The Riot

The Riot
Spa



Untuk mengurangi beban dari tekanan pekerjaannya,


Agatha mengajak Zura untuk pergi ke salah satu spa. Ia perlu menenangkan


pikirannya untuk sesaat, di tengah situasi yang kian memanas. Percuma saja jika


ia berusaha untuk memecahkan masalah tersebut tanpa berpikir dengan kepala yang


dingin.


Kebetulan sekali hari ini Zura sedang tidak ada


jadwal di rumah sakit. Padahal sekarang bukan hari libur. Jadi, ia hanya


melakukan kunjungan ke kamar pasien saja. Berbeda dengan Agatha yang sedang


sibuk-sibuknya belakangan ini.


“Apa kau sudah menunggu lama?” tanya Agatha.


Gadis itu langsung menginterupsi Zura begitu ia


sampai di dalam mobil. Tadinya ia sempat menawarkan diri untuk menjemput gadis


itu di pusat perbelanjaan sekitar apartmentnya. Namun, Agatha terpaksa harus


datang terlambat. Memangnya karena apalagi jika bukan akibat pekerjaannya.


“Kau sudah membuatku menunggu selama lima belas


menit!” ketus Zura.


“Maafkan aku!” balas Agatha yang tak mau kalah.


“Kau tahu sendiri jika belakangan ini aku sedang


sibuk,” lanjut gadis itu.


Agatha mendumal di dalam mobil sembari tetap fokus


pada jalanan di depannya. Sementara itu, Zura tampaknya sama sekali tidak


berminat untuk menanggapi ocehan gadis itu. Terkadang ia memang menjadi terlalu


berlebihan ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Beberapa kali Zura sempat


menyarankan kepada sahabatnya yang satu itu untuk mengambil cuti. Tapi, ia


tidak mau. Malah saran dari Zura ditolak mentah-mentah, dengan alasan


pengabdian terhadap pekerjaannya.


Jika sudah merasa terbebani, lihat saja akibatnya


sekarang. Agatha bahkansudah tidak memiliki opsi lain untuk menenangkan dirinya


sendiri lagi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah dengan pergi ke spa.


“Nanti biar aku yang menyetir saat perjalanan pulang


dari spa!” celetuk Zura secara tiba-tiba.


Sontak Agatha membulatkan kedua bola matanya. Ia


masih tidak percaya, jika gadis itu sungguh menawarkan dirinya. Pasalnya sangat


jarang Zura mau memberikan bantuan secara cuma-cuma seperti ini, kalau bukan


karena ada seseorang yang memintanya.


“Apa seseorang menyuruhmu tadi?” tanya Agatha untuk


memastikan.


Diam-diam, ia masih belum bisa mempercayai perkataan


gadis itu sepenuhnya.


“Tidak sama sekali,” jawab Zura dengan apa adanya.


Mendengar pernyataan tersebut, Agatha lantas


mengangguk-anggukkan kepalanya pelan untuk mengiyakan perkataan gadis itu.


Lagipula memangnya apa masalahnya jika menerima tawaran bantuan dari sahabat


sendiri. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Mereka sudah cukup lama saling


mengenal satu sama lain. Sejauh ini, Agatha sudah percaya dengan gadis itu.


Sebab mereka sering menghabiskan waktu bersama sejak dulu.


“Baiklah kalau begitu,” simpul Agatha sambil tetap


fokus menyetir.


“Kau yang akan menyetir saat perjalanan pulang


nanti,” tegasnya sekali lagi.


Sejak tadi Agatha sama sekali tidak memalingkan


pandangannya dari jalanan yang berada tepat di depannya. Meski pada hakikatnya,


akan terkesan sangat tidak sopan jika kau berbicara tanpa menatap mata lawan


bicaramu. Tapi untuk saat ini hal tersebut bahkan sudah tidak menjadi masalah


sama sekali. Zura pun tidak ingin mempermasalahkan yang satu itu.


Mereka berdua sadar betul, jika kau harus ekstra


berhati-hati saat sedang berkendara di jalan raya. Tidak boleh bersikap sembarangan.


Resikonya tidak main-main. Sama sekali tidak menutup kemungkinan, jika nyawamu


lah yang akan menjadi taruhannnya.


Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke tempat spa


yang mereka maksud. Hanya memakan waktu perjalanan sekitar dua puluh menit dari


lokasi mereka yang sebelumnya. Itu jika tidak macet. Namun jika kondisi jalanan


ramai, mungkin akan memakan waktu dua puluh lima sampai dengan tiga puluh


menit.


Begitu saampai di sana, Agatha langsung menggiring


mobilnya menuju parkiran. Kebetulan sekali sedang tidak terlalu banyak orang.


