The Riot

The Riot
Our Family



Semakin ke sini


sepertinya alasan Liora mulai terlihat jelas. Sekarang semua ketidakmungkinan


itu mulai terasa masuk akal baginya. Bukankah beberapa waktu yang lalu sebelum


Agatha masuk ke rumah sakit, ia kembali bertemu dengan ayahnya lagi. Kali ini


bukan pertemuan yang tidak disengaja. Melainkan sebaliknya. Narendra meminta


anak perempuannya yang satu itu untuk meluangkan sedikit waktunya. Mereka mengobrol


soal perusahaan. Pada saat yang bersamaan pula pria itu memberikan tawaran


kepada Agatha untuk bergabung ke dalam perusahaannya.


Sepertinya pada saat


itu Liora juga ada di sana. Mengawasi mereka berdua. Tentu saja tanpa


sepengetahuan Narendra. Mereka pasti akan duduk berdekatan jika memang


bersama-sama pada saat datang kemari tadi.


Liora pasti tidak


setuju jika Agatha terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Dengan begitu, ia


tidak bisa mengendalikan apa pun lagi. Kalau suatu saat Narendra tidak bisa


melaksanakan tugasnya lagi karena satu dan lain hal, pasti Agatha lah yang akan


menggantikan posisinya.


Sudah bisa ditebak jika


wanita itu tidak memiliki keahlian sama sekali dalam hal apa pun selain


memperdaya orang lain. Kalau memang ia sangat ingin menguasai perusahaan itu,


kenapa tidak dimulai dengan posisi paling rendah lebih dulu. Ia  bisa mendapatkan apa pun nantinya dengan mudah


ketika sudah bisa menjalin hubungan dengan Narendra. Pencapaian paling kecil


yang bisa ia lakukan adalah meminta pria itu untuk menaikkan jabatannya di


kantor.


“Haruskah aku bergabung


ke dalam perusahaan itu?” gumam Agatha.


Sekarang ia mulai


mempertimbangkan tawaran tersebut. Padahal sebelumnya sudah jelas-jelas jika


Agatha menolak semua itu. Ia tidak ingin terlibat dalam urusan apa pun lagi


dengan ayahnya sendiri. Kehidupannya tidak akan pernah tenang jika masih


berhubugan dengan pria itu. Bukankah sejak beberapa tahun yang lalu mereka


sudah sepakat untuk menjalani kehidupannya masing-masing.


Namun, setelah


dipikir-pikir lagi ternyata tawaran itu tidak selamanya buruk. Mari lihat dari


sisi lain. Agatha bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dari


perusahaan tersebut. Narendra pasti tidak akan memberikan posisi yang terblang


rendah kepada anaknya sendiri di kantor tersebut. Setidaknya cukup untuk


memimpin sekelompok orang. Lagi pula Agatha memang memiliki bakat untuk menjadi


seorang pemimpin. Setidaknya menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri.


Tapi, keuntungan


material bukan poin yang utama. Uang bisa dicari dari mana saja. Tidak harus


dari perusahaan tersebut. Koneksi dan kekuasaan. Tidak semua orang bisa


mendapatkan hal tersebut. Hanya mereka yang memiliki akses khusus yang bisa


mendapatkannya.


“Orang-orang hanya akan


mendengarkan mereka yang berkuasa.”


Bukankah selama ini dia


selalu memegang prinsip tersebut. Dan memang benar adanya. Tidak ada yang


benar-benar adil di dunia ini. Mereka tidak mampu bersikap adil. Karena pada


nyatanya yang mereka lakukan selama ini hanyalah seimbang.


“Permisi!” sahut


seorang wanita berpakaian serba putih dari balik pintu.


“Saya akan periksa


lebih dulu ya!” lanjutnya yang kemudian segera diangguki oleh Agatha.


Tenang saja, kali ini


ia tidak akan datang dengan niat buruk. Apalagi sampai mencelakai gadis itu.


Karena pada dasarnya mereka adalah dua orang yang berbeda. Itu bukan Liora,


melainkan dokter yang menanganinya selama ini.


“Bagaimana perasaanmu


akhir-akhir ini?” tanya si dokter.


“Biasa saja,” jawab


Agatha dengan apa adanya.


