The Riot

The Riot
Cheat



Ini sudah lebih dari


percobaan yang kelima kali. Tapi, sama sekali tidak ada tanda-tanda jika Arjuna


akan menjawab teleponnya. Entah apa yang sedang ia lakukan. Seharusnya sekarang


pria itu sudah sampai di rumahnya. Agatha saja sudah sampai sejak tadi. Apalagi


jarak rumah Arjuna dengan café yang mereka datangi tadi jauh lebih dekat.


“Apa dia sudah tidur?”


tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.


Ia lantas segera memalingkan


pandangannya ke arah jam dinding. Kemudian dahinya berkerut. Tampaknya ia


sedang bingung sekaligus berpikir keras. Sekarang bahkan baru pukul  setengah sepuluh malam. Tidak mungkin kalau


Arjuna sudah tidur. Beberapa hari yang lalu, pria itu bahkan meneleponnya tepat


di tengah malam.


“Apa yang harus


kulakkan sekarang?”


“Aku harus memberi tahu


Arjuna sebelum esok hari tiba. Nasibku sedng dipertaruhkan saat ini. Setidaknya


pria itu harus membantuku walau pada akhirnya aku terpaksa harus mati juga,” pasrahnya


begitu saja.


Selama ini sudah cukup


Agatha melakukan semuanya sendiri. Mulai dari mencuri informasi penting, hingga


beradu kekuatan dengan pada mafia itu di awal. Arjuna bahkan tidak melakukan


apa pun selain memberi perintah. Agatha sampai berasumsi, jika jangan-jangan


pria itu juga tidak benar-benar mengawasi dirinya.


***


‘DRRTTT!!!’


Sementara itu, di sisi


lain Arjuna tidak mempedulikan ponselnya yang sudah bergetar sejak tadi.


Padahal itu adalah panggilan masuk dari Agatha. Ini penting. Gadis itu juga


tidak akan mau menelepon malam-malam seperti ini jika tidak ada sesuatu yang


penting.


Bukannya menjawab


telepon tersebut, pria itu malah sibuk berbincang dengan seorang gadis yang


digadang-gadang sebagai kekasihnya. Mereka sedang berada di rumah Arjuna sambil


menikmati makan malam romantis. Satu-satunya alasan kenapa pria itu memilih


untuk bertemu dengan Agatha di café tadi hanya karena letaknya yang cukup


srategis.


Café itu bersebrangan


langsung dengan rumah sakit tempat Zura bekerja. Jadi setelah selesai bertemu


dengan Agatha, dia bisa langsung menjemput gadis itu. Beruntung kali ini mereka


tidak ketahuan oleh Agatha.


“Jadi, bagaimana dengan


buku harian itu?” tanya Zura sambil menyantap makanannya.


“Temanmu yang satu itu


sudah membacanya sampai habis. Dan sepertinya ia sama sekali tidak curiga.


Sekarang bukunya sudah dikembalikan kepadaku,” jawab Arjuna dengan apa adanya.


“Baguslah kalau


begitu,” balas gadis itu lalu mengangguk pelan.


Arjuna memang sengaja


mengundang gadis itu untuk datang kemari. Hari ini adalah peringatan hari


jadian mereka yang ke dua tahun. Ya, kalian tidak salah dengar. Arjuna dan Zura


memang diam-diam sudah menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu. Tidak


banyak orang yang tahu. Bahkan mungkin memang tidak ada sama sekali.


“Tapi, aku tidak yakin


kalau Agatha benar-benar mencintaiku,” kata Arjuna.


“Lihat sendiri


bagaimana kenyataannya yang sungguh berbanding terbalik dengan apa yang


tertulis di buku,”  lanjutnya kemudian.


“Maksudmu?” tanya Zura


yang sama sekali tidak paham.


“Di buku itu


jelas-jelas Agatha menyatakan kalau dia menyukaiku. Tapi, setiap kali kami


bertemu, sikapnya tidak pernah menunjukkan kalau dia sedang jatuh cinta,” jelas


Arjuna dengan poin yang lebih detail lagi.


“Lalu, kau juga bilang


kalau Agatha tidak pernah bercerita sedikit pun tentang pria yang sedang


disukainya,” imbuhnya di akhir.


“Hahaha!!! Kau ini


seperti tidak pernah jatuh cinta saja,” kata Zura.


