
Begitu sampai di
markas, Agatha langsung turun dari mobil. Bahkan tanpa mempedulikan pria itu
lagi. Agatha meninggalkan Immanuel begitu saja di parkiran. Ia sungguh tidak
berbalik dan berjalan dengan percaya dirinya.
“Kau kembali?” tanya
Zean.
“Apa ini sungguh
Rienna?” sambung Mike tak percaya.
“Tidak, yang sedang
kalian lihat sekarang ini adalah hantu!” balas gadis itu acuh tak acuh.
Sepertinya semua orang
sungguh berharap agar dirinya mati di tangan Hiraeth. Padahal sejauh ini Agatha
belum cukup merugikan banyak orang. Terutama rekan-rekan mafianya. Tidak
sekarang, tapi Agatha akan membuat mereka merasa dirugikan nanti. Tinggal menunggu
waktu yang tepat saja.
Hampir semua orang
tidak percaya jika Agatha kembali dengan selamat. Memang begitulah kenyataannya.
Sulit untuk diterima oleh organ yang selama ini mereka sebut sebagai otak. Tapi
tenang saja. Lama-lama juga akan terbiasa.
“Siapa kau sebenarnya?”
gumam Immanuel sambil memandangi mereka dari kejauhan.
Dia masih belum ingin
buka suara lebih banyak. Ada baiknya jika ia mencari tahu lebih dulu. Kalau
saja dugaannya salah, setidaknya Immanuel bukan asal menuduh. Melainkan
berdasarkan pada fakta yang tidak bisa dipungkiri. Mungkin perlu waktu beberapa
saat sampai ia berhasil mengumpulkan semua data yang diperlukan. Immanuel harus
memastikan sendiri apakah asumsinya benar atau tidak.
Immanuel
menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin terlalu memusingkan hal
tersebut. Dia masih bisa mengurusnya nanti. Tidak perlu dipikirkan sekarang. Masih
ada banyak waktu dan kesempatan untuk ke depannya yang bisa ia manfaatkan.
Tak ingin ambil pusing
soal hal yang belum pasti seperti itu, Immanuel lantas segera meyingkirkannya
dari dalam pikirannya. Kemudian bergegas masuk ke dalam untuk bergabung bersama
yang lain. Semua mata kini tertuju kepada Immanuel yang baru datang. Namun,
pria itu sama sekali tidak menghiraukan hal tersebut.
“Hei! Apa Rienna
sungguh lolos dari tangan Hiraeth?” tanya Fadli menuntut penjelasan.
“Ceritakan kepada kami
bagaimana caranya!” sambung Zean.
“Pasalnya, semua orang
yang terlibat masalah dengan pria itu pasti akan habis. Jika ia lebih lemah,
maka nyawanya sudah pasti tidak bisa terselamatkan. Namun, jika mereka seimbang
masih ada kemungkinan untuk selamat. Tapi tetap saja harus mendapatkan beberapa
luka,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Benar! Semua orang
juga tahu kalau Hiraeth selalu unggul,” imbuh Mike.
Agatha hanya memutar
bola matanya ke arah lain. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Sebenarnya
ia sedang malas untuk membahas tentang pria itu lagi. Kenapa dimana-mana topik
pembahasannya selalu saja sama. Selalu tentang Hiraeth. Seperti tidak ada yang
lain saja.
“Mustahil jika kau bisa
bebas dengan selamat,” ungkap Zean sambil membungkam mulutnya sendiri karena
takjub.
Ini adalah hal yang
cukup langka. Nyaris tidak pernah terdengar sama sekali. Sebuah keajaiban jika
Agatha benar bisa lolos dari pria itu. Apalagi kembali dalam kondisi
hidup-hidup tanpa kekurangan sesuatu apa pun.
“Buktinya dia selamat!”
celetuk Fadli sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Agatha.
Gadis itu sudah sadar
sejak tadi kalau dirinya sedang diperbincangkan. Nama Rienna pasti akan menjadi
topik pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di markas ini saja. Namun, juga di
markas utama pasti sedang membicarakan hal serupa. Zaman sekarang informasi
bisa menyebar dengan cepat.