Mungkin karena ini masih hari kerja juga. Biasanya tempat umum seperti ini akan


ramai pada akhir pekan.


sibuk. Dia berusaha untuk menyempatkan dirinya pergi kemari, karena memang


sedang butuh beberapa penyegaran. Bisa-bisa kinerja otaknya tidak bisa


seoptimal dulu lagi jika terus dipaksa untuk bekerja. Padahal saat pertama kali


melamar pekerjaan ini, Agatha sudah menyetujui salah satu persyaratannya untuk


mempu bekerja di bawah tekanan.


***


Gadiis-gadis itu menghabiskan waktu selama kurang


lebih dua jam di sana. Setelah itu mereka kembali ke apartmentnya


masing-masing. Sesuai dengan janji Zura sebelumnya, jika ia yang akan menyetir


saat perjalanan pulang.


“Hati-hati di jalan!” seru Zura, yang kemudian


mendapatkan anggukn dari gadis itu.


Setelah Zura turun, Agatha kembali mengambil alih


posisi kursi pengemudi. Tanpa banyak basa-basi lagi, gadis itu segera


berpamitan kepada temannya sebelum benar-benar beranjak dari sana. Agatha


menggiring mobilnya untuk kembali menuju jalan raya. Melaju dengan kecepatan


normal, meski ia bisa saja mengemudikannya dengan kecepatan penuh. Sekali lagi,


ia perlu mengingat satu hal di sini. Agatha masih ingin menjalani sisa


hidupnya. Umurnya sekarang masih terlalu cepat untuk meninggalkan dunia. Bahkan


ia belum sempat menjeelajahi keseluruhan isi dunia yang katanya indah ini.


‘CITTT!!!’


Begitu sampai di jalanan kecil menuju parkiran


apartmentnya, gadis itu dikejutkan oleh sebuah mobil sport hitam yang mendadak


berada di depannya. Bukan hanya itu saja. Mobil tersebut bhkan terlihat sedang


menghadang jalanan. Sehingga membuatnya mau tak mau harus mengerem secara


mendadak.


“Siapa orang yang tidak becus dalam memarkirkan


mobilnya seperti ini!” gerutu Agatha di dalam mobil.


‘TIN! TIN! TIN!’


Beberapa kali gadis itu membuyikan klaksonnya secara


sengaja. Dengan maksud untuk member tahu si pengemudi mobil, jika tindakannya


salah. Memarkirkan kendaraan di tengah jalan seperti ini hanyalah pekerjaan


orang gila yang tidak tahu apa-apa. Tapi, memangnya orang gila mana yang


memiliki mobil mewah. Tidak masuk akal.


“Kenapa dia tidak bergerak juga!” geramnya.


‘TIN!’


Agatha kembali membunyikn klakson. Kali ini


kesabarannya sudah nyaris mencapai level maksimal. Jangan salahkan dirinya,


jika ia memperingati si pengemudi mobil itu dengan cara kasar. Pasalnya cara


baik-baik tidak mempan sama sekali.


Gadis itu memutuskan untuk keluar dari mobilnya,


kemudian menghampiri pengemudi mobil itu. Sudah jelas-jelas jika ia berada di


dalam sejak tadi. Lantas kenapa tidak menghiraukan peringatan dari Agatha sama


sekali.


“Hei! Keluar cepat!” titah gadis itu.


Seseorang yang berada di dalam sana, sontak langsung


teralihkan perhatiannya.


“Ck! Jadi dia sudah datang?” gumamnya.


“Baguslah kalau begitu,” lanjut orang tersebut.


Tanpa pikir panjang lagi, orang tersebut segera


membuka pintu mobilnya. Ia bahkan tidak terlihat gentar sama sekali ketika


menyadari kalau harus berhadapan dengan Agatha.


“Aaron?” gumam gadis itu seolah tidak percaya.


Entah apa yang dilakukan pria itu di sini. Secara


mengejutkan, I muncul di hadapan Agatha. Bukan dengan cara baik-baik, melainkan


sebaliknya.


“Apa maumu?!” tanya Agatha dengan lugas.


Ia sedang tidak punya banyak waktu. Apalagi untuk


berbasa-basi dengan orang sepertinya. Aaron hanya seorang pencari masalah yang


tidak tahu terima kasih di mata gadis itu. Kepribadiannya sungguh buruk di


hadapan Agatha. Dan ia tidak akan bias mengubah cara Agatha dalam memandang


dirinya.


‘GREPP!!!’


Tanpa banyak bicara,


Aaron segera meraih tangan gadis itu. Mencengkramnya dengan kuat. Ia tidak akan


membiarkan Agatha lepas begitu saja kali ini.