
Agatha kembali
menyantap makanannya. Kali ini obrolan mereka mulai terasa jauh lebih santai
daripada yang sebelumnya. Baik Agatha maupun Arjuna, tidak ada yang tahu apa
alasan para mafia itu memilih lantai teratas sebuah bangunan bank untuk
dijadikan sebagai markas. Tidak masuk akal memang, tapi itulah faktanya. Kembali
kepada prinsip awal semesta, jika tidak ada yang tidak mungkin. Semua hal bisa
terjadi.
“Markas utama mereka
terletak di lantai dua puluh satu,” ungkap Agatha secara gamblang.
“Kemudian di atasnya
kalau tidak salah adalah tempat rapat. Ruangan yang biasa dipakai untuk
membicarakan hal-hal yang bersikap rahasia. Dan yang terakhir adalah gudang
penyimpanan senjata. Terletak tepat di bawah atap,” jelas gadis itu dengan
panjang lebar.
Agatha berusaha untuk
menjelaskan semuanya dengan sedetai mungkin. Ini informasi penting. Tidak boleh
sampai ada kekeliruan. Sebab ini pasti akan mempengaruhi proses investigasinya
nanti.
“Sampai sekarang aku
masih tidak mengerti kenapa mereka bisa menggunakan gedung bank untuk dijadikan
sebagai markasnya,” ujar Agatha sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Tentu saja ada orang
yang cukup kuat untuk melindungi mereka. Atau jangan-jangan orang itu juga
terlibat dengan mereka,” balas pria itu.
Sejauh ini semuanya
terasa makin masuk akal. Mulai dari akses khusus menuju markas utama, hingga
tempat yang dijadikan markas.
“Kalau begitu kita
harus mencari tahunya lebih jauh lagi!” celetuk Arjuna.
“Kau harus sering-sering
pergi ke sana setelah mendapatkan kartu akses. Kalau perlu pakai saja kartu
akses siapa pun itu untuk pergi ke sana. Dengan begitu pergerakanmu tidak akan
terlalu jelas terbaca oleh mereka,” paparnya.
“Kita harus bergerak
selangkah lebih cepat,” desaknya.
Arjuna sedang berusaha
untuk mengarahkan gadis ini. Mengingat anggota tim yang ada untun misi khusus
kali ini hanya mereka berdua. Tidak ada pilihan lain. Mereka harus saling
mengandalkan antara satu sama lain.
“Tapi, aku yakin jika
mereka tetap saja akan curiga kalau kugunakan cara yang satu itu,” gumam Agatha
sambil meletakkan sendoknya di atas piring.
“Mereka bahkan lebih
pintar dari apa yang kita bayangkan,” timpalnya.
Agatha berangsung
memperbaiki posisi duduknya. Ia perlu menyangga tubuhnya dengan posisi yang
tepat agar terasa nyaman. Selain itu, sebagai seorang polisi dia juga perlu
menjaga postur tubuhnya.
“Setelah mendapatkan
kartu akses, aku pasti akan menjelajahi tempat itu untuk mencuri berbagai
informasi,” tukas Agatha.
“Mulai hari ini aku
pasti akan dilibatkan dalam berbagai misi besar mereka. Jadi, tenang saja. Kita
masih memiliki banyak kesempatan,” imbuhnya.
“Tapi, tetap saja kita
tidak bisa bergerak terlalu santai!” sela Arjuna.
“Jangan bersikap
terlalu gegabah seperti itu!” tepis Agatha dengan cepat.
“Kau tahu jika tidak
semua hal bisa dilakukan dengan cepat. Terkadang kau hanya perlu bersabar
sedikit lagi saja untuk menuju puncak,” terangnya kemudian.
Arjuna yang mendengar
perkataan tersebut lantas memilih untuk bungkam dan tidak banyak bicara. Ia tak
ingin tampak memalukan di depan gadis itu. Sekarang posisi Agatha sudah sedikit
lebih unggul daripada dirinya sendiri. Sampai-sampai pria itu bertanya kepada
dirinya sendiri dan juga semesta. Sebenarnya siapa yang berhak untuk memimpin
jalannya misi ini. Agatha atau malah Arjuna? Sayangnya, kita tidak bisa
memilih. Keduanya memiliki jiwa kepemimpinan yang diakui oleh banyak orang. Beginilah
jadinya jika sang pemimpin terpaksa bekerja sama.
hanya belum terbiasa untuk berdiri di garis yang sejajar pada saat bersamaan. Tapi, itu bukan permasalahan yang
penting. Orang-orang bilang, mereka akan mulai terbiasa seiring dengan
berjalannya waktu. Memang sedahsyat itu. Waktu bisa mengubah segalanya. dari
hal paling kecil hingga yang mustahil sekali pun.
