The Riot

The Riot
Street



Agatha


membungkukkan badannya. Berusaha untuk mencari posisi terbaik, agar rongga


paru-parunya bisa terbuka lebar. Ia akan memenuhi organ yang satu itu dengan


pasokan oksigen melimpah ruah. Sekarang adalah waktu terbaik baginya untuk


memuaskan diri dengan tidak perlu berlari-lari lagi.


Gadis


itu bersembunyi di salah satu jalanan kecil yang tidak jauh dari lokasi rumah


Aaron. Tadinya mereka berniat untuk naik mobil saja. Selain lebih cepat,


tentunya mereka juga akan lebih aman. Namun, pada kenyataannya semua yang


terjadi di sini sudah melenceng jauh dari rencana awal.


‘HOSH!


HOSH! HOSH!’


Agatha


berusaha untuk mengatur napasnya yang masih memburu. Begitu pula dengan Aaron.


Keduanya tampak bernapas dengan terburu-buru. Terengah-engah lebih tepatnya.


“Apa


mereka akan menyusul kita kemari?” gumam Agatha.


Selang


beberapa detik kemudian, ia merobohkan tubuhnya begitu saja di tepi jalan.


Gadis itu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi dengan keadaan seperti ini.


Sementara itu, Aaron hanya menyorotinya dengan tatapan yang sulit ditangkap apa


maknanya.


Tanpa


menghiraukan pemandangan tersebut, Aaron langsung mengalihkan pandangannya ke


arah lain. Kemana saja asal bukan melihat gadis itu. Tidak. Dia tidak merasa


muak sama sekali. Hanya saja, jika terlalu sering memperhatikan Agatha secara


terang-terangan, pasti gadis itu akan merasa risih. Memangnya siapa yang suka


diperlakukan seperti itu.


Dengan


napas yang masih terengah, Agatha menyandarkan badannya pada permukaan tembok


kedai. Kebetulan tempat itu memang sedang sepi. Entah memang pada dasarnya


tidak pernah ramai, atau malah hanya karena faktor waktu saja.


Tangannya


beralih ke arah saku celana. Ia tampak sibuk merogoh sesuatu di sana. Entah apa


yang sedang di cari olehnya. Sampai pada akhirnya Agatha menemukan ponsel


miliknya sendiri. Dengan langkah yang tak terlalu terburu-buru namun pasti,


gadis itu segera mengetikkan nomer telepon  seseorang.


Agataha


berniat untuk menghubungi Arjuna pada awalnya dan meminta bantuan pria itu.


Orang seperti mereka harus segera diamankan agar tidak mengacau. Dan kantor


polisi yang sekaligus menjadi tempatnya bekerja sepertinya cocok. Paling tidak,


Agatha bisa terus mengawasi mereka sembari bekerja.


Ia


tidak akan membiarkan Rino dan anak buahnya yang lain lolos dengan begitu saja.


Jika mereka sudah berhasil tertangkap, maka akan sulit rasanya untuk lolos.


Apalagi jika berhadapan dengan Agatha. Tidak akan semudah itu untuk keluar dari


tahanan. Sepertinya mereka sudah salah dalam mencari mangsa.


Ini


adalah sebagian kecil dari keuntungan yang berhasil ia dapatkan. Dengan


bersikap misterius, tidak banyak yang tahu soal kehidupan aslinya. Menurut


Agatha, menjaga privasi sama dengan menjaga keselamatannya juga. Tidak semua


hal tentang kita harus diketahui dunia. Cukup sebagian kecil saja sudah cukup.


“Apa


yang kau lakukan?” interupsi Aaron lalu merebut ponselnya.


“Kembalikan!”


seru Agatha.


Ia


tak terima jika Aaron bertidak dengan sesuka hatinya seperti itu. Padahal


tadinya ia berniat untuk menghubungi Arjuna. Gadis itu bahkan belum sempat


menekan tombol memanggil. Sepertinya mulai hari ini ia harus menjaga jarak


dengan pria itu. Mungkin akan terasa jauh lebih baik jika ia tidak perlu


bertemu lagi dengan Aaron. Baik itu pertemuan yang disengaja atau tidak sama


sekali.


