
Entahlah,
tidak ada yang pernah benar-benar tahu soal apa yang telah terjadi hari ini.
Semua peristiwa hanya terjadi begitu saja. Terkadang juga tanpa alasan yang
jelas. Sebab, tidak semua hal di dunia ini perlu sebuah alasan. Tak jarang juga
malah sebaliknya.
Meski
tampak begitu tenang sejak tadi, siapa yang bisa memastikan hal tersebut
memangnya. Yang tidak terlihat belum tentu tidak kejadian. Mungkin begitu pula
yang sedang dirasakan oleh gadis ini. Pasalnya sesuatu yang berada di dalam
sana tidak pernah baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan wajahnya. Ekspresi
wajahnya saat ini sama sekali tidak mencerminkan apa pun dari isi hatinya.
Ia
begitu risau. Takut jika sampai gagal untuk menjaga dirinya sendiri. Agatha tahu
persis jika dirinya tengah menjadi sasaran kali ini. Cukup mudah untuk menebak
yang satu itu. Tapi, tidak dengan pelakunya.entah mimpi buruk macam apa yang
menghampirinya kemarin. Sampai-sampai ia harus terjebak dalam situasi yang
mencekam serta berbahaya.
Agatha
belum siap jika diminta untuk mempertaruhkan dirinya sendiri. Menurutnya masih
terlalu cepat. Ia tidak ingin menemui Tuhan jauh lebih cepat dari apa yang
sudah digariskan semesta. Bukankah kita tidak boleh melawan takdir? Tapi kalau
memang sudah ini jalannya mau bagaimana lagi.
Gadis
itu masih terlalu muda untuk mengakhiri hidupnya dengan cara konyol. Bahkan ia
belum sempat untuk menjadi berguna. Jika Agatha gagal menjaga keselamatan
dirinya sendiri, lantas bagaimana bisa ia akan menjaga orang lain.
“Hey!”
sahut Arjuna yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Sontak
hal tersebut berhasil membuyarkan isi pikirannya. Agatha tak tahu sudah sampai
dimana diskusi mereka tadi. Iya, benar. Mereka. Diskusi ringan antar Agatha dan
sisi lain di dalam dirinya. Gadis itu sedang mencoba untuk berdamai dengan
dirinya sendiri. Tidak mudah memang. Tapi, apa salahnya jika mencoba.
“Ada
apa?” balas Agatha.
Tampaknya
suasana hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caraya
berbicara. Terkesan ketus.
“Mau
makan siang bersama?” tawar pria itu.
“Tidak,”
jawabnya sambil menggeleng pelan.
“Aku
tidak lapar sekarang,” jelasnya kemudian.
“Nanti
aku pasti akan makan kalau sudah lapar,” final Agatha.
“Tidak
boleh begitu!” larang Arjuna.
Sementaara
itu, Agatha hanya memandangi lawan bicaranya dengan malas. Bukan pekara yang
jadi serba salah. Sebenarnya sejak awal dia tidak ingin makan siang. Tapi,
setelah kedatangan Arjuna kemari semuanya jadi berubah. Tampaknya gadis itu
akan mengurungkan niatnya untuk tidak pergi makan siang. Lihat saja bagaimana
cara Arjuna dalam membujuknya. Terkesan terlalu memaksa.
“Baiklah!”
tukas Agatha dengan malas.
Satu
detik setelahnya, kedua sudut bibir Arjuna terangkat. Membentuk sebuah
senyuman. Ini adalah momen langka. Pasalnya, pria itu terbilang cukup jarang
tersenyum. Ia bahkan tidak termasuk kepada salah satu daftar orang yang ramah
di kantor ini. Tidak sama sekali menurut Agatha.
Perlakuan
Arjuna kepada gadis ini dan rekan-rekan kerjanya yang lain berbeda. Tergantung
seberapa dekat hubungan mereka. Bahkan sering bertemu saja tidak cukup untuk
membuat mereka dibilang akrab.
Dia
seperti memiliki kepribadian yang berbeda di hadapan setiap orang. Entah berapa
banyak kepribadian yang bisa ia tunjukkan.
“Ayo!”
ajak Arjuna dengan antusias.
Di
sisi lain, Agatha hanya berdeham pelan untuk mengiyakan perkataan rekan
kerjanya yang satu itu.
“Kemana
kita akan makan siang kali ini?” tanya Arjuna begitu sampai di dalam mobil.
“Terserah
kepadamu saja!” balas Agatha acuh tak acuh.
“Semua
wanita selalu sama saja jawabannya ketika ditanya soal hal seperti itu,”
celoteh Arjuna sembari menyalakan mesin mobilnya.
Tanpa
berniat untuk membalas perkataan pria itu tadi, Agatha lantas segera memasang
sabuk pengamannya. Karena sebentar lagi mobil ini akan dibawa melaju ke jalan
raya. Seperti yang sudah mereka sepakati bersama tadi. Agatha akan menyerahkan
segala keputusannya kepada pria itu. Ia terlalu malas untuk ikut campur perihal
begitu.
Agatha
sama sekali tidak peduli tentang perjalanan ini. Terserah Arjuna saja. Ia tidak
akan mempermasalahkan apa pun. Termasuk soal tujuan mereka yang belum diketahui
sampai sekarang.
Sepanjang
perjalanan, gadis itu hanya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sembari
memejamkan matanya. Menikmati alunan musik yang sudah diputar sejak awal
perjalanan. Ia hanya ingin melepas penat akibat tuntutan pekerjaan. Namun, hal
tersebut tidak berlangsung lama. Karena beberapa saat setelahnya ia kembali
membuka kedua kelopak matanya secara mendadak. Bersamaan dengan pedal rem yang
diinjak secara tiba-tiba.
“Ada
apa?” tanya gadis itu secara spontan.