama sekali tidak mencerminkan apa pun dari isi hatinya.


Ia


begitu risau. Takut jika sampai gagal untuk menjaga dirinya sendiri. Agatha tahu


persis jika dirinya tengah menjadi sasaran kali ini. Cukup mudah untuk menebak


yang satu itu. Tapi, tidak dengan pelakunya.entah mimpi buruk macam apa yang


menghampirinya kemarin. Sampai-sampai ia harus terjebak dalam situasi yang


mencekam serta berbahaya.


Agatha


belum siap jika diminta untuk mempertaruhkan dirinya sendiri. Menurutnya masih


terlalu cepat. Ia tidak ingin menemui Tuhan jauh lebih cepat dari apa yang


sudah digariskan semesta. Bukankah kita tidak boleh melawan takdir? Tapi kalau


memang sudah ini jalannya mau bagaimana lagi.


Gadis


itu masih terlalu muda untuk mengakhiri hidupnya dengan cara konyol. Bahkan ia


belum sempat untuk menjadi berguna. Jika Agatha gagal menjaga keselamatan


dirinya sendiri, lantas bagaimana bisa ia akan menjaga orang lain.


“Hey!”


sahut Arjuna yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Sontak


hal tersebut berhasil membuyarkan isi pikirannya. Agatha tak tahu sudah sampai


dimana diskusi mereka tadi. Iya, benar. Mereka. Diskusi ringan antar Agatha dan


sisi lain di dalam dirinya. Gadis itu sedang mencoba untuk berdamai dengan


dirinya sendiri. Tidak mudah memang. Tapi, apa salahnya jika mencoba.


“Ada


apa?” balas Agatha.


Tampaknya


suasana hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caraya


berbicara. Terkesan ketus.


“Mau


makan siang bersama?” tawar pria itu.


“Tidak,”


jawabnya sambil menggeleng pelan.


“Aku


tidak lapar sekarang,” jelasnya kemudian.


“Nanti


aku pasti akan makan kalau sudah lapar,” final Agatha.


“Tidak


boleh begitu!” larang Arjuna.


Sementaara


itu, Agatha hanya memandangi lawan bicaranya dengan malas. Bukan pekara yang


jadi serba salah. Sebenarnya sejak awal dia tidak ingin makan siang. Tapi,


setelah kedatangan Arjuna kemari semuanya jadi berubah. Tampaknya gadis itu


akan mengurungkan niatnya untuk tidak pergi makan siang. Lihat saja bagaimana


cara Arjuna dalam membujuknya. Terkesan terlalu memaksa.


“Baiklah!”


tukas Agatha dengan malas.


Satu


detik setelahnya, kedua sudut bibir Arjuna terangkat. Membentuk sebuah


senyuman. Ini adalah momen langka. Pasalnya, pria itu terbilang cukup jarang


tersenyum. Ia bahkan tidak termasuk kepada salah satu daftar orang yang ramah


di kantor ini. Tidak sama sekali menurut Agatha.


Perlakuan


Arjuna kepada gadis ini dan rekan-rekan kerjanya yang lain berbeda. Tergantung


seberapa dekat hubungan mereka. Bahkan sering bertemu saja tidak cukup untuk


membuat mereka dibilang akrab.


Dia


seperti memiliki kepribadian yang berbeda di hadapan setiap orang. Entah berapa


banyak kepribadian yang bisa ia tunjukkan.


“Ayo!”


ajak Arjuna dengan antusias.


Di


sisi lain, Agatha hanya berdeham pelan untuk mengiyakan perkataan rekan


kerjanya yang satu itu.


“Kemana


kita akan makan siang kali ini?” tanya Arjuna begitu sampai di dalam mobil.


“Terserah


kepadamu saja!” balas Agatha acuh tak acuh.


“Semua


wanita selalu sama saja jawabannya ketika ditanya soal hal seperti itu,”


celoteh Arjuna sembari menyalakan mesin mobilnya.


Tanpa


berniat untuk membalas perkataan pria itu tadi, Agatha lantas segera memasang


sabuk pengamannya. Karena sebentar lagi mobil ini akan dibawa melaju ke jalan


raya. Seperti yang sudah mereka sepakati bersama tadi. Agatha akan menyerahkan


segala keputusannya kepada pria itu. Ia terlalu malas untuk ikut campur perihal


begitu.


Agatha


sama sekali tidak peduli tentang perjalanan ini. Terserah Arjuna saja. Ia tidak


akan mempermasalahkan apa pun. Termasuk soal tujuan mereka yang belum diketahui


sampai sekarang.


Sepanjang


perjalanan, gadis itu hanya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sembari


memejamkan matanya. Menikmati alunan musik yang sudah diputar sejak awal


perjalanan. Ia hanya ingin melepas penat akibat tuntutan pekerjaan. Namun, hal


tersebut tidak berlangsung lama. Karena beberapa saat setelahnya ia kembali


membuka kedua kelopak matanya secara mendadak. Bersamaan dengan pedal rem yang


diinjak secara tiba-tiba.


“Ada


apa?” tanya gadis itu secara spontan.