The Riot

The Riot
Vromm!!!



Sebenarnya sejak awal Agatha tidak pernah mau untuk bertemu


dengan Narendra. Jika bukan karena pria itu yang memaksa, maka mungkin ia tidak


akan pernah pergi. Seharusnya sejak awal dia sudah tahu apa konsekuensinya. Pembicaraan


antara anak dan ayah ini tidak pernah berlangsung baik-baik saja. Setiap topik


yang mereka bahas tidak pernah menemui titik terang. Meski Agatha dan Narendra


memiliki hubungan darah antara satu sama lain, tetap saja mereka berdua tidak


pernah sependapat.


Setelah pembicaraan tadi di acara makan malam, Agatha pergi


meninggalkan restoran tempat mereka makan dengan begitu saja. Ia bahkan tidak


menghiraukan Narendra sama sekali. Di sisi lain, pria itu juga tampak tidak


berusaha untuk menghentikan Agatha seperti biasanya. Narendra sudah tahu kalau


itu hanya akan berakhir sia-sia. Usahanya nihil. Sebab Agatha bukan tipikal


orang yang mudah untuk dibujuk. Dirinya terlalu keras. Entah diturunkan dari


siapa sikapnya yang satu itu.


Tanpa berpamitan sama sekali, Agatha melangkah keluar tanpa


merasa bersalah. Tapi, ia tidak langsung kembali ke apartmentnya. Melainkan pergi


ke tempat lain. Suatu tempat yang palingsering ia datangi ketika sedang merasa


tidak baik-baik saja.


Beruntung hari ini membawa sepeda motor bersamanya. Tidak bisa


diipungkiri jika jarak antara restoran kali ini dengan tempat tujuannya


memiliki jarak yang lumayang. Kalau dikatakan terlalu jauh, tidak juga. Tapi,


juga tidak dapat dikatakan dengan terlalu dekat.


‘VROM! VROM! VROM!’


Gadis itu mulai menyalakan mesin sepeda motornya begitu


sampai di parkiran. Kemudian menaikkan gasnya beberapa kali untuk menguji.


Agatha sekali tidak memikirkan bagaiman reaksi orang-orang di sekitarnya dengan


suara berisik dari sepeda motor miliknya. Walaupun sebenarnya pelataran tempat


parkir ini terletak cukup jauh dari pusat keramaian, tapi tetap saja mereka


mendengarnya.


Setelah merasa jika semuanya sudah siap, ia langsung


bergegas pergi. Membawa sepeda motornya untuk berkeliaran di jalan raya pada


saat gullita sedang menutupi kota. Angkasa tampak gelap. Beberapa daerah yang


dilewati juga minim akan cahaya. Karena pada faktanya cahaya dari lampu jalanan


saja tidak cukup. Namun, itu bukan masalah yang terlalu serius baginya. Agatha bukan


tipikal orang yang takut akan kegelapan. Dia sedikit berbeda dengan kebanyakan


gadis pada umumnya. Namun, meski begitu ia tetaplah seorang wanita biasa.


Harus ada setidaknya seseorang yang melindunginya secara


sukarela. Seharusnya Narendra bisa mengisi kekosongan pada posisi tersebut.


Sampai kapan pun, gadis itu tidak akan bisa berdiri sendiri. Dia harus


memikirkan tentang bagaimana keadaannya nanti pada saat terpuruk. Agatha perlu


tahu jika dia tidak bisa mengatasi semuanya sendiri. Namun, di sisi lain ia


juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan apalagi sampai berharap kepada orang


lain.


“Mereka semua hanya bisa mengomentari hidupku tanpa pernah


tahu apa yang sebenarnya sudah kulewati sejauh ini.”


“Manusia memang selalu hidup seperti itu.”


“Karena pada kenyataannya, melihat kesalahan orang lain jauh


lebih mudah daripada mengakui kesalahan sendiri.”


“Sepertinya kita hanya hidup untuk saling menyalahkan.”


Semakin dipikirkan, semakin ia


tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Agatha termakan oleh emosinya. Ada rasa


yang meledak-ledak di dalam dirinya. Tapi, sayangnya Agatha bukan tipikal orang


yang mudah untuk menunjukkan perasaannya dengan baik. Dia jauh lebih suka untuk


memendam daripada menunjukkan.