“Apa kau tidak terluka?”
tanya Zean penasaran. Dari raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan
“Aku bahkan nyaris
mati!” tukas gadis itu sebal.
“Sudahlah! Tidak perlu
dibahas lagi!” acuhnya begitu saja.
Agatha buru-buru
menutupi seluruh wajahnya dengan jaket kulit yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia
tidak mau mendengar apa pun lagi yang terkait dengan peristiwa tadi. Seharusnya
yang berlalu tidak perlu dibahas lagi. Tidak penting juga.
“Jangan bahas soal itu
lagi!” larang Zean kepada teman-temannya yang lain.
Satu detik kemudian
mereka lansung diam. Tapi, keheningan tersebut tidak berlangsung lama. Karena pada
faktanya, Agatha masih bisa mendengar desas-desus yang ada di antara mereka. Meski
orang-orang di sekitarnya berbicara dengan suara pelan sekali pun, Agatha masih
bisa mendengar semuanya dengan jelas. Indera pendengarannya masih mampu bekerja
dengan baik sejauh ini. Bahkan di antara ke lima indera yang dimiliki manusia
pada umumnya, pendengaran adalah yang paling peka menurutnya.
Agatha mencoba untuk
tidak menghiraukan hal tersebut. Seperti biasanya. Ia harus bersikap bodo amat.
Ada beberapa hal yang memang tidak pantas untuk mendapatkan atensi kita. Jangan
terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Itu hanya menguras energi kita yang
terbatas.
***
Tidak ada hal lain yang
bisa ia lakukan selain tidur di sini. Mereka tidak akan membicarakan soal misi
penyerangan Markas Hato di tempat seperti ini. Untuk menjamin keamanan dari
informasi yang bersifat rahasia ini, mereka perlu membahasnya di markas utama. Tidak
mungkin ada informasi yang bocor sejauh ini. Tempat itu cukup aman untuk
menyimpan rahasia besar sekali pun.
Tak ada jadwal rutin
yang harus mereka kerjakan setiap harinya. Berbeda dengan di kantor. Kau harus
selalu siap kapan pun dan dimana pun itu. Mereka tidak akan dibiarkan
menganggur. Setiap harinya pasti selalu ada saja tugas yang harus diselesaikan.
Padahal tugas kemarin juga belum sempat selesai. Selalu ada saja masalah baru
yang datang. Padahal masalah kemarin saja belum sempat ditangani.
“Apa kalian tidak
merasa bosan?” tanya Fadli secara tiba-tiba.
“Kenapa kau baru
menanyakannya sekarang? Padahal setiap hari kita pasti selalu merasa bosan!”
celetuk Immanuel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Kalau begitu,
bagaimana jika kita pergi ke tempat itu?” usul Fadli.
“Sudah lama sejak
terakhir kali kita mengunjunginya,” imbuh pria itu.
Sepertinya mereka semua
langsung paham tentang tempat yang dimaksud oleh pria itu. Tidak perlu waktu
lama untuk mencerna perkataan barusan. Tampaknya semua orang di sini paham
dengan topik pembicaraannya, tapi kecuali Agatha. Ia bahkan tidak mengerti sama
sekali dengan apa yang sedang mereka bahas sekarang. Lantas, gadis itu memutuskan
untuk tidak bicara terlalu banyak. Apa lagi dia memang tidak tahu apa-apa.
“Bagaimana? Kau mau
ikut?” tanya Immanuel kepada Agatha.
Pria itu hanya
menawarkan dua opsi. Antara iya dan tidak. Cuma itu saja. Agatha tidak bisa memilih
kecuali yang telah disediakan.
“Kalian mau pergi
kemana memangnya?” tanya gadis itu balik.
“Jelas kau harus ikut
bersama kami. Tidak mungkin jika kami pergi dan meninggalkan satu orang di markas.
Sungguh tidak setia kawan sekali!” sela Mike secara tiba-tiba.
“Nanti kau juga akan
tahu,” balas Immanuel acuh tak acuh.
“Jadi bagaimana?”
tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
“Tidak,
aku tidak akan ikut pergi bersama kalian!” tolak Agatha secara mentah-mentah.