
Hari
ini sama sekali belum ada laporan terbaru soal kasus pembunuhan berantai yang
sedang ditangani oleh Agatha. Syukurlah. Setidaknya ia masih bisa bernapas lega
sampai detik ini. Paling tidak Agatha bisa memanfaatkan waktu luang tersebut
untuk merampungkan pekerjaan yang sebelumnya. Akhir-akhir ini pekerjaannya
selalu tertunda. Tapi, beruntung Agatha berhasil menyelesaikan semuanya dengan
tepat waktu.
“Apa
kau tidak memiliki pekerjaan lain selain berdiam diri di ruanganku seperti ini?”
tanya Agatha sambil menghela napas.
“Memangnya
kenapa?” tanya Arjuna balik.
Bukan
respon macam itu yang ia harapkan. Untuk yang kesekian kalinya Agatha merassa
kecewa. Untuk yang kesekian kalinya pula gadis itu menghela napas dengan kasar.
Berharap jika bebannya sedikit berkurang. Menguap bersama sisa-sisa proses
pernapasan.
Tidak.
Bukannya ia tidak suka dengan kehadiran Arjuna di sini. Bukan begitu. Jadi jangan
salah sangka dulu. Ia hanya sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
Termasuk Arjuna. Walaupun pada kenyataannya pria itu hanya diam sejak tadi. Jangankan
mengusik gadis itu, beranjak dari tempat duduknya saja tidak pernah.
“Aku
hanya sedang bosan. Hari ini tidak ada hal yang perlu kulakukan, tapi aku harus
tetap datang ke kantor,” beber pria itu secara terang-terangan.
“Bagaimana
dengan sisa pekerjaanmu yang kemarin?” tanya Agatha hanya untuk sekedar
memastikan.
“Tentu
saja aku sudah menyelesaikannya lebih dulu!” jawab Arjuna dengan semangat.
“Kalau
yang satu itu belum siap, mana bisa aku bersantai seperti ini,” jelasnya
kemudian.
Pria
itu meletakkan dagunya pada ujung telapak tangan. Bertumpu pada satu titik yang
tidak terlalu kokoh. Namun, cukup untuk menoppang paras rupawannya. Padahal Arjuna
bisa dikatakan cukup tampan. Ia beruntung. Mendapatkan proporsi wajah yang
tertarik kepadanya.
Ia
memang cukup berbeda dengan para wanita lainnya. Di saat orang lain sibuk
mengagumi paras Arjuna, gadis itu malah bersikap sebaliknya. Biasa saja. Tapi,
bukan berarti jika ia tidak mengakui ketampanan pria itu. Sebagai wanita
normal, ia masih bisa membedakan mana yang tampak dan tidak terlalu tampan. Dan
Arjuna berhasil masuk ke kategori pertama.
“Seharusnya
kemarin aku tidak perlu terlalu bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaan
itu. Lihat saja sekarang! Tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukan,” celoteh
pria itu dengan nada bicara rendah.
Ia
sepertinya sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Lebih tepatnya mengomeli
dirinya sendiri. Sungguh aneh. Terkadang Agatha suka tak habis pikir dibuatnya.
“Sungguh
membosankan!” gerutunya beberapa detik kemudian.
“Jangan
berisik!” seru gadis itu.
Tidak
bisa dipungkiri, jika yang tadi itu berhasil merusak konsentrasi Agatha. Isi pikirannya
mendadak buyar. Tak ada yang tersisa di dalam ingatannya sedikit pun.
“Hei!
Apa kau barusan berani membentak seniormu?!” balas Arjuna yang tak ingin kalah.
Seseorang
di luar ruangan ini pasti merasa terganggu sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya
ada masalah macam apa lagi, sampai-sampai terjadi keributan seperti ini.
Padahal sekarang masih pagi buta. Bahkan jarum jam belum menyentuh pukul
sembilan pagi.
“Tidak
peduli mau itu senior atau bahkan pejabat sekali pun. Kalau salah tetap
bersalah!” jelasnya dengan penuh penekanan.
Arjuna
tidak langsung membalasnya. Melainkan bungkam untuk beberapa saat. Ia bahkan
sempat mengerjap tak percaya. Berusaha untuk mengumpulkan kembali kewarasannya.
Ini adalah yang pertama kalinya. Seorang junior membentak seniornya.