
Aaron mulai ikut terbawa suasana. Obrolan mereka
kali ini cukup serius. Sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk melewatkan
hal seperti ini. Pria itu memutuskan untuk menunda pekerjaannya. Dimatikan kompor
yang baru saja ia nyalakan. Kemudian meraih salah satu kursi yang berada di
ruang makan.
Meskipun tingal sendirian di apartment ini, Aaron
memiliki setidaknya lebih dari dua kursi di sini. untuk berjaga-jaga saja.
Siapa tahu ada tamu yang akan datang dan memerlukan benda itu nantinya. Salah satu
orang yang paling sering berkunjung kemari adalah Agatha. Gadis itu sering
diajak makan malam bersama olehnya.
“Apa maksudmu?” tanya Aaron sekali lagi.
Dia tidak ingin kalau sampai topik pembicaraan ini
beralih ke hal yang tidak terlalu penting.
“Kemari ada sekelompok anggota kepolisian yang
berjaga di sekitar lokasi,” ungkap lawan bicaranya pada saat itu yang merupakan
seorang pria.
Dia adalah tangan kanan Aaron. Namanya Mico. Lebih
tepatnya mereka sudah saling bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA. Keduanya
dulu dikenal sebagai anak yang suka membuat onar. Bahkan sangking seringnya,
sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak mereka keluar masuk ruang BK.
“Sial!” umpat Aaron.
“Bukankah kemarin aku sudah memperingatkanmu?!”
pekik pria itu kemudian.
“Aku bahkan sudah menyuruh yang lain agar bergerak
lebih lama dari jam yang sudah ditentukan. Sebab kami tahu jika Rino masih
berada di sana sampai esok pagi,” jelas Mico dengan panjang lebar.
“Dasar tidak becus!” cecarnya tak sabaran.
Aaron menjambak rambutnya pelan. Berusaha untuk
mengurangi rasa tegang di sekitar otot kepalanya. Sesekali ia juga memijat
pelipisnya pelan.
“Kau tahu seberapa sulit usahaku untuk mendekati
anggota kepolisian yang satu itu?” tanya Aaron dengan penuh penekanan.
“Dia telah terjebak pada sikap manipulatifku. Kita
bisa saja memanfaatkannya. Sumber informasi terbaru soal apa saja bisa kita
ketahui dengan mudah,” bebernya.
“Aku sudah memberikan kemudahan bagi kalian semua.
Anggap saja ini sebagai akses menuju tempat tak terbatas. Tapi kenapa kalian
masih tidak bisa mengatasi masalah kecil seperti itu ha?!” bentaknya di akhir.
Kecurigaannya sudah mulai muncul sejak kemarin
malam. Terkhusus pada saat Agatha menerima panggilan mendadak. Jika ia diminta
untuk pergi ke kantor pada waktu-waktu tertentu di luar jam kerja, itu berarti
ada sesuatu yang tidak beres.
Aaron bukan tipikal orang yang akan menyia-nyiakan
suatu kesempatan bagus seperti itu. Menyadari jika kepergian gadis itu kemarin
pasti ada hubungannya dengan rencana penyerangan mereka, Aaron lantas tak
tinggal diam. Ia bergegas mengabari timnya. Mereka sepakat untuk mengubah
rencananya. Namun ternyata kali ini Agatha dan teman-temannya yang jauh lebih
unggul. Mereka bahkan tidak bisa berkutik sama sekali.
Untuk sementara waktu, beberapa orang di antara
mereka terpaksa harus ditahan. Tapi, percayalah jika itu tidak akan lama.
Sebentar lagi Aaron dan teman-temannya yang lain akan mencari cara untuk
membebaskan mereka. Cepat atau lambat formasi mereka akan lengkap kembali.
“Berapa orang yang tertangkap kemarin?” tanya Aaron.
Kali ini nada bicaranya terdengar jauh lebih santai dari pada sebelumnya.
“Sekitar dua puluh tiga orang. Sisanya berhasil
melarikan diri sebelum diketahui keberadaannya oleh para petugas,” jabar pria
itu.
