The Riot

The Riot
Truly Secret



Untuk beberapa hal, kita memang tidak bisa


mengontrol dunia sepenuhnya. Bahkan kerap kali sesuatu tak melulu terjadi


sesuai dengan keinginan kita. Sebab, kita bukanlah pusat semesta. Jadi jangan


terlalu berharap jika semesta akan mengikuti kemauanmu.


Terkadang menjadi pecundang juga tak masalah. Kau


juga manusia biasa yang diciptakan untuk mampu merasakan berbagai jenis emosi.


Tidak hanya satu. Oleh sebab itu, jangan menjadi manusia yang monoton.


“Bagaimana?” tanya Arjuna.


“Merasa lebih lega?” sambungnya.


Setelah kurang lebih menangis selama lima menit,


pada akhirnya emosi gadis itu mereda juga. Ia tak lagi terisak seperti di awal.


Sekarang terasa jauh lebih membaik. Meski pada dasarnya tidak ada yang


benar-benar membaik.


Agatha menghela napasnya dengan kasar. Sesekali ia


mengusap kedua kelopak matanya. Berusaha untuk mengyingkirkan air mata yang


menghalangi pandangannya kala itu. Agatha jadi kehilangan titik fokus


karenanya. Semua benda yang berada di sekitarnya mendadak jadi buram. Tapi,


sudah jauh lebih baik kini. Ia sudah bisa melihat segalanya dengan jelas.


“Kau telah melakukan apa yang seharusnya kau


lakukan,” ujar Arjuna.


“Berjanjilah satu  hal kepadaku!” titah gadis itu.


“Berjanji untuk apa?” tanya Arjuna.


“Berjanjilah untuk tidak membocorkan hal ini kepada


siapa pun . Aku tidak suka jika orang lain tahu tentang kelemahanku,” jelas


Agatha dengan panjang lebar.


Pria itu tidak bicara banyak. Ia hanya


mengangguk-angguk paham dengan perkataan Agatha barusan. bahkan tanpa diberi


tahu pun, ia juga sudah paham jika Agatha tidak ingin terlihat lemah di depan


orang lain. Padadal itu bukan masalah besar. Setiap manusia juga pasti pernah


berada di titik paling rendah dalam hidupnya.


“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya,” ucap


Arjuna dengan meyakinkan.


“Bahkan tanpa kau peringati seperti ini pun, aku


sama sekali tidak bermaksud untuk memberi tahunya ke yang lain,” jelasnya


kemudian.


Sebenarnya Agatha bisa saja mempercayai pria ini


dengan mudah. Selama mereka saling mengenal, pria itu memang dapat dipercaya.


Ia tidak pernah mengingkati kata-katanya sendiri. Terlebih jika itu soal


rahasia. Arjuna tidak akan membeberkannya kepada siapa pun.


“Baiklah, aku mempercayaimu,” ujar Agatha.


“Jadi, jangan pernah merusak kepercayaanku sebagai


temanmu,” katanya.


Di sisi lain Arjuna tahu betul seberapa dalam gadis


itu mempercayai dirinya. Ini bukan yang pertama kali Agatha menceritakan soal


masalah pribadinya kepada pria itu. Posisi Agatha saat ini begitu


memprihatinkan. Ia tidak memiliki siapa pun untuk sekedar bersandar. Bahkan ia


sering merasa kesepian di rumahnya sendiri. Rumah tidak pernah benar-benar


menjadi tempat untuk berpulang baginya. Akan jauh lebih tepat jika disebut


sebagai tempat menumpang tidur.


“Kita bisa jadi lebih dari sekedar teman jika kau


mau,” ungkap Arjuna ecara terang-terangan.


Mendengar perkataan tersebut, Agatha sempat


tercengang untuk beberapa saat. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Otaknya sedang berusana untuk mencerna apa yang sedang terjadi di sini.


“Ah, mungkin maksudnya sahabat,” gumam gadis itu di


dalam batinnya.


Sesekali ia berdeham pelan untuk menetralisir


suasana hatinya. Agatha masih tidak mengerti. Entah kenapa atmosfir tempat ini


mendadak berubah.


“Bukankah selama ini aku juga sudah menganggapmu


sebagai salah satu sahabatku?” tanya gadis itu untuk memastikan.


