The Riot

The Riot
Liora Ora



Agatha bersi keras agar


pria itu tidak mengunjunginya ke unit apartment barunya. Sekarang ia ingin


kehidupannya jauh lebih terjaga. Terutama privasi yang menyangkut keamanannya. Seperti


tempat tinggal yang baru contohnya.


Sejauh ini Narendra masih


belum tahu kalau gadis itu sudah pindah dan tidak lagi tinggal di gedung yang


sama dengannya. Agatha pun tampaknya tidak berniat untuk memberi tahu pria itu.


Bukan urusan Narendra sama sekali. Meski mereka masih memiliki hubungan darah,


tapi tetap saja Narendra tidak berhak untuk tahu tentang kehidupannya yang


sekarang.


 “Ada perlu apa lagi?” tanya Agatha yang tidak


ingin basa-basi. Jadi langsung ke intinya saja.


“Kapan kau keluar dari


rumah sakit?” tanya pria itu balik.


“Tadi siang,” jawab


Agatha dengan apa adanya.


Gadis itu bahkan tidak


menatap mata lawan bicaranya seperti biasa. Setiap kali harus bertemu dengan


Narendra, suasana hatinya pasti berubah jadi buruk. Dia tidak bisa mengendalikan


hal tersebut. Perubahan suasana hati tersebut berada di luar kendalinya.


Rasa benci dan tidak


suka ini pertama kali muncul pada saat hari pemakaman ibunya. Kemudian beberapa


hari setelahnya Agatha pergi meninggalkan rumah begitu saja. Ia memutuskan


untuk menjalani hidupnya sendiri. Bertahan hidup sendiri tanpa bantuan siapa


pun. Tidak mudah memang untuk melakukan semua itu, tapi buktinya Agatha


berhasil bertahan.


“Kau pasti masih merasa


lemas. Kenapa tidak membiarkan ayah berkunjung ke apartmentmu?” tanya pria itu


sambil menatap putrinya cemas.


“Tidak apa-apa. Lagi


pula aku sedang ingin mencari udara segar saja,” dalih Agatha.


Agatha yang memintanya


untuk bertemu di salah satu restoran saja. Tempat makan ini tidak terlalu jauh


dari tempat tinggalnya yang baru. Jadi ia bisa menjangkaunya dengan mudah.


“Jadi, ada perlu apa?”


tanya gadis itu sekali lagi.


“Bukan hal yang serius.


Ayah hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saja,” ungkap Narendra.


“Dan ada beberapa hal


yang ingin ayah tanyakan juga kepadamu,” imbuhnya.


Jangan-jangan pria itu


mampu membaca isi pikiran seorang gadis yang tengah duduk di hadapannya saat


ini. Pasalnya, kalau tadi Narendra menghentikan kalimatnya sampai di ingin tahu


tentang keadaannya aja, Agatha tentu akan langsung menyuruhnya pulang. Karena ia


sudah melihat sendiri kalau kondisi Agatha baik-baik saja. Tidak ada yang perlu


dijelaskan lagi soal hal tersebut.


Namun, karena mendadak


ia mengatakan bahwa ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan, Agatha jadi


berubah pikiran. Dia mengurungkan niatnya untuk mengusir pria itu. Mungkin akan


dia lakukan nanti. Tepat setelah semua pertanyaannya terungkap. Tidak bisa


dipungkiri jika sekarang Agatha merasa penasaran dengan hal tersebut.


“Pertanyaan tentang


apa?” tanya Agatha sambil menaikkan alisnya.


Narendra tidak langsung


menjawab. Dia membenarkan posisi duduknya lebih dulu. Entah untuk apa. Mungkin


agar terasa jauh lebih nyaman. Itu saja.


“Apa kau mengenal


Liora?” tanya Narendra dengan hati-hati.


Agatha semakin


kebingungan. Dahinya berkerut sampai kedua alisnya tampak seperti menyatu.


“Liora?” tanya Agatha


balik untuk memastikan.


