
Selama perjalanan
menuju ruang kontrol, Agatha tidak akan mematikan sambungan teleponnya. Tidak, jelas
ia tidak akan melakukannya secara sukarela. Kalau bukan karena Immanuel yang
memintanya, jelas dia tidak akan mau. Hanya ada satu alasan kenapa gadis itu
mau menuruti perintah Immanuel, yaitu agar tidak dicurigai. Hanya itu saja.
Tidak ada yang lain.
“Apa tidak ada orang
lain di sana selain kau?” tanya Immanuel.
“Tidak, mereka semua
sedang mengadakan rapat di lantai atas. Apa kau lupa soal itu?” balas Agatha.
“Oh, iya juga,” kata
pria itu.
Ternyata Agatha bukan
satu-satuya orang yang lupa akan hal tersebut. Tapi Immanuel juga mengalami hal
serupa. Padahal tidak biasanya ia seperti ini. Kalau dibandingkan dengan
Agatha, daya ingat pria itu masih jauh lebih baik dari pada dirinya.
“Aku sudah sampai di
ruangan yang kau maksud tadi,” ujar gadis itu.
“Sekarang apa yang
harus kulakukan?” tanyanya kemudian.
“Baiklah, kalau begitu,”
balas Immanuel.
“Apa kau melihat satu
kotak berwarna abu-abu di sudut ruangan?” tanya pria itu.
“Ya,” jawab Agatha
singkat.
Itu adalah kotak yang
sempat diotak-atik oleh Agatha sebelumnya. Sebenarnya kerusakan sistemnya tidak
terlalu parah. Agatha hanya sedang mematikan akses kamera pengawas dan
memblokir segala akses yang menggunakan kartu akses. Jika ia menghidupkannya
kembali dan lalu membuka blokiran tersebut, maka semua masalahnya akan selesai.
Tidak ada yang terlalu serius di sini.
Agatha juga tentu tidak
ingin membuat dirinya sendiri terjebak dalam ruangan yang tidak terlalu besar
seperti ini. Jelas sebelum itu ia sudah memikirkan segala resikonya.
“Coba buka lebih dulu
dan temukan tombol berwarna hijau. Sepertinya listriknya padam karena kelebihan
arus,” duga pria itu.
Tanpa pikir panjang, ia
segera menuruti perkataan pria itu. Lagi pula Immanuel juga tidak akan tahu apa
yang sedang dilakukan olehnya. Tidak ada kamera di sini. Jadi, pria itu hanya
bisa mengawasinya via panggilan suara saja. Bahkan suara derit pintu besi yang
terbuka saja sudah cukup meyakinkan baginya.
“Tombolnya baik-baik
saja,” ungkap Immanuel.
Gadis itu mengatakan
apa yang sebenarnya. Tidak ada yang berusaha untuk ia tutup-tutupi. Terkadang ia
memang harus berjalan mengikuti arus, bukan malah sebaliknya.
“Kalau begitu pasti
bukan karena mati listrik,” kata pria itu.
“Memang bukan,” batin
Agatha di dalam hati.
“Coba pergi ke komputer
yang ada di sana!” perintah Immanuel lagi.
“Komputer yang mana
satu? Ada banyak komputer di sini,” ujar Agatha.
“Mana ada banyak! Hanya
tiga komputer yang ada di sana,” jawab pria itu dengan ketus.
“Lebih dari satu, itu
sama dengan banyak!” balas Agatha yang tak mau kalah.
Setelah mendapatkan
intruksi selanjutnya, Agatha langsung melakukannya. Persis seperti apa yang
diminta oleh pria itu. Walaupun sebenarnya ia bisa melakukannya sendiri tanpa
dibantu oleh siapa pun.
“Aku sudah
memperbaikinya. Coba gunakan kartu aksesmu sekarang!”
Kini giliran gadis itu
yang memerintah Immanuel balik. Sembari menunggu pria itu naik ke atas, ia akan
menghidupkan kembali akses kamera pengawasnya. Kemudian pergi ke ruang tengah.
