The Riot

The Riot
Lantai 21



Begitu sampai di lantai 21, mereka langsung


dihadapkan pada sebuah ruangan. Di depan pintunya sama sekali tidak ada


keterangan apa pun. Tidak ada pintu lain tampaknya di ruangan itu. Hanya ada


satu. Jadi, Agatha bisa menyimpulkan kalau mereka pasti akan melangkah masuk ke


ruangan tersebut.


“Ayo!” ajak Immanuel.


Gadis itu lantas mengangguk dengan cepat.


Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Immanuel


langsung membuka pintu tersebut begitu saja. Kemudian mendorongnya sedikit,


sehingga ada lebih banyak ruang kosong yang bisa mereka lewati. Begitu pintunya


terbuka, Agatha sedikit terkejut karena ada beberapa orang yang sedang duduk di


dalamnya. Tampaknya mereka sedang melakukan rapat.


Kini semua mata tertuju ke arah orang-orang yang


baru saja masuk ini. Kalau saja Immanuel mengetuk pintunya terlebih dahulu,


pasti Agatha tidak perlu takut kalau akan jadi pusat perhatian seperti ini.


“Kalian sedang apa?” tanya Zean.


“Kami sedang mendiskusikan rencana untuk menyerang


markas Hato. Tapi, tiba-tiba kalian datang,” jawab salah seorang pria muda yang


sedang duduk si sana.


“Oh, kalau begitu maaf karena sudah mengganggu,”


kata Zean.


“Kami kemari untuk mengambil beberapa senjata yang


baru saja masuk kemarin,” lanjutnya.


“Oh, iya-iya! Kami menyimpannya di tempat biasa.


Silahkan ambil saja,” persilahkan pria itu.


“Tapi, tunggu dulu!” ucapnya.


“Siapa dia? Kenapa kalian membawa orang asing masuk


ke markas utama?” tanya pria yang tadi.


Ia yang semula duduk, kini beranjak dari tempat


duduknya untuk menghampiri Zean dan teman-temannya. Agatha adalah satu-satunya


objek yang berhasil mencuri perhatian semua orang di sini.


“Jangan mendekat!” larang Immanuel.


“Dia adalah anggota baru kita. Baru bergabung


kemarin,” jelas pria itu kemudian.


Mendengar penjelasan dari Immanuel barusan, pria itu


lantas segera menghentikan langkahnya. Namun, tidak dengan sorot matanya. Ia terus


saja memandangi Agatha dengan tatapan yang aneh. Sulit untuk dijelaskan. Jujur


saja, gadis itu mulai merasa tidak nyaman dengan perlakuan tersebut.


“Bagaimana bisa kalian membawa orang yang baru


bergabung kemarin ke markas utama?” tanya pria itu lagi.


“Apa kau yakin jika dia bisa dipercaya?” lanjutnya.


Pertanyaan kali ini sepertinya sedang ditujukan


untuk Immanuel. Tenang saja, ini bukan pertanyaan yang sulit. Dia bisa


mengatasinya dengan mudah.


Sementara itu, di sisi lain Agatha tidak tahu harus


berbuat apa. Telapak tangannya mulai berkeringat karena gugup. Sial! Kenapa mendadak


nyalinya jadi ciut seperti ini. Padahal biasanya Agatha juga sudah cukup sering


berhadapan dengan para penjahat.


Sesekali ia menghela napasnya pelan untuk


menetralisir suasana hatinya. Agatha tidak boleh menunjukkan rasa gugupnya. Atau


kalau tidak, semua orang pasti akan merasa curiga. Yang terpenting adalah,


jangan sampai terlihat lemah. Mereka bisa menindasmu dengan sesuka hati


nantinya.


“Masalah bisa dipercaya atau tida, itu urusan


belakangan,” kata Immanuel dengan gamblang.


“Yang terpenting saat ini, kita memerlukan lebih


banyak orang lagi untuk menyerang markas Hato. Dan dia bisa diandalkan,”


jelasnya dengan panjang lebar.


“Kita bisa menghabisinya kalau memang dia


berkhianat!” tukas Immanuel dengan penuh penekanan.


Mendengar kalimat tersebut, membuat Agatha menelan


salivanya sendiri dengan susah payah. Kali ini dia harus berhati-hati. Sejak


awal ia juga sudah tahu kalau nyawanya yang akan menjadi taruhan di sini. Tidak


ada yang bisa menjamin kalau ia akan baik-baik saja. Termasuk Arjuna sekali


pun.


sedang berdiri di hadapannya.