Semenjak


berada di sekitar Aaron, pria itu selalu mengacau. Berusaha untuk mengubah


setiap hal agar sesuai dengan kemauannya. Bukannya Agatha ingin bersikap kasar


dengan mengatakan kalau pria itu adalah pembawa sial baginya. Dia bukan tipikal


orang yang akan menyakiti perasaan orang lain tanpa alasan. Namun, mau


bagaimana lagi. Memang begitu kenyataannya. Tidak bisa dipungkiri.


“Lupakan


memalingkan pandangannya.


Ia


lekas mengembalikan tampilan ponsel Agatha ke tampilan awal. Beruntung tadi


Aaron berhasil bergerak dengan cepat. Sehingga Agatha sama sekali belum sempat


untuk menghubungi Arjuna.


“Kita


tidak bisa mempercayai siapa pun dalam kondisi terdesak seperti ini,” ungkap


pria itu.


“Bisa


jadi ia malah berbalik menjadi musuh kita,” jelasnya kemudian.


Agatha


sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pria ini. Entah apa


dan siapa yang sedang ia bicarakan sekarang. Kalau Aaron takut jika dirinya


akan terancam nanti, maka ia salah besar. Agatha sedang berusaha untuk meminta


bantuan. Bukannya malah menjemput bahaya untuk datang.


Lagipula


yang ia hubungi adalah Arjuna. Rekan kerja yang sudah lebih senior dari pada


Agatha. Mereka akan tetap aman jika bersamanya. Ia tahu jika pria itu bisa


diandalkan. Selama ini begitu banyak orang yang mengandalkan Arjuna, dan mereka


tidak pernah protes atau bahkan mengeluh sama sekali.


Mungkin


Aaron takut terlibat masalah. Padahal sudah jelas jika ia sempat mencari gara-gara


dengan Agatha. Dan sekarang gadis itu malah menelepon salah satu rekan


polisinya. Jika Aaron membiarkan hal tersebut terjadi, padahal ia sudah tahu


kalau dirinya akan terancam sebelumnya, maka itu sama saja dengan bunuh diri.


Secara tidak langsung Aaron sudah menyerahkan dirinya sendiri ke pihak yang


berwenang.


“Ayolah!


Jangan bersikap konyol seperti ini!” seru Agatha.


“Aku


sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Jadi meminta tolong kepada salah satu


temanku untuk menjemput kita di sini,” jelasnya dengan panjang lebar.


Gadis


itu masih berharap agar Aaron mau mengembalikan ponselnya. Tapi, ternyata tidak


sama sekali. Ia bahkan tidak berniat untuk menggubris perkataan Agatha yang


sebelumnya. Sungguh memuakkan.


“Kenapa


kau harus meminta bantuan dari orang lain? Padahal ada aku yang bisa


diandalkan,” ujar Aaron dengan datar.


Mendengar


perkataan barusan membuat Agatha merasa kebingungan. Gadis itu mengerutkan


dahinya. Sehingga kedua alisnya tampak menyatu. Bukan. Dia bukan bingung karena


tidak mengetahui makna dari ucapannya. Melainkan sebaliknya. Agatha mampu


menangkap lebih dari satu arti di sini. Sehingga ia tidak bisa menyimpulkan


yang mana satu maknanya.


“Apa


maksudmu?” tanya Agatha.


Ia


memilih untuk menyerah begitu saja. Tidak ada yang benar-benar jelas di sini.


Daripada pusing-pusing memikirkannya sendiri, Agatha jauh lebih memilih untuk


tidak ambil pusing sama sekali. Pilihan terakhir adalah dengan bertanya kepada


Aaron langsung.


“Dasar


bodoh!” sarkas Aaron.


Agatha


tahu betul jika kalimat tersebut tengah ditujukan kepada dirinya. Namun, entah


kenapa kali ini emosinya tidak terpancing sama sekali.


Selang


beberapa detik setelahnya, Aaron langsung membantu gadis itu untuk bangkit dari


posisinya. Sementara itu, Agatha yang masih tetap dalam kondisi kebingungan


terlihat tidak masalah. Ia mengikuti semua instruksi pria itu. Sampai pada


akhirnya, Aaron berdiri membelakangi Agatha dengan posisi tubuh yang sedikit


dibungkukkan. Sontak gadis itu merasa kebingungan.


“Tunggu


apa lagi?” tanya Aaron.


“Buruan


naik! Biar aku gendong,” timpalnya kemudian.


Kedua bola mata Agatha langsung


membulat dengan sempurna. Seolah tidak percaya.