
Jadi apa rencananya
sekarang. Semua perlengkapan sudah siap. Agatha bahkan sudah menempati posisi
yang benar pula. Mari pikirkan sekali lagi. Dari sebegitu banyak rencana yang
muncul di dalam kepalanya, ia tidak bisa melakukan semuanya dalam waktu yang bersamaan.
Agatha harus memilih rencana yang terbaik di antara rencana-rencaana baik
lainnya.
“Haruskah aku menyingkirkan
senjata mereka lebih dulu?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Ia tidak bisa
memutuskan sekarang. Tapi, mau bagaimanapun itu Agatha harus tetap membuat
keputusana yang tepat dalam waktu cepat. Pasalnya sekarang ia tidak punya lebih
banyak sisa waktu lagi.
‘DRRTTTT!!!!’
Mendadak ponselnya
kembali bergetar pelan pada saat ia sedang memutar otak. Sontak perhatiannya
langsung teralihkan. Isi pikirannya buyar seketika.
“Arjuna lagi?” gumam
gadis itu.
Tanpa pikir panjang,
gadis itu buru-buru mengangkat teleponnya. Meski nama yang tertulis di layar
ponselnya adalah Arjuna, tapi itu bukan benar-benar pria itu. Mereka hanya
memanfaatkan Arjuna untuk memancing Agatha datang kemari. Tapi sepertinya kali
ini rencana mereka akan gagal. Sebab, Agatha tidak sebodoh itu. Kalau ia bodoh
dan tidak teliti, mana mungkin dipilih sebagai mata-mata. Tidakkah mereka
memikirkan soal yang satu itu. Tapi, tunggu dulu. Seharusnya pertanyaannya
diubah jadi begini.
“Apakah mereka bisa
berpikir?”
Agatha sama sekali
tidak yakin jika orang-orang itu benar menggunakan otaknya secara optimal. Atau
malah nyaris tidak pernah digunakan sama sekali. Miris.
“Halo!” sapa Agatha
lebih dulu.
“Sebentar lagi aku akan
sampai di sana. Sekarang masih terjebak macet,” bohong gadis itu.
Agatha sudah menyiapkan
jawaban yang diinginkan oleh Arjuna, bahkan sebelum pria itu bertanya.
Seharusnya tebakannya benar. Arjuna menghubunginya karena penasaran dengan
lokasi terbaru gadis itu. Tapi, ada yang lebih penasaran lagi selain Arjuna. Memangnya
siapa lagi jika bukan Hiraeth dan anak buahnya. Bukankah sejak tadi Agatha yang
mereka tunggu-tunggu.
“Baiklah kalau begitu,”
ujar Arjuna.
“Cepat datang kemari!” perintahnya
sekali lagi.
“Aku tidak bisa
memastikan kapan aku akan sampai ke sana. Jalanannya sungguh padat. Aku bahkan
tidak bisa bergerak sekarang ini,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.
Tanpa berpamitan sama
sekali, ia segera memutuskan sambungan teleponnya. Mereka pasti nanti akan
bertanya dimana Agatha terjebak macet sekarang ini. Sudah pernah dikatakan pada
bagian sebelumnya jika ia tidak sepolos itu. Manusia memang tidak bisa
memastikan apa pun yang akan terjadi di masa depan. Namun, logika dan intuisi
beserta segala kemungkinan lainnya menjadikan Agatha selangkah lebih cepat
adlam bertindak dari pada yang lainnya.
“Baiklah, jadi kalian
sudah tidak sabar dengan kejutanku ya?” tanya gadis itu.
Sekarang rencananya
sudah teratur. Ia akan melakukannya secara perlahan saja. Yang penting memiliki
hasil yang pasti. Lagi pula mereka memang selalu diminta untuk melakukan segala
sesuatunya dengan teliti. Tidak boleh terburu-buru. Dengan kata lain kau harus
tetap tenang saat mengerjakannya.
