The Riot

The Riot
It's Your Turn Sir



Sepertinya semua orang


juga sudah tahu apa tugasnya tanpa perlu diberi tahu kembali. Sebelumnya mereka


juga sudah membahas hal yang sama selama berulang-ulang. Hari ini hanya tinggal


penegasan kembali saja sebelum pada akhirnya mereka meluncur ke lokasi.


Saat ini orang-orang


itu sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi. Kendaraan mereka akan berpencar


pada salah satu ruang jalas. Mereka tidak bisa terus berjalan secara beriringan


seperti ini kalau tak mau dicurigai. Ada empat mobil dan satu sepeda motor. Mereka


semua terbagi jadi lima tim yang berbeda. Sesuai dengan kendaraannya


masing-masing.


Karena hanya berdua


saja, Agatha dan Alexa memilih untuk naik sepeda motor saja. Jauh lebih


praktis. Lagi pula bawaan mereka tidak terlalu banyak. Sementara yang lainnya


menggunakan mobil karena satu tim terdiri dari empat sampai dengan lima orang.


“Biar aku saha yang


mengemudi,” tawar Alexa.


“Baiklah,” balas Agatha


lalu meyerahkan kunci sepeda motor tersebut.


Agatha sungguh merasa


tidak sabar. Jangan salahkan gadis itu kalau nanti ia terpaksa menyerang balik


para mafia itu. Lagi pula sejak awal ia sama sekali tidak pernah memihak kepada


mereka. Tujuan utama Agatha datang kemari hanya untuk memata-matai kegiatan


mereka.


Waktu menjelang tengah


malam adalah momen yang paling tepat untuk menjalankan aksi. Meski tetap saja


museum itu pasti memiliki penjagaan yang cukup ketat. Mengingat lukisan paling


mahal karya seniman dunia baru saja sampai kemarin. Jelas mereka tidak akan


meninggalkannya begitu saja. Dengan atau tanpa kehadiran lukisan itu di sana


pun, petugas keamanan pasti akan tetap berjaga sepanjang malam.


Setelah berpisah nanti,


masing-masing tim akan masuk dari sisi yang berbeda. Agatha dan Alexa adalah


tim yang pertama kali sampai di lokasi. Begitu berada di sana, mereka langsung


bersiap. Mengatur titik target dan merakit senjata. Kurang lebih menyiapkan


segala keperluannya.


Para sniper ini


bertugas untuk membuka jalan bagi para tim lain. Mereka yang akan melakukan


tugasnya jauh lebih dulu daripada siapa pun. Baik antara Agatha dan Alexa,


keduanya sama-sama sudah siap. Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka langsung


menarik pelatuknya. Sehingga beberapa butir peluru melesat dengan kecepatan


penuh di udara.


‘DOR! DOR! DOR! DOR!’


Sempurna. Sungguh


permulaan yang bagus. Dua tembakan untuk kamera pengawas di depan dan dua lagi


untuk si petugas keamanan.


“Maafkan aku,” batin


gadis itu dalam hati.


Agatha sungguh merasa


buruk setelah menyadari apa yang ia lakukan ternyata salah. Tidak seharusnya ia


menghabisi petugas keamanan yang satu itu. Keluarganya mungkin sedang menunggu


di rumah. Tapi tenang saja, mereka tidak akan langsung mati di tempat. Selama


pertolongan datang dalam waktu yang tepat, mereka berdua akan baik-baik saja.


Agatha dan Alexa tidak menyerang titik fatal. Karena dari awal mereka memang


sama sekali tidak bermaksud untuk membunuhnya.


“Pintu utama sudah


aman, kalian bisa masuk sekarang!” ucap Alexa pada seluruh tim.


Jika pintu utama sudah


bisa dikendalikan, maka tidak perlu cemas dengan pintu-pintu lainnya.


Seharusnya jumlah penjaga yang ada di tempat lain jauh lebih sedikit. Jika


penjagaan yang paling kuat saja bisa ditaklukkan oleh dua orang gadis, lantas


kenapa yang lain tidak bisa.


“Baiklah, kami akan


masuk sekarang!” balas salah satu dari mereka.


Suara itu juga


terdengar pada in ear monitor milik Agatha. Mereka semua menggunakan alat yang


sama untuk saling berkomunikasi satu sama lain.