“Rienna,” jawab gadis itu dengan hati-hati.


Sekali lagi ia perlu mengingat kalau nama yang


tertera di identitas palsunya adalah Rienna. Bukan Agatha. Jika sampai nama itu


terlontar keluar dari bibirnya secara tidak sengaja, tidak menutup kemungkinan


kalau ia akan terjebak dalam masalah yang tidak main-main.


“Nama yang bagus,” puji pria itu.


Agatha tidak ingin menanggapinya secara lebih. Dia hanya


tersenyum tipis.


“Namaku Daniel,” ucap pria itu kemudian.


“Senang bertemu denganmu,” balas Agatha.


“Jadi, apa urusanmu dengan anggota baru kita sudah


selesai?” tanya Immanuel tak sabar.


“Kalian bisa melanjutkan tugas kalian. Silahkan!” kata


Daniel.


“Baguslah kalau begitu,” gumam Immanuel tanpa


memalingkan pandangannya.


Tanpa berlama-lama lagi, Immanuel segera masuk ke


ruangan yang jauh lebih kecil dari pada ruangan sebelumnya. Sebenarnya tempat


ini aslinya hanya terdiri dari satu ruangan. Namun, tampaknya sang pemilik


ingin membagi-baginya jadi beberapa ruangan tambahan. Oleh sebab itu, setiap


ruangan yang berada di tempat ini hanya dipisahkan oleh beberapa baris rak buku


dan juga rak pajangan lainnya.


Agatha mengikuti langkah mereka dari belakang.


Karena masih pertama kalinya datang kemari, ia belum tahu apa-apa. Jadi masih


prelu tuntunan dari Immanuel dan yang lainnya. Sampai pada akhirnya langkah


mereka terhenti pada sebuah bilik yang terletak di paling ujung. Begitu mereka


masuk, ada beberapa tumpuk kotak baja di dalamnya dengan kode-kode tertentu


yang tertera di bagian depan.


“Apa ini semua senjata yang akan kita bawa?” tanya


Agatha untuk memastikan.


“Iya, kau benar!” jawab Mike.


“Tapi, bagaimana caranya untuk membawa semua ini


sementara kita kemari menggunakan sepeda motor? Yang benar saja,” ujar gadis


itu lagi.


“Lihat saja nanti bagaimana cara kita untuk membereskan


semua kekacauan ini!” celetuk Fadli secara tiba-tiba.


Agatha menggidikkan bahunya pelan pertanda tak tahu.


Terserah saja. Ia akan memperhatikan lebih dulu sebelum bertindak. Biarkan


mereka menunjukkan cara untuk menyelesaikan masalah itu kepada Agatha.


Zean tampak mengambil trolley khusus untuk membawa


beberapa kotak senjata yang pastinya tidak ringan. Sementara itu, Mike dengan


Fadli tampak menyusun beberapa kotak di atas trolley tersebut. Immanuel sendiri


sibuk dengan sebuah buku yang memang sudah ada di atas tumpukan kotak itu sejak


tadi. Sepertinya ada beberapa hal yang perlu ia periksa.


Sementara itu, di sisi lain Agatha sama sekali tidak


tahu harus melakukan apa. Sejak awal pertama kali mereka masuk kemari,


sepertinya semua orang sudah tahu apa yang harus mereka lakukan nantinya. Berbeda


dengan Agatha yang bahkan tidak tahu apa-apa. Dan yang lebih buruknya adalah tidak


ada satu orang pun yang ingin memberi tahu apa tugasnya. Semua orang tampak


sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Agatha.


Daripada terjebak dalam rasa kebingungan sendiri,


gadis itu memutuskan untuk buka suara. Tapi, hanya Immanuel yang menoleh.


“Tidak ada,” kata pria itu.


“Kau hanya perlu menunggu sampai mereka selesai


menyusun semua kotak,” jelasnya kemudian.


Agatha hanya mengangguk pelan. Tapi, rasanya aneh


ketika semua orang bekerja dan ia hanya bisa berdiam diri seperti ini.


“Pertama-tama kirimkan milik teman baik kita dulu!”


ujar Immanuel dengan suara yang lebih tinggi dari pada sebelumnya.


“Baiklah!” balas Zean


dan beberapa orang lainnya.