Agatha mengecek jam
tangannya. Memastikan sudah jam berapa sekarang. Faktanya masih ada waktu lung
sekitar dua puluh menit lagi sebelum rapat siap. Semua pekerjaan sudah selesai
“Aku masih penasaran
dengan isi ruangan Hiraet tadi,” gumam gadis itu sambil duduk menyilangkan
kakinya.
Ruangan orang penting
seperti itu pasti memiliki sistem keamanan yang kuat. Masih sulit untuk
dipercaya kalau Hiraeth sungguh membiarkan berkasnya begitu saja di nakas yang
bahkan tak terkunci sama sekali.
“Apa jangan-jangan ia
memiliki ruangan rahasia?” tebaknya.
‘CEKLEK!’
Spontan gadis itu
langsung menoleh ke arah pintu utama yang baru saja terbuka. Lagi-lagi
dugaannya benar. Itu adalah Immanuel. Dia baru saja sampai kemari setelah
terpaksa harus menunggu selama beberapa saat di lantai bawah. Semua ini karena
ulah Agatha. Tapi, ia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Meskipun orang
lain jadi kesusahan karenanya. Menurutnya itu setimpal. Malah Hiraeth dan anak
buahnya harus mendapatkan balasan yang lebih dari itu.
“Hai!” sapa Agatha.
“Apa yang kau lakukan
di sini?” interupsi pria itu begitu sampai di sini.
“Pertanyaan macam apa
itu? Memangnya salah jika aku berada di sini?” tanya Agatha balik.
Sungguh konyol sekali.
“Maksudku kenapa kau
datang lebih cepat?” tanya Immanuel lagi.
“Sebenarnya itu yang
ingin kutanyakan di telepon tadi,” imbuhnya.
“Kau yang menyuruhku
agar datang lebih cepat. Jangan sampai terlambat,” jawab Agatha dengan apa
adanya.
Kali ini ia jujur.
Agatha memang datang lebih cepat karena permintaan pria itu sendiri. Meski yang
tadi itu, bukan satu-satunya alasan yang ia miliki. Tapi, melainkan ada hal
lain yang jauh lebih penting. Yang menjadi alasan utamanya kenapa memutuskan
untuk datang kemari lebih cepat dari pada biasanya.
Immanuel sama sekali
tidak merasa curiga. Setelah dipikir-pikir, alasan yang baru saja diungkapkan
oleh gadis itu ada benarnya juga. Kemarin Immanuel memperingati gadis itu agar
tidak datang terlambat. Paling minimal, ia harus sudah sampai di markas utama
lima belas menit sebelum misi dimulai.
Tak ingin ambil pusing
mengenai pekara yang tadi, Immanuel lantas mengambil tempat duduk tepat di
depan gadis itu.
“Kemana yang lain?”
tanya Agatha.
“Masih di perjalanan,”
jawab Immanuel yang kemudian hanya diangguki oleh gadis itu.
Tidak ada hal lain yang
bisa ia lakukan sekarang selain menunggu yang lainnya sampai datang kemari. Atau
menunggu sampai beberapa orang penting di atas selesai dengan rapatnya. Untuk saat
ini hanya ada Agatha dan juga Immanuel saja di lantai bawah.
“Hari ini kita akan
mengirimkan beberapa barang ke pelanggan kita,” ungkap Immanuel.
“Aku sudah tahu,” balas
Agatha acuh tak acuh.
“Tapi, sepertinya masih
ada satu hal lagi yang belum kau tahu,” kata pria itu.
“Apa?” tanya Agahta
singkat.
“Kau akan pergi bersama
Zean untuk mengirimkan barang ke salah satu anggota tim ini,” jelasnya.
“Apa kita memiliki
anggota lain?” tanya gadis itu lagi.
“Ya, dia anggota
khusus. Posisinya hampir setara dengan Hiraeth,” jawab Immanuel.
Mendengar
jawaban tersebut, gadis itu lantas mengangguk paham. Ternyata geng mafia ini
memiliki jaringan yang cukup banyak. Pantas saja sulit untuk di tangkap. Padahal
mereka ada dimana-mana. Tidak hanya berada di satu tempat saja. Sekarang Agatha
mulai paham dengan keadaannya. Begitu rupanya.