Tak lama setelahnya, tampak


tim utama masuk melalui pintu gerbang utama. Di dalam tim tersebut ada Immanuel


dan Hiraeth beserta beberapa anggota lainnya. Mereka adalah tim yang paling


bergengsi untuk malam ini. Sebab anggotanya bukan orang-orang biasa. Luar biasa


malahan.


markas utama, tapi tidak ada siapa pun di sini. Sesuai dengan perkataanmu tadi.”


Mendadak suara Arjuna


muncul dengan begitu saja di monitor yang satunya. Hal tersebut membuat gadis itu


terkesiap.


“Jadi mereka sudah


sampai di markas ya sekarang?” batin gadis itu dalam hati.


Dia tidak bisa


mengucapkan sepatah kata pun selama Alexa masih berada di sisinya. Tidak,


sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghabisi gadis itu. Setidaknya dia


harus menunggu lebih dulu sampai seluruh tim benar-benar sudah berada di dalam.


Dan yang terpenting, Arjuna dan timnya sudah berada di sekitar lokasi.


“Lima menit lagi kami


akan sampai di sana. Saat ini aku sedang dalam perjalanan,” ujar Arjuna.


“Ketuk monitormu dua


kali jika kau masih berada di sana!” perintahnya.


Tanpa pikir panjang


lagi, gadis itu segera mengiyakan perkataan Arjuna. Mengingat saat ini ia tidak


bisa bicara banyak. Tapi, di sisi lain ia merasa bersyukur. Sebab Agatha tak


perlu menunggu terlalu lama lagi. Dalam waktu lima menit mereka akan tiba di


sini.


Alexa dan Agatha masih


tetap berada di posisi awal. Tidak berpindah kemana-mana. Mereka harus


mengawasi sekitarnya. Memastikan jika tidak ada sesuatu yang terlihat mengancam


keberhasilan misi mereka.


“Kami sudah berada di


depan pintu gerbang,” ucap Arjuna.


Itu berarti sekarang


sudah waktunya bagi Agatha untuk beraksi. Satu, dua, tiga…


‘BUGH!!!’


Gadis itu mengambil


senjata miliknya dan memukul kepala bagian belakang Alexa dengan sekuat tenaga.


Dalam satu kali pukulan saja sudah cukup untuk membuatnya tidak sadarkan diri. Kemudian


Agatha mengikat gadis itu pada salah satu pohon alpukat yang berada di sekitar


sana dengan tali. Tidak hanya sampai di situ saja, Agatha bahkan ikut


membungkam mulutnya dengan menggunakan lakban hitam.


Agatha sama sekali


tidak berniat untuk membunuh gadis itu. Meski sebenarnya ia bisa saja


melakukannya kalau mau. Tapi dengan diikat seperti ini, Alexa setidaknya tak


akan ikut campur soal misi mereka. Untuk memastikan kalau gadis itu tidak akan


bangun lagi selama beberapa jam ke depan, Agatha dengan sengaja menyuntikkan


obat tidur kepadanya. Dosisnya cukup untuk membuat Alexa tertidur pulas sampai


lima jam ke depan.


“Tidur yang nyenyak,”


ucap Agatha lalu tersenyum miring.


Setelah pekerjaannya


yang satu ini selesai, barulah Agatha mempersilahkan tim dari kepolisian untuk


masuk.


“Berpencar sesuai


instruksi yang sudah pernah kukatakan sebelumnya!” perintah Arjuna.


Mereka semua mengiyakan


perkataan pria tersebut tanpa berkata-kata sama sekali.


“Bisakah kau memanggil ambulans


untuk mereka berdua?” pinta Agatha.


“Mereka bisa kehilangan


nyawanya jika terlambat ditangani,” jelas gadis itu kemudian.


“Baiklah, tunggu


sebentar kalau begitu,” balas Arjuna lalu menelepon ambulans. Sesuai dengan


permintaan gadis itu tadi.


“Sudah kan?” tanya


Arjuna.


“Terima kasih!” balas


Agatha sambil tersenyum tipis.


“Ayo! Sekarang bukan


waktunya untuk tersenyum seperti itu,” ajak pria itu sambil menarik salah satu


tangan Agatha.


Mereka


tidak punya banyak waktu sekarang. Jadi, semua orang harus fokus pada tugasnya


masing-masing. Termasuk Agatha dan juga Arjuna.