Agatha sudah memutuskan
siapa sasaran pertamanya dan bagaimana ia akan bekerja. Hiraeth adalah orang
pertama yang akan ia habisi. Tidak benar-benar dihabisi. Gadis itu hanya akan
memberikan sedikit pelajaran saja kepadanya agar merasa jera di kemudian hari. Kalau
selama ini orang-orang berkata jika Agatha telah mencari masalah kepada orang
yang salah, maka mari kita putar balik situasinya. Mereka akan melihat siapa
yang salah sekarang ini.
merasa menyesal. Seharusnya Hiraethlah yang merasa demikian. Dengan berhadapan
secara langsung kepada Agatha, seharusnya lututnya bergetar. Sebab, gadis itu
bisa menjadi apa saja. Tergantung dengan bagaimana orang lain memperlakukannya
selama ini. Bukankah manusia memiliki dua sisi berbeda di dalam dirinya. Tidak ada
manusia yang benar-benar baik, dan juga tidak ada manusia yang benar-benar
jahat. Hanya karena salah satunya lebih dominan, kau tidak bisa langsung
menyimpulkan jika dia orang baik atau jahat.
‘DOR!’
Tembakan pertama
mendarat dengan sempurna di titik yang sudah ditargetkan. Seorang pria yang
bernama Hiraeth itu langsung roboh. Sekarang ia tak lagi tampak gagah dan
menyeramkan. Jangankan mengancam, bergerak saja sudah tidak bisa. Hiraeth jadi
tergeletak di atas permukaan tanah dengan kondisi yang bersimbah darah.
Tenang saja, dia tidak
akan langsung mati. Sebenarnya bisa saja Agatha menembak pada bagian jantung
atau kepalanya. Tapi, ia bahkan tidak melakukan hal tersebut sama sekali. Alih-alih
melepaskan pelurunya ke bagian vital tersebut, gadis itu malah membiarkan timah
panas tersebut menghantam bahunya. Mungkin sekarang beberapa tulang sudah
patah, atau minimal remuk.
“Sekarang tinggal
membereskan anak-anak itu,” gumam Agatha.
Kemudian gadis itu
menyugar rambutnya ke belakang agar tidak menghalangi pemandangan. Siapa yang
mengira jika ia akan sekeren ini sekarang. Tidak bisa dipungkiri kalau memang
Agatha selalu terlihat keren ketika menjalankan aksinya.
“Ada sniper!” seru
salah satu dari mereka.
“Sniper?” gumam
Immanuel.
“Agatha ada di sekitar
sini!” seru pria itu kemudian.
Dengan cepat ia
menyadari keberadaan Agatha di sekitar sini. Bukan hanya itu saja. Ternyata ia
bahkan sudah tahu siapa nama asli gadis itu. Agatha sama sekali tidak masalah
sebenarnya. Ia hanya tidak menyangka saja kalau mereka bisa tahu secepat ini.
Semua itu pasti karena nama kontak yang tertera di ponsel Arjuna tadi.
“Jadi kalian sudah tahu
ya kalau aku ada di sekiar sini?” ucap Agatha.
“Baiklah, kalau begitu
sepertinya akan asik jika langsung kita mulai saja,” lanjutnya.
Tak ingin buang-buang
waktu lagi, gadis itu segera menyasar target berikutnya. Ia akan menghabisi
mereka secara satu-persatu. Membuat orang-orang itu mendapatkan hal yang tidak
jauh berbeda dengan pemimpinnya sekarang.
Kali ini Agatha akan
bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Ia harus berhasil mengalahkan mereka
semua lebih dulu sebelum orang-orang itu menyerangnya balik. Tidak ada cara
lain sekarang ini.
“Menurutmu apa yang
paling penting di sini?”
“Ya, benar kecepatan
dan ketepatan,”
Agatha membenarkan
posisinya. Mengunci sasaran pada target pertama dan seterusnya. Meski mereka
sudah menyadari keberadaan seorang sniper di sini, yang tidak lain dan tidak
bukan adalah Agatha. Tapi, tidak ada satu pun yang mengetahui dimana sniper
tersebut bersembunyi. Agatha tidak akan memunculkan batang hidungnya sampai
saatnya tiba nanti.
‘DOR! DOR! DOR!’
‘DOR! DOR!’
Suara
tembakan terdengar begitu menggelegar dimana-mana. Memangnya siapa lagi
pelakunya kalau bukan Agatha. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Gadis
itu perlu memastikan sekali lagi kalau mereka semua benar-benar sudah tidak
berdaya. Akan jauh lebih baik jika mereka dibirkan sekarat begitu saja dan
berakhir dengan meregang nyawa karena kehabisan darah. Ia sama sekali tidak
sudi untuk menolong orang seperti itu.