The Riot

The Riot
Bis



Aaron


sungguhan menggendongnya hingga mereka sampai di halte bus. Dari sini kebetulan


tak lama lagi aka nada sebuah bus yang menuju sekitaran apartment Agatha.


Mereka bisa mempersingkat perjalanannya dengan naik bis saja. Sepertinya Aaron


juga tidak akan mampuu untuk menempuh perjalanan seutuhnya dengan cara yang


seperti ini.


“Apa


tadi dia sungguh menawarkan bantuan kepadaku?” batin Agatha di dalam hati


sambil tetap menyoroti pria itu.


Saat


ini mereka sedang menunggu di halte. Syukurlah pada waktu itu tidak ada


siapa-siapa di sana. Hanya ada mereka berdua saja. jika tidak, orang-orang


pasti akan mengomentari penampilan mereka saat ini yang terkesan berantakan.


Agatha bahkan mengakui hal tersebut. Sangking tidak maunya menjadi pusat


perhatian, gadis itu llantas berharap agar bisnya segera datang.


Sepertinya


Aaron juga merasakan hal yang serupa. Hanya saja, ia cukup ahli dalam menutupi


ekspresinya. Sehingga orang lain tidak bisa mengetahuinya dengan mudah.


“Kenapa


melihatku seperti itu?” tanya Aaron secara tiba-tiba.


Pria


itu berhasil memecah keheningan suasana di antara mereka. Isi pikiran Agatha


juga langsung buyar pada saat yang bersamaan.


“Sial!


Bagaimana bisa dia tahu?!” gerutu Agatha dalam hati.


Gadis


itu terlampau merasa sebal. Sampai-sampai ia merutuki dirinya sendiri. Sekarang


suasananya berubah. Berikut dengan atmosfirnya juga.


“Jangan


terlalu percaya diri!” tepis Agatha.


“Sudah


jelas-jelas tertangkap basa, masih tidak mau mengaku juga,” balas Aaron sambil


tertawa jengah.


Sepertinya


pria itu sudah sadar sejak awal jika Agatha memperhatikannya secara diam-diam.


Sungguh memalukan. Mau ditaruh dimana wajahnya jika sudah seperti ini. Agatha


berusaha untuk mengurangi perasaan malunya dengan mengepal kedua tangannya


kuat-kuat. Meski ppada akhirnya hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada bedanya.


Sepertinya hal tersebut memang tidak berpengaruh apa-apa.


“Ayo


naik!”ajak Aaron.


“Bisnya


sudah datang,” timpalnya kemudian.


Tanpa


pikir panjang lagi, Agatha langsung menaikkan pandangannya dan melihat lurus ke


depan. Ternyata benar bisnya sudah datang. Mereka sudah menunggunya sejak tadi.


Agatha lantas buru-buru bangkit dari tempat dudukya. Menyusul langkah Aaron


yang sudah menginjakkan kakinya lebih dulu di dalam bis. Mereka memilih untuk


duduk di bangku paling belakang. Padahal masih banyak bangku lain yang kosong.


Bis


ini sedang tidak terlalu ramai. Hanya berisikan sekitar lima sampai enam orang


di dalamnya. Padahal biasanya jam segini kendaraan umum jadi cenderung ramai


akan penumpang. Bahkan bisa dibilang cukup padat. Karena sudah memasuki jam


pulang kerja. Tapi, sepertinya hal tersebut akan menjadi suatu pengecualian


khusus untuk hari ini.


Sepanjang


perjalanan sama sekali tidak ada yang buka suara. Sehingga suasana di dalam


benar-benar sunyi. Sepi dan tenang menjadi satu. Bercampur dengan sedikit suara


hiruk-pikuk perkotaan dari luar sana.


Mereka


sudah menempuh hampir setengah perjalanan. Tapi, keadaannya masih tetap sama.


Ini bukan sesuatu yang mengasyikkan. Tidak sama sekali. Paling tidak harus ada


satu atau dua hal yang bisa mengalihkan perhatiannya. Dengan begitu suasana


tidak akan berubah jadi membosankan lagi.


“Jadi-“


“Hey!


Apa-“


Baik


Agatha maupun Aaron sama-sama saling melemparkan tatapan antara satu sama lain.


Mereka nyaris tidak percaya jika sebelumnya berbicara pada saat yang bersamaan.


“Kau


saja dulu!” persilahkan Aaron.


“Tidak-tidak.


