
Sebenarnya sejak awal Agatha tidak pernah mau untuk bertemu
dengan Narendra. Jika bukan karena pria itu yang memaksa, maka mungkin ia tidak
akan pernah pergi. Seharusnya sejak awal dia sudah tahu apa konsekuensinya. Pembicaraan
antara anak dan ayah ini tidak pernah berlangsung baik-baik saja. Setiap topik
yang mereka bahas tidak pernah menemui titik terang. Meski Agatha dan Narendra
memiliki hubungan darah antara satu sama lain, tetap saja mereka berdua tidak
pernah sependapat.
Setelah pembicaraan tadi di acara makan malam, Agatha pergi
meninggalkan restoran tempat mereka makan dengan begitu saja. Ia bahkan tidak
menghiraukan Narendra sama sekali. Di sisi lain, pria itu juga tampak tidak
berusaha untuk menghentikan Agatha seperti biasanya. Narendra sudah tahu kalau
itu hanya akan berakhir sia-sia. Usahanya nihil. Sebab Agatha bukan tipikal
orang yang mudah untuk dibujuk. Dirinya terlalu keras. Entah diturunkan dari
siapa sikapnya yang satu itu.
Tanpa berpamitan sama sekali, Agatha melangkah keluar tanpa
merasa bersalah. Tapi, ia tidak langsung kembali ke apartmentnya. Melainkan pergi
ke tempat lain. Suatu tempat yang palingsering ia datangi ketika sedang merasa
tidak baik-baik saja.
Beruntung hari ini membawa sepeda motor bersamanya. Tidak bisa
diipungkiri jika jarak antara restoran kali ini dengan tempat tujuannya
memiliki jarak yang lumayang. Kalau dikatakan terlalu jauh, tidak juga. Tapi,
juga tidak dapat dikatakan dengan terlalu dekat.
‘VROM! VROM! VROM!’
Gadis itu mulai menyalakan mesin sepeda motornya begitu
sampai di parkiran. Kemudian menaikkan gasnya beberapa kali untuk menguji.
Agatha sekali tidak memikirkan bagaiman reaksi orang-orang di sekitarnya dengan
suara berisik dari sepeda motor miliknya. Walaupun sebenarnya pelataran tempat
parkir ini terletak cukup jauh dari pusat keramaian, tapi tetap saja mereka
mendengarnya.
Setelah merasa jika semuanya sudah siap, ia langsung
bergegas pergi. Membawa sepeda motornya untuk berkeliaran di jalan raya pada
saat gullita sedang menutupi kota. Angkasa tampak gelap. Beberapa daerah yang
dilewati juga minim akan cahaya. Karena pada faktanya cahaya dari lampu jalanan
saja tidak cukup. Namun, itu bukan masalah yang terlalu serius baginya. Agatha bukan
tipikal orang yang takut akan kegelapan. Dia sedikit berbeda dengan kebanyakan
gadis pada umumnya. Namun, meski begitu ia tetaplah seorang wanita biasa.
Harus ada setidaknya seseorang yang melindunginya secara
sukarela. Seharusnya Narendra bisa mengisi kekosongan pada posisi tersebut.
Sampai kapan pun, gadis itu tidak akan bisa berdiri sendiri. Dia harus
memikirkan tentang bagaimana keadaannya nanti pada saat terpuruk. Agatha perlu
tahu jika dia tidak bisa mengatasi semuanya sendiri. Namun, di sisi lain ia
juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan apalagi sampai berharap kepada orang
lain.
“Mereka semua hanya bisa mengomentari hidupku tanpa pernah
tahu apa yang sebenarnya sudah kulewati sejauh ini.”
“Manusia memang selalu hidup seperti itu.”
“Karena pada kenyataannya, melihat kesalahan orang lain jauh
lebih mudah daripada mengakui kesalahan sendiri.”
“Sepertinya kita hanya hidup untuk saling menyalahkan.”
Semakin dipikirkan, semakin ia
tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Agatha termakan oleh emosinya. Ada rasa
yang meledak-ledak di dalam dirinya. Tapi, sayangnya Agatha bukan tipikal orang
yang mudah untuk menunjukkan perasaannya dengan baik. Dia jauh lebih suka untuk
memendam daripada menunjukkan.