The Riot

The Riot
My, Your Home



Agatha melemparkan


pandangannya ke luar jendela. Menatap kendaraan di sekitarnya yang ikut


berhentik karena macet. Lagi-lagi mereka harus terjebak macet. Jika hidup di


kota besar, itu sudah pasti menjadi resikonya. Jangan heran jika kau bisa


terjebak macet sampai lebih dari dua kali dlaam satu hari. Memang sesering itu.


Dokter Viona tadi sudah


menawarkan gadis ini untuk tinggal sementara di rumahnya. Setidaknya ia akan


aman. Ada banyak orang yang bisa melindunginya di sana, jika Dokter Viona


sedang tidak berada di rumah. Karena pada faktanya, tinggal sendirian tidak


seaman itu. Terlebih lagi untuk seorang gadis. Tidak peduli apakah Agatha


seorang anggota polisi atau tidak, apalagi soal kemampuan bela diri Agatha. Mereka


tidak akan pernah memikirkan hal tersebut saat hendak beraksi.


Tawaran tersebut murni


dari harinya. Ia sama sekali tidak bermaksud jahat kepada gadis ini. Dokter


Viona benar-benar ingin melindungi Agatha, sama seperti ia melindungi anaknya


sendiri. Sebab, ia tahu kalau Agatha sudah lama tinggal sendirian. Tentu saja


tanpa rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Selama ini ia kesepian.


“Terima kasih banyak


atas tawarannya, tapi akan kupikirkan lagi.”


Itu adalah jawaban yang


ia berikan pada saat ditanyai oleh sang pemilik rumah. Sama sekali tidak jelas.


Padahal ia hanya perlu memilih antara iya dan tidak. Tapi, memang sesulit itu


untuk memutuskan.


Agatha baru saja pindah


ke apartment barunya beberapa hari yang lalu. Dia sudah membayar sewa di sana


untuk enam bulan ke depan. Sangat disayangkan jika mendadak ia harus pergi ke


tempat lain. Bahkan sampai hari ini saja belum ada satu minggu Agatha tinggal


di sana.


Gadis itu memang


sengaja hanya membayar sewa selama enam bulan lebih dulu. Ini untuk sekedar


percobaan saja. Jika dirasa cocok dengan kriterianya, maka Agatha akan


memperpanjang kontraknya. Tapi, dengan syarat jika tempat itu benar-benar cocok


dengan apa yang ia inginkan selama ini. Kalau tidak, gadis itu akan pindah ke


tempat baru lagi. Sampai mendapatkan tempat yang paling sesuai.


Ini adalah pertama


kalinya Agatha membayar sewa selama enam bulan. Biasanya gadis itu akan


langsung melunasi selama satu tahun penuh. Bahkan tidak jarang sampai berlanjut


ke tahun berikutnya.


“Hei!” sahut Dokter


Viona.


Agatha yang sedang


sibuk berkutat dengan isi pikirannya pun lantas terkesiap kaget. Ia buru-buru


membenarkan posisinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kursi


pengemudi. Yang dimana di situ adalah tempat Dokter Viona sekarang.


“Ada apa?” tanya Agatha


dengan sedikit gugup.


“Tidak apa-apa,” balas


wanita itu.


“Tapi, apa yang sedang


kau pikirkan? Kenapa sampai melamun seperti itu? Apa hal ini cukup berat?”


tanyanya.


Agatha meneguk


salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa wanita itu memberinya tiga


pertanyaan secara sekaligus. Tanpa ada jeda sama sekali antara pertanyaan yang


satu dengan pertanyaan lainnya. Meski inti dari ketiga pertanyaan itu hampir


serupa, tapi tetap saja ia tidak bisa diperlakukan seperti itu. Otaknya lebih


tepatnya. Organ yang satu itu tidak akan bisa menampung semua pertanyaan


tersebut dalam waktu yang bersaman, kemudian memprosesnya sekaligus. Tidak akan


bisa. Agatha tahu sampai mana batas dirinya.


“Oh, tidak apa-apa. Aku


hanya sedang memikirkan soal tawaranmu tadi,” jawab Agatha dengan tenang.


Sesekali ia memasang


senyum canggung. Bagaimana bisa ia tidak merasa canggung saat ketahuan sedang


melamun oleh orang asing. Sungguh memalukan.


