
Tidak, dugaan gadis itu
sama sekali tidak benar. Asumsinya telah dipatahkan oleh kenyataan. Lebih
tepatnya asumsi mereka semua. Seharusnya mereka sudah sadar sejak awal, jika
tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ekspektasi memang
kerap tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi, memang begitulah prinsipnya. Manusia
berhak berencana sekaligus berharap, tapi semesta memiliki kenyataan yang tidak
bisa dihindari oleh semua orang. Beberapa hal memang terjadi di luar kuasa
manusia.
“Sepertinya kali ini
aku beruntung,” gumam gadis itu.
“Kukira jika hari ini
adalah hari kematianku sebelumnya,” timpalnya.
Mungkin di awal tadi
Dewi Fortuna sedang berusaha untuk memberinya sedikit kejutan. Dengan
berpura-pura lepas tangan, kemudian pada akhirnya malah memihak gadis itu.
Tidak masalah. Meski harus ia akui jika sebelumnya Agatha sempat hampir percaya
dengan takdir buruk tersebut, tapi pada akhirnya ia bersyukur juga. Sebab hal
terburuk yang pernah ia bayangkan sebelumnya tidak menjadi nyata.
Setelah pergulatan
singkat tadi, Agatha dibebaskan begitu saja oleh Hiraeth. Tentu dengan berbagai
pertimbangan dulu sebelumnya. Immanuel memang tidak salah. Sekarang ia mulai
pecaya, kalau gadis itu diam-diam memiliki potensi yang cukup besar. Benar apa
kata orang-orang di luar sana. Kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari
sampulnya saja.
Ada sisi yang tidak
mudah ditebak oleh orang lain dari diri Agatha. Selama ini ia sukses untuk
merahasiakannya. Bakat tersembunyi yang ternyata akan menyelamatkan dirinya
suatu saat nanti kala terjebak dalam bahaya.
Soal masalah perjamuan
makan malam kemarin, sudah tidak menjadi masalah lagi. Hiraeth tidak perlu
memusingkan hal yang tak terlalu penting seperti itu. Setelah Agatha
dibebaskan, ia berjanji untuk memberikan kartu akses secepatnya. Dan dalam
waktu dekat, mereka akan melakukan pertemuan besar-besaran dengan seluruh
anggota untuk merencanakan taktik penyerangan. Semua harus disusun dengan
sedemikian rupa.
“Aku masih tidak habis
pikir jika kau akan selamat hari ini. Kupikir kita tidak akan pernah bertemu
lagi setelahnya,” ungkap Immanuel secara tiba-tiba.
Mendengar perkataan
tersebut, gadis itu lantas berdecak sebal. Kemudian berkata, “Perhatikan saja
jalananmu!”
Benar. Saat ini mereka
tengah dalam perjalanan kembali. Bukan kembali ke rumah. Kembali ke markas
lebih tepatnya. Untuk hari ini, Agatha tidak akan dibreikan izin untuk pergi
kemana-mana. Anggap saja jika kebijakan tersebut adalah hukuman baginya karena
telah berani-beraninya melanggar peraturan.
“Oh, ya! Ada satu hal
yang ingin kutanyakan!” celetuk pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari
jalanan.
“Apa?” balas Agatha
singkat.
“Kenapa alamatmu yang
berada di kartu identitas berbeda dengan tempat tinggalmu sekarang?” tanya pria
itu secara gamblang.
Agatha sama sekali
tidak berekspektasi jika mereka akan membahas hal tersebut sekarang. Pasalnya,
sebelumnya tidak ada yang menyinggung soal itu. Bagaimana bisa otak pria itu
memunculkan ide demikian.
“Itu alamat lamaku, aku
belum sempat mengganti informasi di kartu identitasku,” bohong Agatha.
Sekarang ia mulai
gugup. Tidak bisa dipungkiri. Padahal tadi, gadis itu bisa bersikap tenang saat
menghadapi Hiraeth. Lantas kenapa tidak dengan yang satu ini. Sebenarnya apa
yang salah dengan dirinya sekarang.
“Tapi, darimana kau
bisa mengetahui unit apartmentku?” tanya Agatha serius.