“Terserahmu saja kalau
begitu!” serah pria itu begitu saja.
“Masalahmu hanya satu,
yaitu terlalu gegabah,” gumam Agatha tanpa menatap seorang pria yang sedang
duduk di hadapannya itu.
Sama sekali tidak ada
jawaban dari pria itu. Sepertinya Arjuna mulai malas untuk menanggapi. Alih-alih
memusingkan hal tersebut, Agatha malah kembali melanjutkan kegiatannya yang
sempat tertunda. Ia harus menghabiskan semua ini sebelum kembali ke rumah.
Meski porsinya tidak terlalu banyak, tetap saja ia belum selesai makan. Terlalu
banyak jeda dari tadi.
Kini keduanya sama-sama
diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Membiarkan keheningan
suasana menyergap begitu saja. Lagipula tidak ada yang peduli. Mereka sama-sama
sibuk. Sibuk untuk menyantap makanannya masing-masing.
Agatha selesai lebih
dulu. Sementara itu, Arjuna masih tampak menyuapi kue tersebut ke dalam
mulutnya secara berkala.
“Aku izin ke toilet
dulu,” pamit Agatha.
Tanpa menunggu balasan
dari pria itu, Agatha langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian pergi
meninggalkan Arjuna begitu saja. Lagipula pria itu tampak tidak masalah.
‘KRIETT!!!’
Agatha langsung
memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat ketika mendengar suara barusan.
Pintu utama kamar mandi yang baru saja ia buka berderit pelan. Dan itu cukup
mengilukan. Tidak nyaman untuk di dengar.
Gadis itu lantas
berdecak sebal, kemudian berkata, “Apa mereka tidak memiliki cukup uang untuk memperbaiki
pintu ini?”
Emosinya mendadak
terpancing karena hal sepele. Tapi, menurutnya itu bukan hal sepele. Orang lain
mungkin akan merasa tidak nyaman juga, sama sepertinya. Padahal jika
dipikir-pikir, harga engsel pintu yang baru tidak seberapa. Tidak terlalu mahal
untuk ukuran café sebesar ini. Bahkan Agatha saja masih sanggup untuk membeli
beberapa.
Terlepas dari persoalan
engsel pintu yang sudah berkarat dan menimbulkan suara deritan pelan, Agatha
kembali melanjukan perjalannnya. Sekarang ia sudah berada di depan wastafel.
Memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan begitu
seksama.
Kebanyakan wanita,
pasti juga sama seperti dirinya. Pada umumnya, wanita pasti akan memastikan
jika penampilan mereka tetap on point. Kapan
pun dan dimana pun itu, bahkan dalam kondisi apa pun. Penampilan selalu jadi
yang nomer pertama bagi seorang wanita. Karena hal ini begitu penting dan juga menyangkut rasa
percaya dirinya. Para pria mana mengerti.
Agatha mencondonkan
tubuhnya ke depan. Mendekat ke arah cermin, untuk memperhatikan wajahnya secara
lebih detail lagi. Dugaannya benar. warna lipsticknya mulai memudar akibat
makan tadi. Sudah waktunya untuk di touch
up kembali. Wajahnya juga mulai berminyak.
Gadis itu lantas
merogoh tas selempang yang ia bawa untuk menemukan lipstick miliknya dan juga
kertas minyak. Ia perlu memperbaiki penampilannya sebelum kembali keluar. Di luar
sana ia pasti akan bertemu dengan banyak orang. Meski orang-orang juga tidak
akan memperhatikan penampilannya secara detail, tetap saja Agatha harus
memperbaiki riasannya.
Dimulai
dengan membersihkan minyak di wajahnya dengan kertas penyerap minyak khusus
wajah, lalu menaburkan sedikit bedak untuk mencegah minyaknya keluar lagi. Yang
terakhir, tinggal memulaskan perona bibir. Dan sudah selesai.