
Aaron
sungguhan menggendongnya hingga mereka sampai di halte bus. Dari sini kebetulan
tak lama lagi aka nada sebuah bus yang menuju sekitaran apartment Agatha.
Mereka bisa mempersingkat perjalanannya dengan naik bis saja. Sepertinya Aaron
juga tidak akan mampuu untuk menempuh perjalanan seutuhnya dengan cara yang
seperti ini.
“Apa
tadi dia sungguh menawarkan bantuan kepadaku?” batin Agatha di dalam hati
sambil tetap menyoroti pria itu.
Saat
ini mereka sedang menunggu di halte. Syukurlah pada waktu itu tidak ada
siapa-siapa di sana. Hanya ada mereka berdua saja. jika tidak, orang-orang
pasti akan mengomentari penampilan mereka saat ini yang terkesan berantakan.
Agatha bahkan mengakui hal tersebut. Sangking tidak maunya menjadi pusat
perhatian, gadis itu llantas berharap agar bisnya segera datang.
Sepertinya
Aaron juga merasakan hal yang serupa. Hanya saja, ia cukup ahli dalam menutupi
ekspresinya. Sehingga orang lain tidak bisa mengetahuinya dengan mudah.
“Kenapa
melihatku seperti itu?” tanya Aaron secara tiba-tiba.
Pria
itu berhasil memecah keheningan suasana di antara mereka. Isi pikiran Agatha
juga langsung buyar pada saat yang bersamaan.
“Sial!
Bagaimana bisa dia tahu?!” gerutu Agatha dalam hati.
Gadis
itu terlampau merasa sebal. Sampai-sampai ia merutuki dirinya sendiri. Sekarang
suasananya berubah. Berikut dengan atmosfirnya juga.
“Jangan
terlalu percaya diri!” tepis Agatha.
“Sudah
jelas-jelas tertangkap basa, masih tidak mau mengaku juga,” balas Aaron sambil
tertawa jengah.
Sepertinya
pria itu sudah sadar sejak awal jika Agatha memperhatikannya secara diam-diam.
Sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana wajahnya jika sudah seperti ini. Agatha
berusaha untuk mengurangi perasaan malunya dengan mengepal kedua tangannya
kuat-kuat. Meski ppada akhirnya hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada bedanya.
Sepertinya hal tersebut memang tidak berpengaruh apa-apa.
“Ayo
naik!”ajak Aaron.
“Bisnya
sudah datang,” timpalnya kemudian.
Tanpa
pikir panjang lagi, Agatha langsung menaikkan pandangannya dan melihat lurus ke
depan. Ternyata benar bisnya sudah datang. Mereka sudah menunggunya sejak tadi.
Agatha lantas buru-buru bangkit dari tempat dudukya. Menyusul langkah Aaron
yang sudah menginjakkan kakinya lebih dulu di dalam bis. Mereka memilih untuk
duduk di bangku paling belakang. Padahal masih banyak bangku lain yang kosong.
Bis
ini sedang tidak terlalu ramai. Hanya berisikan sekitar lima sampai enam orang
di dalamnya. Padahal biasanya jam segini kendaraan umum jadi cenderung ramai
akan penumpang. Bahkan bisa dibilang cukup padat. Karena sudah memasuki jam
pulang kerja. Tapi, sepertinya hal tersebut akan menjadi suatu pengecualian
khusus untuk hari ini.
Sepanjang
perjalanan sama sekali tidak ada yang buka suara. Sehingga suasana di dalam
benar-benar sunyi. Sepi dan tenang menjadi satu. Bercampur dengan sedikit suara
hiruk-pikuk perkotaan dari luar sana.
Mereka
sudah menempuh hampir setengah perjalanan. Tapi, keadaannya masih tetap sama.
Ini bukan sesuatu yang mengasyikkan. Tidak sama sekali. Paling tidak harus ada
satu atau dua hal yang bisa mengalihkan perhatiannya. Dengan begitu suasana
tidak akan berubah jadi membosankan lagi.
“Jadi-“
“Hey!
Apa-“
Baik
Agatha maupun Aaron sama-sama saling melemparkan tatapan antara satu sama lain.
Mereka nyaris tidak percaya jika sebelumnya berbicara pada saat yang bersamaan.
“Kau
saja dulu!” persilahkan Aaron.
“Tidak-tidak.
Kau saja yang bicara lebih dulu,” katanya.