Dia ingin tahu darimana
pria itu mengetahui alamat aslinya. Padahal sebelumnya Immanuel sama sekali tidak
pernah dan tidak akan pernah diizinkan untuk berkunjung ke sana. Tapi, tadi
pagi tiba-tiba saja ia datang secara mengejutkan. Sontak hal itu membuat Agahta
bertanya-tanya.
“Sekarang ada fitur
saja.”
“Kau menyadap
ponselku?!”
“Tidak, makanya tenang
dulu.”
“Kami selalu meletakkan
satu alat pelacak arah berbasis GPS di setiap kendaraan. Jadi, bukan hanya kau
saja. Melainkan semua orang juga mendapatkan perlakuan yang sama. Dengan
begitu, orang-orang akan dengan mudah menemukan lokasi terbarumu.”
“Yang benar saja! Untuk
apa kalian melakukan hal seperti itu?!”
“Untuk berjaga-jaga
saja. Kalau suatu hari nanti kau hilang dan tidak kembali, atau bahkan terjadi
sesuatu yang mencurigakan. Jadi, kami bisa cepat membantu dan menemukanmu.”
“Sial! Aku tidak suka
dimata-matai seperti itu!”
“Tapi, memang begitulah
aturan yang berlaku. Kau bisa bertanya kepada yang lainnya kalau tak percaya.”
“Terserahmu saja!”
“Jangan pernah
berpikiran untuk merusak atau bahkan melepas alat tersebut dari sepeda motormu.
Sebab, kau tentu akan tahu apa akibatnya.”
“Sejak kapan kalian
melakukannya?”
“Semua orang selalu
mendapatkan perlakuan yang sama tiap kali resmi menjadi salah satu anggota dari
kami.”
“Kalian benar-benar
menyebalkan! Bahkan sepertinya kalian tidak tahu apa itu privasi.”
“Kalau begitu beri tahu
aku sekarang.”
“Cih! Memuakkan!”
Percakapan mereka
berakhir begitu saja. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Entah itu Agatha
atau pun Immanuel. Mereka memilih untuk saling bungkam. Membisu seribu bahasa. Tak
ada yang berniat untuk buka suara, sampai mereka tidak di tempat tujuan.
Agatha masih tidak
habis pikir. Ternyata selama ini ia sudah diuntit secara diam-diam. Beruntung hal
tersebut segera terbongkar dalam waktu dekat. Sehingga ia bisa lebih waspada
lagi. Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal tersebut selama ini. Agatha
merutuki dirinya sendiri dalam diam.
Mereka berdua sibuk
dengan isi pikirannya masing-masing. Immanuel memang sedang menyetir. Tapi,
kosentrasinya tidak sepenuhnya berada di jalanan. Sebagian kecil sedang sibuk
membahas hal yang tidak terlalu penting sebenarnya di dalam otaknya. Meski tak
terlalu penting, namun kehadirannya cukup untuk mengancam siapa saja.
“Kau berbohong,”
batinnya di dalam hati.
“Mulai dari nama,
alamat sampai tanggal lahir yang tertera di kartu identitas itu palsu. Aku tahu
kalau kau bukan Rienna,” sambungnya.
“Jadi, sebenarnya apa
tujuanmu datang kemari?” final pria itu dengan sebuah pertanyaan yang bahkan
tak bisa ia jawab.
Sepertinya Agatha perlu
lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Orang-orang mulai menaruh rasa curiga
kepadanya. Sejauh ini mungkin baru Immanuel saja yang merasa demikian. Tapi,
tetap tidak menutup kemungkinan jika ke depannya jumlahnya akan bertambah.
Masalah dengan Hiraeth
mungkin sudah selesai dan tidak perlu dipusingkan lagi. Tapi, asal ia tahu saja
kalau ada masalah lain yang sudah menanti. Immanuel sudah tahu tentang
kebenarannya. Itu berarti dirinya tengah berada dalam posisi yang tidak aman
sekarang. Berada di antara para pelaku kriminal, sama sekali tidak pernah
menjami keamanan jika kau bukan salah satu dari mereka.
“Akan kupastikan aku
tahu soal dirimu secepatnya dan rencana macam apa yang sudah kau siapkan. Aku
penasaran soal itu,” ucap Immanuel di dalam hati.
Terlepas
dari semua itu, ia tidak ingin terlalu memusingkannya sekarang. Bukan waktu
yang tepat.