
Tampaknya kali ini ia berhasil menggaet hati gadisi
tu dengan masakannya. Sekarang suasana hati Agatha sudah jauh lebih baik
daripada sebelumnya. Mungkin ini adalah saat yang tepat bagi pria itu beraksi. Mencuri
beberapa informasi penting. Karena sejak awal, memang itulah tujuannya datang
kemari. Makanan itu hanya sebagai pengalih perhatian saja, agar Agatha tidak
menaruh rasa curiga berlebihan kepadanya. Meski sebenarnya gadis itu selalu
saja merasa curiga terhadapnya. Terutama soal makanan.
“Hei, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu!”
celetuk Aaron secara tiba-tiba.
Kalimatnya barusan ternyata berhasil menarik atensi gadis
itu sepenuhnya. Membuat Agatha rela untuk menunda kegiatannya sementara waktu.
“Apa itu?” tanya gadis itu kemudian.
“Ini soal yang kemari,” katanya.
“Sebenarnya bukan sesuatu, melainkan beberapa hal,”
koreksi pria itu kemudian.
Agatha memberikan tempat dan waktu untuk pria itu
bicara. Dia tidak akan memotong pembicaraannya. Lebih tepatnya, Agatha tidak
akan buka suara sebelum diminta. Menurutnya, menghargai adalah hal paling dasar
yang harus dimiliki setiap manusia. Jika ingin diperlakukan secara pantas oleh
orang lain, maka kita harus bersikap demikian pula.
“Kemarin malam apa orang-orang di kantor sungguh
memanggilmu untuk kembali ke sana?” tanya Aaron sebagai permulaan.
“Ya, begitulah,” balas Agatha sambil menggidikkan
kedua bahunya.
“Itu sudah menjadi resikonya. Aku harus siap untuk
dipanggil kapan saja. Tidak ada yang pernah tahu kapan hal buruk akan terjadi,”
jelasnya dengan panjang lebar.
“Memangnya tidak ada orang lain di sana?” tanya pria
itu lagi.
“Kenapa harus kau yang dipanggil?” timpalnya
kemudian.
Sepertinya Aaron begitu penasaran. Sampai-sampai ia
melemparkan dua pertanyaan secara sekaligus terhadap gadis itu. Untungnya saat
diajak bicara, suasana hatinya sedang bagus. Jika tidak, ia mungkin sudah kena
amukan gadis itu sejak awal buka mulut.
“Entahlah, aku juga tidak tahu!” ungkapnya.
Kali ini Agatha bicara jujur. Dia sedang tidak
berusaha untuk menutupi apa pun. Padahal sekarang bukan waktunya untuk terlalu
terbuka dengan orang lain. Terkadang kita juga perlu tahu kapan haru bersikap
jujur dan malah sebaliknya.
“Lalu, apa saja yang kalian lakukan kemarin? Kenapa
kau pulang begitu lama?” tanya Aaron lagi.
Bahkan sampai saat ini masih pria itu yang berada di
posisi si penanya. Tampaknya Agatha sama sekali tidak memiliki niat untuk
bertanya kembali.
“Tidak ada yang terlalu penting. Hanya penyergapan
dan patrol rutin di beberapa tempat tertentu,” jawab gadis itu dengan apa
adanya.
“Sampai jam berapa?” tanya pria itu lagi untuk yang
kesekian kalinya.
“Mungkin sekitar jam tiga,” jawabnya sambil berusaha
mengingat-ingat kembali.
Agatha perlu memastikan ulang apakah informasi yang
ia berikan cukup akurat. Pasalnya kemarin ia sama sekali tidak diberikan
kesempatan untuk melihat jam. Fokus terhadap apa yang terjadi. Itu adalah
perintah yang diterimanya dari Arjuna.
“Memangnya apa pedulimu?!” pekik Agatha.
“Tentu saja aku peduli!” balas Aaron dengan nada bicara yang tak kalah
tinggi.
“Tidak lucu jika kau mendadak pulang dalam keadaan
yang tidak diharapkan semua orang. Atau malah tidak kembali sama sekali,”
gumamnya pelan.
Namun, ternyata masih belum cukup pelan. Buktinya Agatha
masih bisa mendengar setiap kata yang terlontar dari kalimatnya dengan begitu
jelas.
