The Riot

The Riot
Sign



Robi


sama sekali tidak mengerti kenapa pria itu mendadak mengumpat dengan kata-kata


yang tidak pantas. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan atau semacamnya


sampai-sampai berhasil memancing amarah pria itu. Tapi, setelah dipikir-pikir


lagi sepertinya tidak sama sekali.


Pasti


ada alasanlain yang membuat Arjuna mendadak berrubah jadi marah. Dan yang jelas


itu bukan karena Robi. Menurut asumsinya begitu. Tapi, ia tidak bisa


mempercayai asumsi tersebut selamanya. Karena belum tentu benar. Ia hanya


melihat kejadian dari satu sudut pandang saja.


“Kenapa


kalian tidak pergi dan mencari tahu nama korbannya?!” bentak Arjuna dengan


kasar.


Suaranya


cukup keras pada saat itu. Hingga menggema ke seluruh penjuru ruangan. Namun,


tetap saja tidak akan cukup untuk membuat Agatha terbangun. Atau bahkan hanya


sekedar untuk mengusiknya. Gadis itu tidak akan bergerak sama sekali. Sampai


saat ini ia masih berada di bawah pengaruh obat bius. Reaksinya masih akan


bertahan hingga beberapa menit ke depan.


Jadi,


tidak masalah sama sekali sebenarnya. Karena Agatha juga tidak akan merasa


terganggu. Tapi, ini adalah rumah sakit. Ia tetap harus menjaga sikapnya. Bukan


hanya Agatha saja yang sedang dirawat di sini. Dan ada satu hal penting yang


perlu ia ingat di sini, jika tidak semua pasien sedang berada di bawah pengaruh


obat bius juga, sama seperti Agatha.


Sementara


itu, di sisi lain Robi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah pasrah. Dimarahi


oleh senior seperti ini sudah bukan hal yang mengejutkan lagi. Ini tidak


terjadi untuk pertama kalinya. Pria itu hanya bisa diam selama beberapa saat.


sepertinya ia merasa enggan.


“Hei!


Apa kau mendengarku?!” seru Arjuna dari seberang sana.


Ia


tampak begitu kesal. Wajahnya berhasil memerah dengan cepat. Sesekali ia


menggeram pelan. Tak tahu harus melampiaskan emosinya kemana, pria itu


mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


“Ya,


tentu saja,” balas Robi tanpa mengurangi rasa hormat sama sekali.


“Kalau  begitu tunggu apa lagi? Cepat cari tahu!”


titah Arjuna.


“Tapi,


kami sudah berusaha untuk mencari tahu hal tersebut dengan menanyai para saksi


di tempat kejadian. Hasilnya tetap saja nihil,” jelas Robi dengan begitu


tenang.


“Dasar


tidak becus!” sarkas pria itu sekali lagi sebelum akhirnya menutup panggilan


tersebut.


Tak


ingin ambil pusing soal masalah Robi tadi, pria itu segera menjejalkan kembali


ponselnya ke dalam saku. Salah satu tangannya kemudian beralih untuk memijat


pelipis. Dengan perasaan was-was, ia beralih mendekat ke arah Agatha. Ada


sesuatu yang perlu ia pastikan di sini. Jika benar stiker itu berada di


pergelangan tangannya, maka sudah tidak diragukan lagi jika Agatha adalah orang


yang dimaksud oleh Robi tadi. Untuk membuktikan asumsinya, ia perlu mencari


kebenarannya lebih dulu.


Dengan begitu hati-hati, ia menggulung lengan baju Agatha. Sehingga memperlihatkan kulit pergelangan tangannya. Arjuna tidak tahu pasti di sebelah mana tandanya berada. Tadi ia tidak bertanya  lebih lanjut kepada pria itu karena sudah terlanjur emosi. Tapi, itu bukan masalah yang serius. Arjuna masih bisa mencari tahu sendiri. Pilihannya hanya ada dua. Yaitu tangan kanan atau kiri. Tidak ada opsi selain itu yang ditawarkan. Bukan sesuatu yang sulit bagi Arjuna untuk menemukannya.


Pertama-tama, ia akan mengecek dari pergelangan tangan kanan terlebih dahulu. Lalu jika tidak menjumpai apa pun, ia akan beralih ke pergelangan tangan sebelahnya.