Kau saja yang bicara lebih dulu,” katanya.


memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali melanjutkan kalimatnya yang


sempat terpotong tadi, Agatha malah memberikan kesempatan tersebut kepada


Aaron. Tidak. Keputusannya tidak salah sama sekali. Ia hanya kurangbisa


memanfaatkan hal-hal kecil di sekitarnya dengan baik.


“Baiklah


kalau begitu,” ucap Aaron dengan pasrah.


Padahal


sebelumnya ia ingin mendengarkan perkataan gadis itu lebih dulu. Tapi, Agatha


malah meminta sebaliknya. Mereka tidak mungkin menhabiskan waktu hanya untuk


berdebat akan hal yang tidak penting sama sekali. Keduanya bukan tipikal orang


yang akan ambil pusing jika bisa menggunakan cara yang jauh lebih sederhana.


“Jadi,


apa yang ingin kau katakan tadi?” tanya Agatha.


“Begini.


Sepertinya aku tidak bisa kembali ke rumahku lagi setelah kejadian tadi,” ujar


pria itu dengan apa adanya.


“Tidak!”


interupsi Agatha secara tegas.


“Aku


tidak akan membiarkanmu tinggal di apartmentku lebih lama lagi,” jelasnya.


“Aku


tidak suka jika ada orang asing yang menyebalkan di sekitarku. Mereka bisa


merusak suasana hatiku dengan cepat,” beber gadis itu dengan panjang lebar.


“Cari


tempat lain saja!” tegasnya sekali lagi.


Aaron


hanya bisa tercengang mendengar perkataan gadis itu barusan. Ia bahkan tidak


bisa berkutik sama sekali sejak awal Agatha buka suara. Entah bagaimana caranya


gadis itu bisa tahu maksud dan tujuannya. Padahal sejak awal Aaron belum ada mengungkapkan


apa pun secara terang-terangan. Ia bahkan belum menjelaskan bagian


terpentingnya di sini. Tapi, dengan mudahnya Agatha bisa menebak itu semua.


Ternyata


benar apa kata orang-orang, jika wanita lebih peka. Mereka cenderung lebih


banyak menggunakan perasaan. Rupanya itu bukan cuma sekedar omong kosong saja.


Aaron tidak pernah begitu mempercayai hal tersebut sebelumnya. Tapi, kini


sepertinya hatinya mulai luluh. Sebuah fakta berhasil membuka matanya


lebar-lebar.


“Tapi,


tidakkah kau merasa kasihan kepadaku? Aku tidak memiliki tempat tinggal lain


selain yang tadi itu!” celoteh Aaron dengan menggebu-gebu.


Pria


itu sempat berpikir sebelumnya jika Agatha akan memberikan tumpangan secara


cuma-cuma. Sebab, tampaknya ia bukan gadis yang sombong. Wajahnya sama sekali


tidak menunjukkan hal seperti itu. dan memang, Agatha bukan orang yang


demikian. Andai saja Aaron tidak bersikap kasar kepadanya beberapa waktu lalu,


mungkin ia akan mempertimbangkan permohonan tersebut.


“Aku


berjanji untuk tidak akan merepotkanmu selama berada di sana,” bujuk Aaron.


“Bukankah


kau orang kaya?” tanya Agatha.


“Kalau


begitu kau bisa menyewa tempat lain saja untuk tinggal sementara waktu!”


tegasnya sekali lagi.


Padahal


sejak awal sudah jelas-jelas jika Agatha menolak. Ia bahkan tidak ingin


mempertimbangkan keputusannya lebih dulu.


‘CIT!!’


Bis


yang mereka tumpangi mendadak mengerem. Jika dilihat, ternyata merkea sudah


sampai pada pemberhentian berikutnya. Tidak. Agatha tidak akan turun di sini.


Masih ada satu halte lagi setelah ini. Di sanalah nantinya ia akan berhenti.


“Kukira


sudah sampai,” gumam Agatha sambil membenarkan posisi duduknya.


Di


saat yang bersamaan pula Aaron berhenti berceloteh. Tidak seperti tadi yang


terkesan memaksa. Mendadak ia berubah menjadi begitu tenang. Diam. Membisu


seribu bahasa. Entah apa yang terjadi dengannya. Entah itu sedang menyusun


rencana lain di dalam kepalanya, atau malah sudah menyerah. Tapi, yang sejauh


Agatha tahu ia bukan tipikal orang yang mudah menyerah.


Meskipun mereka baru bertemu


akhir-akhir ini saja akibat insiden, tapi Agatha sudah bisa memahami


karakteristiknya. Tidak perlu waktu lama bagi Agatha untuk membaca


kepribadiannya. Gadis itu sudah terbiasa melakukan hal serupa sejak dulu.