“Padahal kau sedang


sakit, tapi sama sekali tidak terlihat seperti itu,” balas si dokter tadi.


“Itu artinya kondisiku


tidak terlalu buruk, bukan?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Kalau begitu kapan aku


bisa kembali ke rumah?” tanyanya lagi.


“Seharusnya jika


langsung pulang hari ini,” jelas wanita itu.


“Ayolah, aku kondisiku


bahkan tidak pernah memburuk sejak hari pertama di rawat di sini,” gerutu


Agatha.


“Sejauh ini kau memang


baik-baik saja,” ungkap si dokter.


“Mari kita tunggu


sampai selesai makan siang ya? Kalau kondisimu tetap baik, maka aku akan


mengizinkanmu untuk pulang hari ini juga,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Baiklah,” balas gadis itu


dengan pasrah.


Agatha sungguh berharap


agar tidak terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Ia sudah tidak sabar


untuk kembali ke rumah barunya. Apartment maksudnya. Ya, benar. Sejak beberapa


bulan yang lalu ia memang ingin pindah ke tempat lain. Dan baru saja kemarin


keinginannya kesampaian. Bukan pindah unit. Melainkan pindah gedung, dengan


alasan ingin mencari suasana baru.


Jeff sudah mengurus


segalanya untuk gadis itu. Di saat Arjuna sibuk dengan kekasihnya, hanya Jeff


lah yang bersedian untuk membantu dengan sukarela. Tenang saja, lagi pula Jeff


tidak mengerjakan semuanya sendiri. Agatha sudah menyewa jasa pengangkut barang


untuk membantunya memindahkan barang-barang ke unit apartment yang baru. Jeff


hanya tinggal memberikan instruksi sekaligus mengawasi pekerjaan mereka. Memastikan


kalau semuanya telah dilakukan dengan benar.


“Omong-omong kemana


orang-orang itu?” tanya wanita itu.


“Orang yang mana maksud


anda?” tanya Agatha balik.


“Dua orang pria yang


biasa berada di sini,” pertegas si dokter.


“Oh, mereka sedang


pergi ke kantor. Biasanya mereka masih bekerja pada jam segini. Seharusnya aku


juga pergi bekerja, tapi sekarang aku bahkan tidak bisa pergi kemana-mana,”


jelas gadis itu dengan panjang lebar.


“Tenang saja, kau akan


kembali hari ini jika kondisimu semakin membaik,” beber si dokter.


“Sama seperti yang


kukatakan tadi,” timpalnya.


“Kalau begitu aku pergi


dulu ya? Masih ada pasien lain yang harus dikunjungi,” pamintnya kemudian


segera pergi.


Agatha terus memandangi


punggung wanita itu dengan lekat sampai sosoknya menghilang di balik pintu. Entah


kenapa mendadak ia merindukan kasih sayang seorang ibu. Seolah-olah jiwa ibunya


kembali hadir di dalam tubuh wanita itu. Tidak biasanya Agatha mendadak


merindukan seseorang. Belakangan ini suasana hatinya memang sedang tidak


stabil. Jauh lebih sensitif belakangan ini. Tanpa tahu apa penyebab pastinya.


***


“Apa kau akan kembali


bersama ayahmu yang satu itu?”


“Ibu tidak akan


membiarkanmu tinggal bersamanya. Dia adalah monster. Ibu akan melindungimu


sebisa ibu.”


“Maaf karena tidak


sengaja mendengarkan kau bicara sendiri di ruanganmu tadi.”


“Tapi setidaknya dengan


begini ibu tahu harus melakukan apa untuk melindungimu.”


Seperti seorang


malaikat, Tuhan telah mengirimkannya seseorang yang akan selalu berada di


sampingnya. Baik dengan atau tanpa sadar sama sekali. Meski selama ini Agatha


selalu terlihat berjuang atas dirinya sendirian, namun pada kenyataannya ada


begitu banyak orang yang mendukungnya dari belakang. Semesta tidak akan


membiarkannya sendiri. Bahkan saat ia sedang terjatuh pun tidak boleh


sendirian.


Agatha


amat berarti bagi orang lain tanpa pernah dirinya thau soal fakta yang satu


itu. Tidak ada yang rela jika gadis itu terluka. Apalagi sampai harus meregang


nyawa.