The Riot

The Riot
Slept



Karena


mengingat jika tempat tinggal Agatha tidak terlalu besar, maka mereka


memerlukan pengaturan ruangan yang tepat. Paling tidak cukup untuk menampung


mereka berdua di dalamnya. Agatha tentu tidak ingin diganggu sama sekali. Ia


akan tetap tidur di kamarnya sendiri. Tidak ada seorang pun yang boleh


mengganggu gugat hal tersebut.  Bahkan


termasuk Aaron. Dia tidak akan membiarkan pria itu mengusirnya dari tempat


tinggalnya sendiri.


Gadis


itu membongkar lemari di kamarnya. Berharap masih ada sisa selimut yang bisa


digunakan oleh Aaron untuk tidur mala mini. Beruntung masih ada satu lagi. Itu


adalah selimut yang ia pakai bulan lalu dan baru saja selesai dicuci. Jadi


tidak perlu khawatir akan apa pun.


Setelah


mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu bergegas keluar. Ia perlu menemui Aaron


secepatnya. Jika tidak pria itu pasti akan menunggu lebih lama. Sejak tadi


Aaron sudah berdiri di ambang pintu.


“Ini!”


ujar Agatha sembari menyodorkan selimutnya.


“Kau


tidur di ruang tengah selama tinggal di sini,” jelasnya kemudian.


“Kenapa


seperti itu?” tanya Aaron secara gamblang.


Mendengar


perkataan tersebut, Agatha hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Bagaimana


bisa ia tidak mengerti dengan situasi dan kondisinya sekarang ini.


“Kau


lihat? Tidak ada ruangan lain yang bisa digunakan,” beber Agatha.


“Bagaimana


dengan ruangan yang satu itu?” tanya Aaron sambil mengarahkan jari telunjuknya


ke sudut ruangan.


Benar.


Di sana masih ada satu ruangan lagi. Sejak awal kedatangan Aaron di tempat ini,


pintunya tidak pernah terbuka sama sekali. Entah hal macam apa yang ia


sembunyikan di baliknya. Aaron tidak bisa menebaknya dengan pasti. Hanya sang


empunya yang tahu.


“Kau


tidak bisa memakai ruangan yang satu itu,”


“Kenapa?”


“Bagaimana


bisa kau tidur nyenyak di dalam gudang?”


Agatha


berusaha untuk mengelak. Secara terang-terangan ia menolak usulan Aaron.


Bagaimanapun juga, Aaron memang tidak bisa pergi ke sana. Tidak sembarang orang


bisa memasuki ruangan itu.


Sementara


itu di sisi lain, Aaron tidak bisa berbuat apa-apa. Mendadak ia jadi bisu


seribu bahasa. Ketika gadis itu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan baru,


ia kehabisan kata-kata. Agatha tahu betul bagaimana caranya untuk membuat Aaron


bungkam.


Percakapan


mereka malam itu berakhir sampai di sana. Tanpa berpamitan sama sekali, gadis


itu langsung memutar balik badannya. Agatha menutup pintu kamarnya dengan agak


kasar. Sehingga menimbulkan suara debaman yang cukup kuat. Membuat benda-benda


di sekitarnya ikut bergetar pelan.


Tak


ingin ambil pusing soal kejadian barusan, Aaron lantas beralih menuju ruang


tengah. Tidak ada pilihan lain. Untuk malam ini mau tidak mau ia harus tidur di


ruang tengah. Bisa mendapatkan tempat persembunyian yang terbilang cukup aman


saja sudah membuatnya bersyukur. Satu-satunya alasan yang membuat pria itu


tidak ingin pergi ke hotel dan bersembunyi di sana untuk sementara waktu adalah


karena tingkat keamanannya yang rendah. Rino bisa saja menemukan keberadaannya


dengan mudah. Terlebih jika Aaron tidak memesan kamar dengan menggunakan


identitas palsunya.


Untuk


orang seperti dirinya, identitas palsu terbilang cukup penting. Karena mereka


tidak akan pernah tahu kapan dunia berbalik menyerangnya. Berjaga-jaga sejak


jauh-jauh hari adalah cara terbaik untuk menyelamatkan diri.


Kedua


purnama yang sedang memeluk gulita. Sembari menunggu sampai surya keluar dari


sarangnya.