“Bukan begitu,” tepis Arjuna dengan cepat.


“Lalu?” tanya Agatha yang mulai kebingungan


sekaligus penasaran.


ungkap pria itu secara gamblang. Seolah tidak ada masalah sama sekali saat


mengatakan hal tersebut.


Kedua bola mata gadis itu refleks membulat dengan


sempurna. Dia tercengang. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Yang jelas ia


sungguh tidak habis pikir. Agatha tidak bisa berkata-kata sama sekali.


“Hahaha! Dasar gila!” sarkas Agatha.


Sungguh, ternyata semakin ke sini bukan hanya


dirinya saja yang semakin gila. Namun, juga orang lain. Orang-orang di


sekitarnya bahkan ikut jadi gila. Sungguh ia masih tidak habis pikir.


Sampai-sampai terkadang Agatha bertanya kepada dirinya sendiri, apakah masih


ada orang yang waras di sekitarnya.


“Aku bersungguh-sungguh,” ungkap pria itu.


“Memangnya kapan aku pernah bermain-main dengan


perkataanku sendiri?” ucapnya dengan penuh penekanan.


Dari perkatannya, terdengar meyakinkan. Apa yang ia


katakan barusan adalah fakta. Arjuna bukan tipikal orang yang akan mengingkari


perkataanya sendiri. Meskipun sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk terjadi.


Tapi, sejauh ini semua memang masih terlihat aman-aman saja.


“Tidak masalah jika kita sungguhan menjalin hubungan


yang jauh lebih serius,” ungkap Arjuna secara gamblang.


“Aku tahu jika kau juga menginginkannya,” timpal


pria itu kemudian.


Pernyataan konyol macam apa lagi ini. Bagaimana bisa


pria itu menyimpulkan, kalau Agatha juga inginkan hal yang sama dengannya.


“Jangan mengada-ada,” balas Agatha acuh tak acuh.


Ini sudah lewat dari batas waktu yang sudah mereka


tetapkan sebelumnya. Padahal di awal mereka sudah sepakat untuk hanya berbicara


selama lima menit. Tapi, pada kenyataannya ini sudah nyaris menyentuh angka


empat puluh menit. Melenceng jauh dari target yang sudah ditetapkan.


Tapi, ini bukan masalah besar. Baik Agatha maupun


Arjuna sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Bahkan mereka tampak


begitu menikmati topik perbincangannya. Tidak terlalu asik, tapi juga tidak buruk-buruk


amat.


“Jangan sembunyikan perasaanmu. Lebih tepatnya,


jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri,” kata Arjuna sambil menyeruput


tehnya yang tinggal sedikit lagi.


“Kau juga berhak untuk jatuh cinta,” tukasnya


kemudian.


“Jangan sok tahu!” ketus Agatha sambil memutar bola


matanya malas.


“Tidak, aku bukannya sok tahu. Tapi memang


benar-benar tahu,” balas pria itu.


Arjuna menghela napasnya panjang. Kemudian tubuhnya


ia sandarkan pada sandaran kursi. Memposisikan dirinya dengan senyaman mungkin


sebelum mulai bicara.


“Beberapa waktu lalu aku tidak sengaja membaca buku


harianmu, kebetulan halaman yang terbuka persis tentangku,” beber pria itu


secara terang-terangan.


Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu kembali


dibuat terkejut olehnya. Arjuna tahu betul bagaimana caranya menyerang Agatha. Sampai-sampai,


gadis itu tak bisa berkutik sedikit pun.


“Kau membuka buku harianku?” tanya Agatha setengah


tak percaya.


Tidak peduli mau sekeras apa pun gadis itu ditampar


oleh fakta, otaknya tetap menolak untuk percaya.


“Tapi, mari lihat dari sisi baiknya,” ujar pria itu,


“Setidaknya, karena insiden itu aku jadi tahu jika


orang yang selama ini aku sukai, ternyata diam-diam menyukaiku balik. Sungguh ajaib


bukan?” tanyanya di akhir kalimat.


Bahkan sampai sekarang


Agatha masih belum bisa berkata-kata karenanya. Arjuna berhasil membuatnya


bungkam. Bisu seribu bahasa. Nyaris tidak bisa berkutik sama sekali. Sungguh.


Hal gila macam apa ini. Ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.