The Riot

The Riot
Morning Talk



Hari


ini sama sekali belum ada laporan terbaru soal kasus pembunuhan berantai yang


sedang ditangani oleh Agatha. Syukurlah. Setidaknya ia masih bisa bernapas lega


sampai detik ini. Paling tidak Agatha bisa memanfaatkan waktu luang tersebut


untuk merampungkan pekerjaan yang sebelumnya. Akhir-akhir ini pekerjaannya


selalu tertunda. Tapi, beruntung Agatha berhasil menyelesaikan semuanya dengan


tepat waktu.


“Apa


kau tidak memiliki pekerjaan lain selain berdiam diri di ruanganku seperti ini?”


tanya Agatha sambil menghela napas.


“Memangnya


kenapa?” tanya Arjuna balik.


Bukan


respon macam itu yang ia harapkan. Untuk yang kesekian kalinya Agatha merassa


kecewa. Untuk yang kesekian kalinya pula gadis itu menghela napas dengan kasar.


Berharap jika bebannya sedikit berkurang. Menguap bersama sisa-sisa proses


pernapasan.


Tidak.


Bukannya ia tidak suka dengan kehadiran Arjuna di sini. Bukan begitu. Jadi jangan


salah sangka dulu. Ia hanya sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


Termasuk Arjuna. Walaupun pada kenyataannya pria itu hanya diam sejak tadi. Jangankan


mengusik gadis itu, beranjak dari tempat duduknya saja tidak pernah.


“Aku


hanya sedang bosan. Hari ini tidak ada hal yang perlu kulakukan, tapi aku harus


tetap datang ke kantor,” beber pria itu secara terang-terangan.


“Bagaimana


dengan sisa pekerjaanmu yang kemarin?” tanya Agatha hanya untuk sekedar


memastikan.


“Tentu


saja aku sudah menyelesaikannya lebih dulu!” jawab Arjuna dengan semangat.


“Kalau


yang satu itu belum siap, mana bisa aku bersantai seperti ini,” jelasnya


kemudian.


Pria


itu meletakkan dagunya pada ujung telapak tangan. Bertumpu pada satu titik yang


tidak terlalu kokoh. Namun, cukup untuk menoppang paras rupawannya. Padahal Arjuna


bisa dikatakan cukup tampan. Ia beruntung. Mendapatkan proporsi wajah yang


tertarik kepadanya.


Ia


memang cukup berbeda dengan para wanita lainnya. Di saat orang lain sibuk


mengagumi paras Arjuna, gadis itu malah bersikap sebaliknya. Biasa saja. Tapi,


bukan berarti jika ia tidak mengakui ketampanan pria itu. Sebagai wanita


normal, ia masih bisa membedakan mana yang tampak dan tidak terlalu tampan. Dan


Arjuna berhasil masuk ke kategori pertama.


“Seharusnya


kemarin aku tidak perlu terlalu bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaan


itu. Lihat saja sekarang! Tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukan,” celoteh


pria itu dengan nada bicara rendah.


Ia


sepertinya sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Lebih tepatnya mengomeli


dirinya sendiri. Sungguh aneh. Terkadang Agatha suka tak habis pikir dibuatnya.


“Sungguh


membosankan!” gerutunya beberapa detik kemudian.


“Jangan


berisik!” seru gadis itu.


Tidak


bisa dipungkiri, jika yang tadi itu berhasil merusak konsentrasi Agatha. Isi pikirannya


mendadak buyar. Tak ada yang tersisa di dalam ingatannya sedikit pun.


“Hei!


Apa kau barusan berani membentak seniormu?!” balas Arjuna yang tak ingin kalah.


Seseorang


di luar ruangan ini pasti merasa terganggu sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya


ada masalah macam apa lagi, sampai-sampai terjadi keributan seperti ini.


Padahal sekarang masih pagi buta. Bahkan jarum jam belum menyentuh pukul


sembilan pagi.


“Tidak


peduli mau itu senior atau bahkan pejabat sekali pun. Kalau salah tetap


bersalah!” jelasnya dengan penuh penekanan.


Arjuna


tidak langsung membalasnya. Melainkan bungkam untuk beberapa saat. Ia bahkan


sempat mengerjap tak percaya. Berusaha untuk mengumpulkan kembali kewarasannya.


Ini adalah yang pertama kalinya. Seorang junior membentak seniornya.