“Menyimpan perasaan itu


sama saja dengan bertaruh,” papar gadis itu.


Mendengar penjelasan


tersebut, Arjuna lantas mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Pertanda jika ia


paham. Sepertinya masuk akal juga. Beberapa orang yang pernah ia jumpai memang


lebih cendenrung untuk menyimpan rasa sukanya sendiri. Sebab, akan sakit pasti


rasanya kalau tidak mendapatkan kenyataan yang sesuai dengan ekspektasi kita.


Cinta bertepuk sebelah


tangan. Bukan itu yang mereka inginkan. Melainkan sebaliknya. Walau kadang,


dunia tak selalu seperti yang mereka mau. Tapi, apa salahnya berharap. Seperti


itulah manusia.


“Cukup percaya saja


jika dia benar menyukaimu. Memangnya untuk apa sampai berbohong?” kata Zura.


Sepertinya gadis itu


tahu betul tentang sahabatnya. Tentu saja. Bukan satu atau dua tahun lagi


mereka sudah saling mengenal. Mungkin sudah lebih dari lima tahun. Tapi,


pertemanan yang lama pun tidak menjamin apa-apa. Sudah pernah kukatakan


sebelumnya, jika tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Jangan terlalu


mencintai orang lain, siapa tahu jika suatu hari kau akan membencinya. Juga


jangan terlalu membenci orang lain. Bisa saja di masa depan nanti dia adalah


orang yang paling kau cintai. Tidak ada manusia yang benar-benar baik. Juga


tidak ada manusia yang benar-benar jahat di dunia ini. Jadi, secukupnya saja.


Sesuai dengan porsinya.


Arjuna menggaruk


kepalanya yang tak gatal. Dia selalu begitu. Hanya gerakan refleks yang kerap


dilakukan tanpa sadar saja.


“Entahlah, Agatha tidak


mudah untuk ditebak,” akunya.


“Kalau begitu habiskan


makananmu dan jangan pikirkan soal gadis itu lagi!” perintah Zura sambil


memutar bola matanya malas.


“Ayolah! Ini hari


peringatan jadian kita. Kenapa kau masih memusingkan soal Agatha?!” protes


gadis itu.


Raut wajahnya kemudian


berubah jadi murung. Bibirnya maju beberapa centi. Zura tidak akan pernah


memaafkan sahabatnya yang satu itu untuk kejadian malam ini. Agatha berhasil


merusak suasana makan malam mereka. Bukan hanya itu saja. Ia bahkan ikut


merusak suasana hati Zura. Karena alasan yang serupa pula, Zura jadi tak selera


makan lagi. Ia berhenti di tengah-tengah kegiatan.


“Jangan bilang kalau


kau sungguh-sungguh menyukainya sekarang!” tuduh Zura.


“Tentu saja tidak!”


tepis Arjuna dengan cepat.


“Bagaimana bisa kau


menyimpulkan hal seperti itu?!” protes Arjuna balik.


Tentu saja pria itu


tidak terima jika dituduh demikian. Jelas-jelas dirinya dengan Agatha tidak ada


hubungan apa-apa selain rekan kerja. Tuntutan pekerjaan membuat mereka selalu


bersama. Tapi, tetap saja tidak ada rasa apa pun yang tumbuh di antara mereka


berdua sejauh ini. Arjuna berani bersumpah untuk yang satu itu.


Soal buku harian Arjuna


yang kemarin, itu hanya rekayasa belaka. Zura juga tahu dan bahkan terlibat


secara langsung. Akan sangat disayangkan jika mereka tidak memanfaatkan


kesempatan bagus seperti ini.


“Orang yang sedang


jatuh cinta tidak akan menyatakan perasaannya dengan mudah,” ujar Agatha secara


gamblang.


“Itu yang kukatakan di


awal tadi. Kuharap kau tidak melupakannya,” imbuhnya.


Arjuna lantas menghela


napas dengan kasar. Sesekali memijat pelipisnya pelan. Tidak. Bukan suasana


seperti ini yang mereka inginkan. Seharusnya mereka tidak perlu membahas soal


gadis itu. Sekarang bukan waktu yang tepat. Topik tentang Agatha hanya bisa


merusak suasana. Membuat pertikaian di antara mereka berdua.


“Sudah!


Jangan pernah sebut nama itu lagi saat kita sedang berdua seperti ini!” seru


pria itu sambil menggebrak meja, kemudian pergi.