“Tidak perlu terlalu


memaksakan dirimu sendiri. Rumahku selalu terbuka kapan saja,” ungkap Dokter


Viona.


pun. Aku akan sangat senang kalau kau datang,” imbuhnya.


“Tapi, aku ingin


bertanya. Apakah kau  memperlakukan


pasien lainnya seperti ini juga?” tanya Agatha dengan hati-hati.


“Ah, tidak semua. Tapi,


kau salah satunya,” beber wanita itu.


Agatha mengangguk-anggukkan


kepalanya pelan untuk mengiyakan perkataan wanita itu. Sekarang ia sudah paham.


Ternyata Agatha bukan satu-satunya orang yang diperlakukan demikian. Tapi, ia


adalah salah satunya.


Ternyata Dokter Viona


memang baik. Tidak hanya kepada Agatha saja, namun kepada semua orang. Para


pasien pasti merasa begitu beruntung ketika ditangani olehnya. Termasuk Agatha.


Dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita itu.


***


“Silahkan masuk!”


persilahkan wanita itu.


“Terima kasih!” balas


Agatha.


Gadis ini memang tidak


akan tinggal di rumah Dokter Viona. Dia belum memutuskan dan lebih tepatnya


tidak ingin merepotkan. Wanita itu pasti sibuk. Tidak ada waktu untuk orang


seperti Agatha. Tapi, untuk hari ini Dokter Viona sendiri lah yang memintanya


agar mau ikut ke rumah. Dia akan mengobati luka Agatha. Bisa bahaya kalau


dibiarkan begitu saja. Manusia kerap kali menyepelekan hal yang sebenarnya


berbahaya tanpa mereka sadari. Salah satunya adalah Agatha. Hanya karena ia


memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat,  bukan berarti ia bisa menjalani hidup dengan sesukanya.


Begitu sampai di


pelatarannya saja, Agatha sudah dibuat tercengang oleh rumah Dokter Viona.


Bagaimana tidak. Tempat ini begitu besar, luas dan tampak megah. Rasanya tidak


mungkin jika Dokter Viona tinggal di sini sendirian. Pasti bersama keluarga


besarnya. Tempat seluas ini terlalu mubazir untuk ditinggali hanya oleh satu


orang saja.


Tapi anehnya, begitu


masuk ke dalam ruang tamu, ia sama sekali tidak menemukan foto keluarga yang


umumnya akan dipajang di ruangan tersebut. Yang ada hanya beberapa foto Dokter


Viona. Sendirian. Kemana yang lainnya.


“Tunggu sebentar di


sini! Aku akan mengambilkan obatnya lebih dulu,” ujar wanita tersebut yang


kemudian diangguki oleh Agatha.


Gadis itu memilih untuk


duduk, sambil tetap mengamati ruangan tempatnya berada saat ini. Benar-benar


sepi. Tidak ada siapa pun. Seharusnya orang-orang berkeliaran di sekitar sini


pada siang hari.


“Pasti mereka masih


sibuk di luar sana,” gumam Agatha.


Gadis itu berusaha


untuk berpikir positif. Sepertinya anggota keluarga Dokter Viona sedang berada


di kantor atau tempat lainnya. Yang jelas melakukan pekerjaannya masing-masing.


Keluarga mereka pasti terdiri dari orang-orang penting yang tidak mungkin tidak


sibuk. Seperti Dokter Viona saja salah satu contohnya.


‘TAP! TAP! TAP!’


Tak lama kemudian dari


arah berlawanan ia melihat Dokter Viona yang baru saja datang sambil membawa


kotak P3K. Tidak hanya itu saja. Ia juga tampak membawa mangkuk kecil yang


berisikan air es di dalamnya.


Wanita itu mengambil


tempat duduk tepat di samping Agatha. Kemudian berkata, “Tepikan rambutmu! Biar


kuobati.”


Tidak


ada ide lain. Agatha langsung menuruti perkataan wanita itu. Dia seorang


dokter. Sedikit banyaknya, perkataannya pasti untuk kebaikan pasien. Mungkin


orang sepertinya juga akan melakukan hal yang sama, kalau pun dia bukan seorang


dokter. Karena memang rasa pedulinya terhadap sesama yang bisa dikatakan cukup


tinggi.