“Baiklah, suruh mereka untuk tetap bersabar. Kita
akan kembali bergerak dalam kurun waktu tujuh hari ke depan,” papar Aaron.
berkumpul di markas. Kita akan bicarakan rencana selanjutnya,” timpalnya
kemudian.
“Baiklah,” balas Mico dengan singkat.
‘TUT!!!’
Satu detik setelahnya, Aaron langsung memutuskan
sambungan teleponnya secara sepihak. Tidak peduli sama sekali tentang pria itu.
Jika memang masih ada hal yang ingin dibicarakan oleh Mico, maka seharusnya
mereka bisa membicarakan hal itu nanti di markas.
‘BRAK!”
Tiba-tiba pria itu menggebrak meja. Suaranya terdengar
cukup keras, karena memang ruangannya tidak terlalu besar. Aaron tidak bisa
menahan rasa kesalnya. Kali ini sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak kepada
Rino. Buktinya, semesta berhasil menggagalkan rencana balas dendam mereka
kemarin.
Andai saja semesta tidak berkata lain, pasti pria
itu sudah menanggung akibat dari perbuatannya sekarang. Kejahatan harus dibalas
dengan kejahatan lainnya. Begitulah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh
Aaron sejak dulu.
“Lihat saja kau nanti!” gumam Aaron.
Sekarang mereka harus memutar otak lagi. Mencari
rencana lain. Cara paling tepat untuk menyingkirkan rivalnya yang satu itu.
Semua orang juga sudah tahu jika mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Masing-masing
selalu mencari cara untuk saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Perselisihan ini dimulai ketika keduanya terlibat
dalam tawuran geng motor. Saat itu, adik laki-laki Aaron yang baru berusia
sekitar delapan belas tahun ikut terlibat di dalamnya. Ia berada di tim yang
sama dengan kakaknya. Sampai pada satu titik yang tidak pernah bisa ia terima
hingga sekarang. Fakta yang paling ia benci di dalam kehidupan ini adalah
ketika mengetahui kalau adiknya telah mati di tangan Rino. Sejak saat itu ia
tidak pernah bisa tenang sebelum Rino enyah dari dunia ini.
Sementara itu, mamanya menderita depresi berat
akibat kepergian adiknya. Sekarang tengah dirawat di salah satu rumah sakit
jiwa. Kondisinya semakin memburuk sejak satu tahun belakangan ini. Aaron hanya
mengunjungi beliau seminggu sekali. Itupun tidak bisa bertemu secara langsung. Karena
kondisi mental wanita itu yang masih belum stabil. Ia begitu terguncang dengan
berita kematian anak bungsunya.
Sejak hari itu, ia begitu membenci Aaron. Mamanya menganggap
jika Aaron adalah satu-satunya penyebab kematian adiknya. Wanita itu masih
belum bisa memaafkan anak sulungnya sampai saat ini. Padahal kejadian itu bukan
sepenuhnya salah Aaron.
Jika diingat-ingat kembali, sebenarnya akar dari
permasalahan ini berada pada papanya. Pria sialan itu memutuskan untuk bercerai
dari istrinya. Diketahui jika ia sudah berselingkuh selama lima tahun terakhir
sebelum pada akhirnya menikahi wanita selingkuhannya itu. Hubungan yang
terbilang tidak sebentar.
Aaron masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada
laki-laki sekejam dirinya. Padahal ada orang yang mencintainya dengan begitu
tulus. Ia malah meninggalkan keluarga kecilnya dan pergi keluar negeri untuk
memulai hidup baru bersama perempuan murahan itu. Informasi yang terakhir kali
Aaron dengar, jika ia memboyong istri barunya ke Hongkong bersama dengannya.
Andai saja kedua orang tuanya tidak bercerai waktu
itu. Mungkin keluarga mereka masih tetap menjadi keluarga yang harmonis. Aaron
tidak akan ugal-ugalan di jalan raya bersama geng motornya, adiknya tidak akan
terlibat dalam tawuran tersebut. Dan yang paling penting, mamanya tidak akan
mengalami depresi berat.
Tapi, semua itu hanya
seandainya. Terkadang semesta tidak bekerja sesuai dengan keinginan kita. Dia
tahu apa yang terbaik. Mendewasakan manusia dengan caranya.