***


“Dasar


pemalas!” cecar Agatha begitu melihat pemandangan yang tidak ia inginkan.


Sekarang


jarum jam hampir menyentuh angka delapan. Yang berarti jika beberapa menit lagi


Agatha harus segera pergi untuk bekerja. Menjalankan kewajibannya sebagai


anggota kepolisian. Tiap kali menyambut hari baru, satu-satunya hal yang


berhasil memenuhi isi kepalanya saat ini adalah kasus pembunuhan berantai.


Tidak peduli sekeras apa ia mencoba untuk menyingkirkan hal tersebut dari dalam


kepalanya. Hasilnya tetap sama nihil. Sepertinya Agatha tidak akan bisa


benar-benar tenangh sebelum kasusnya selesai.


“Hei!


Bangun!” seru Agatha sembari mengguncang-guncang pelan tubuh Aaron.


Ia


berniat untuk membangunkan Aaron pada awalnya. Namun, ternyata hasilnya tidak


jauh berbeda dengan apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Alih-alih bangkit


dan mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya, pria itu malah tetap melanjutkan


kegiatannya. Ia tampak begitu nyenyak. Seolah tidak ada seorang pun yang bisa mengusiknya.


“Huh!”


Agatha


menghela napas dengan kasar. Kedua tangannya ia tumpukan di setiap sisi


pinggulnya. Menatap pemandangan yang tidak ia suka. Gadis itu tidak tahu harus


berbuat bagaimana lagi. Sepertinya alam bawah sadar pria ini masih memeluknya


dengan erat. Tidak membiarkan Aaron untuk terjaga. Padahal sekarang sudah


waktunya ia untuk bangun.


“Pasti


ada sesuatu yang cukup indah, sehingga mampu membuatnya bertahan seperti ini,”


gumam gadis itu pelan.


Padahal


ia bisa saja berbicara dengan volume normal. Seolah tidak ingin membangunkan


Aaron dari tidurnya sama sekali, ia merendahkan volume suaranya. Sudah jelas


Aaron tidak akan mendengarnya. Tadi saja ia masih bisa mengacuhkan Agatha.


Padahal gadis itu sudah berteriak persis di telinganya.


Sekarang


Agatha sudah tidak punya lebih banyak waktu lagi. Ia harus segera berangkat ke


kantor, atau tidak akan terlambat. Bisa-bisa ia terpaksa harus menunda pekerjaannya


lagi dan harus mendengarkan omelan atasannya. Itu adalah hal paling membosankan


yang pernah ia lalui seumur hidupnya.


Ia


memilih untuk membiarkan pria itu tetap tertidur, sementara Agatha pergi


bekerja. Untuk hari ini Aaron mungkin selamat. Namun, entah dengan besok.


Agatha tidak akan segan-segan membuatnya bangun dengan cara apa pun besok/


“Nanti


dia pasti juga akan bangun kalau nyawanya sudah terkumpul,” batin gadis itu


dalam hati.


Selama


perjalanan ke kantor, ia sama sekali tidak memikirkan apa pun. Bahkan sekarang masalah


pembunuhan berantai itu tidak lagi menjadi hal yang nomer satu dalam skala


prioritasnya.


Begitu


sampai, ia langsung disambut oleh beberapa rekan kerjanya yang sudah sampai


lebih dulu. Beruntung Agatha berhasil sampai dua menit lebih cepat dari yang ia


bayangkan. Sehingga gadis itu belum sempat terlambat. Syukurlah.


“Bagaimana


soal perkembangan kasusmu?” tanya Arjuna yang entah datang darimana. Ia muncul


secara tiba-tiba, namun tidak cukup sukses untuk mengejutkan gadis itu.


“Jangan


tanyakan hal itu kepadaku lagi,” balas Agatha acuh tak acuh.


“Aku


sedang malas membicarakan hal itu sekarang,” jelasnya kemudian.


Tanpa perlu ia jelaskan pun, orang


lain pasti sudah tahu. Ekspresinya tidak bisa berbohong. Sepertinya hari ini


suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja seperti biasanya. Raut wajahnya


cenderung datar dan nyaris tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tapi, bisa


dipastikan jika ia sedang tidak senang sama sekali.