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali melanjutkan kalimatnya yang
sempat terpotong tadi, Agatha malah memberikan kesempatan tersebut kepada
Aaron. Tidak. Keputusannya tidak salah sama sekali. Ia hanya kurangbisa
memanfaatkan hal-hal kecil di sekitarnya dengan baik.
“Baiklah
kalau begitu,” ucap Aaron dengan pasrah.
Padahal
sebelumnya ia ingin mendengarkan perkataan gadis itu lebih dulu. Tapi, Agatha
malah meminta sebaliknya. Mereka tidak mungkin menhabiskan waktu hanya untuk
berdebat akan hal yang tidak penting sama sekali. Keduanya bukan tipikal orang
yang akan ambil pusing jika bisa menggunakan cara yang jauh lebih sederhana.
“Jadi,
apa yang ingin kau katakan tadi?” tanya Agatha.
“Begini.
Sepertinya aku tidak bisa kembali ke rumahku lagi setelah kejadian tadi,” ujar
pria itu dengan apa adanya.
“Tidak!”
interupsi Agatha secara tegas.
“Aku
tidak akan membiarkanmu tinggal di apartmentku lebih lama lagi,” jelasnya.
“Aku
tidak suka jika ada orang asing yang menyebalkan di sekitarku. Mereka bisa
merusak suasana hatiku dengan cepat,” beber gadis itu dengan panjang lebar.
“Cari
tempat lain saja!” tegasnya sekali lagi.
Aaron
hanya bisa tercengang mendengar perkataan gadis itu barusan. Ia bahkan tidak
bisa berkutik sama sekali sejak awal Agatha buka suara. Entah bagaimana caranya
gadis itu bisa tahu maksud dan tujuannya. Padahal sejak awal Aaron belum ada mengungkapkan
apa pun secara terang-terangan. Ia bahkan belum menjelaskan bagian
terpentingnya di sini. Tapi, dengan mudahnya Agatha bisa menebak itu semua.
Ternyata
benar apa kata orang-orang, jika wanita lebih peka. Mereka cenderung lebih
banyak menggunakan perasaan. Rupanya itu bukan cuma sekedar omong kosong saja.
Aaron tidak pernah begitu mempercayai hal tersebut sebelumnya. Tapi, kini
sepertinya hatinya mulai luluh. Sebuah fakta berhasil membuka matanya
lebar-lebar.
“Tapi,
tidakkah kau merasa kasihan kepadaku? Aku tidak memiliki tempat tinggal lain
selain yang tadi itu!” celoteh Aaron dengan menggebu-gebu.
Pria
itu sempat berpikir sebelumnya jika Agatha akan memberikan tumpangan secara
cuma-cuma. Sebab, tampaknya ia bukan gadis yang sombong. Wajahnya sama sekali
tidak menunjukkan hal seperti itu. dan memang, Agatha bukan orang yang
demikian. Andai saja Aaron tidak bersikap kasar kepadanya beberapa waktu lalu,
mungkin ia akan mempertimbangkan permohonan tersebut.
“Aku
berjanji untuk tidak akan merepotkanmu selama berada di sana,” bujuk Aaron.
“Bukankah
kau orang kaya?” tanya Agatha.
“Kalau
begitu kau bisa menyewa tempat lain saja untuk tinggal sementara waktu!”
tegasnya sekali lagi.
Padahal
sejak awal sudah jelas-jelas jika Agatha menolak. Ia bahkan tidak ingin
mempertimbangkan keputusannya lebih dulu.
‘CIT!!’
Bis
yang mereka tumpangi mendadak mengerem. Jika dilihat, ternyata merkea sudah
sampai pada pemberhentian berikutnya. Tidak. Agatha tidak akan turun di sini.
Masih ada satu halte lagi setelah ini. Di sanalah nantinya ia akan berhenti.
“Kukira
sudah sampai,” gumam Agatha sambil membenarkan posisi duduknya.
Di
saat yang bersamaan pula Aaron berhenti berceloteh. Tidak seperti tadi yang
terkesan memaksa. Mendadak ia berubah menjadi begitu tenang. Diam. Membisu
seribu bahasa. Entah apa yang terjadi dengannya. Entah itu sedang menyusun
rencana lain di dalam kepalanya, atau malah sudah menyerah. Tapi, yang sejauh
Agatha tahu ia bukan tipikal orang yang mudah menyerah.
Meskipun mereka baru bertemu
akhir-akhir ini saja akibat insiden, tapi Agatha sudah bisa memahami
karakteristiknya. Tidak perlu waktu lama bagi Agatha untuk membaca
kepribadiannya. Gadis itu sudah terbiasa melakukan hal serupa sejak dulu.