Padahal baru saja suasana hatinya membaik. Sekarang malah
sudah kembali seperti beberapa saat yang lalu. Tidak masalah jika itu berada
pada situasi yang lebih baik. Namun, ini malah sebaliknya.
“Bukan begitu!” dalih Aaron.
“Aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk
terhadapmu. Mengingat jika kau adalah salah satu anggota kepolisian. Pekerjaamu
pasti penuh dengan resiko dan bahaya,” papar pria itu dengan sedetail mungkin.
“Tidak selamanya berbahaya,” ucap Agatha. Kali ini
nada bicaranya terdengar jauh lebih santai dari pada sebelumnya.
“Kau hanya perlu siap untuk kehilangan hal berarti
dalam bentuk apa pun, dan kapan pun,” timpalnya kemudian.
“Tapi, bukankah sebagai manusia kita memang harus
selalu siap akan maut?” kata Aaron yang kemudian ikut diangguki oleh gadis itu.
Untuk yang kali ini, keduanya sudah sependapat. Apa pun
pekerjaannya, pasti memiliki resiko tersendiri. Nyawa adalah taruhan yang
paling berharga. Setelahnya tidak ada lagi.
“Omong-omong, tadi kau bilang jika kemarin malam
kalian pergi menyergap. Memangnya ada hal apa?” tanya Aaron lagi untuk yang
kesekian kalinya.
Topik pembicaraan mereka hampir saja keluar dari
jalur tadi. Tapi, untung Aaron segera menyadari hal tersebut. Kemudian ia
segera mengajak Agatha untuk kembali ke topik pembicaraan mereka yang
sebelumnya. Perlu ditegaskan sekali lagi jika tujuan utama Aaron datang kemari
adalah untuk mencuri informasi penting sebanyak-banyaknya. Sudah tentu harus
berkaitan dengan dirinya.
“Biasa, orang-orang suka sekali membuat keributan di
tempat umum,” balas Agatha.
Semua jawaban yang diberikan oleh Agatha memang
jujur. Ia bicara dengan apa adanya. Namun, sejauh ini Aaron belum mendapatkan
apa yang ia mau. Tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Semua hanya berupa
jawaban sementara.
Sejujurnya hal tersebut cukup untuk membuat ubun-ubunnya
mendidih karena emosi. Namun, mau tak mau ia harus berusaha untuk bersikap
normal. Menahan semua lonjakan emosinya. Agatha mungkin tidak akan mau
mempercayainya lagi jika begini caranya.
“Maksudku siapa yang kalian tangkap kemarin?” tanya
Aaron dengan begitu sabar.
“Sekelompok mafia yang tidak kuketahui apa nama
kelompok mereka,” jelas Agatha.
Akhirnya obrolan kali ini nyaris sudah menjumpai
titik terang. Perlahan namun pasti, Aaron sudah mulai bisa membuka gerbang
tersebut. Kunci pintu gerbangnya ada di tangan Aaron. Kendali dalam bentuk apa
pun berada di tangannya.
“Apa sampai sekarang mereka masih ditahan di kantor
polisi?” tanya pria itu untuk memastikan kembali.
“Tentu saja!” jawab Agatha dengan yakin.
“Kami tidak akan pernah membiarkan orang-orang seperti
mereka berkeliaran di kotan dan mengganggu kenyamanan publik,” tegasnya sekali
lagi.
Mendapati jawaban seperti itu dari lawan bicaranya,
Aaron lantas tersenyum miring. Senyumannya tampak samar-samar. Nyaris tak
terlihat. Sehingga pasti sulit bagi Agatha untuk menyadari hal tersebut. Atau mungkin
ia memang tidak tahu sama sekali.
“Tapi, sayangnya kau melewatkan salah satu dari
mereka,” batin pria itu di dalam hati.
Yang sedang ia maksud di sini adalah dirinya
sendiri. Bagaimana mungkin gadis itu bisa melewatkan dirinya. Asal ia tahu saja
kalau Aaron merupakan pimpinan tertinggi dari segerombolan kelompok mafia itu. Apa
pun yang ia katakan, pasti tidak akan pernah mendapat bantahan.
Aaron menjadi sosok
yang cukup disegani di antara yang lain. Jika Agatha melewatkan pemimpinnya,
maka itu sama saja tidak berarti. Karena sang pemimpin juga bisa bergerak
sendiri, meski tanpa anak buahnya.