Narendra mengangguk


pelan. Mengiyakan perkataan gadis itu tadi. Tunggu sebentar. Sepertinya Agatha


perlu mengingat-ingat lagi. Apakah nama tersebut pernah berada di dalam


hidupnya beberapa hari belakangan ini.


“Aku tidak mengenalnya,”


ujar Agatha dengan apa adanya.


“Memangnya siapa Liora?”


tanya gadis itu penasaran.


Tentu saja ia merasa


penasaran. Bagaimana bisa ia bersikap biasa-biasa saja saat ayahnya tiba-tiba


menanyakan tentang Liora. Yang bahkan ia saja tidak pernah tahu siapa itu.


Sejauh ini Narendra belum pernah menceritakan tentang Liora kepada anaknya. Karena


pasti tidak akan berjalan semulus itu. Agatha tidak akan bisa menerima


kenyataan kalau sebentar lagi ia akan memiliki ibu baru. Padahal ia sungguh


campur tentang urusan anggota keluarganya.


“Kau sungguh tidak


mengenalnya?” tanya Narendra sekali lagi.


“Tidak,” jawab Agatha


singkat.


Sekarang pria itu pun


ikut kebingungan. Padahal sebelumnya Liora bilang kalau mereka berdua sudah


pernah bertemu. Liora yang memintanya untuk bertemu dan mereka sudah beberapa


kali keluar bersama. Sehingga pada saat Agatha dilarikan ke rumash sakit, Liora


buru-buru menghampirinya untuk memastikan jika kondisi gadis itu baik-baik


saja.


Dari penuturan Liora


tadi, Narendra dapat menyimpulkan jika hubungan mereka berdua sudah cukup


akrab. Jauh lebih baik dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi,


kenapa mendadak Agatha bersikap seperti ini. Seolah-olah tidak pernah bertemu


dengan seorang wanita yang bernama Liora. Sebenarnya apa yang sedang terjadi


dan kepada siapa ia harus percaya sekarang.


Pada akhirnya Narendra


memutuskan untuk menunjukkan foto wanita itu yang kebetulan ada beberapa di


dalam ponselnya. Siapa tahu memori Agatha sedang tidak terlalu bagus sejak


kejadian itu. Sehingga ia bisa-bisanya melupakan beberapa hal penting.


“Coba lihat foto ini!”


perintah Narendra.


“Apa kau mengenal


wanita ini? Namanya Liora,” tanya pria itu.


Agatha menyoroti


seorang wanita paruh baya yang berada di dalam foto tersebut sambil


mengingat-ingat kembali. Akhirnya sekarang ingatannya kembali.


“Ah, jadi wanita gila


ini bernama Liora?” gumam Agatha sambil mengangguk-angguk paham.


“Kau bilang apa tadi?!”


tanya pria itu.


“Bukan apa-apa,” dalih


Agatha dengan begitu tenang.


Narendra mengembalikan


ponselnya kembali ke saku. Kemudian menanyai Agatha kembali. Tampaknya sekarang


ia sudah mulai ingat tentang Liora.


“Jadi, bagaimana? Kau


mengenalnya sekarang?”


“Ya, kurang lebih


begitulah! Ada apa memangnya?”


“Apa benar kau yang


menyakitinya sampai dia koma selama dua hari?”


“Jadi, dia koma?!


Baguslah kalau begitu,”


“Apanya yang bagus?!


Apa kau sudah gila?!”


“Justru wanita itulah


yang sudah gila. Dia datang ke kamarku kemudian berusaha untuk membunuhku


dengan racun tersebut. Aku melihatnya saat ia akan menyuntikkan cairan tersebut


ke dalam botol infusku,”


“Untuk apa dia


melakukan hal tersebut? Liora hanya ingin menjengukmu!”


“Apa kau akan membawa


racun ketika mengunjungi orang lain yang sedang sakit?”


“Omong kosong macam apa


yang sedang kau bicarakan ini?!”


Agatha menghela


napasnya dengan kasar. Ia sungguh tidak habis pikir. Ternyata pertanyaan yang


dimaksud oleh pria itu tadi adalah ini. Sama sekali tidak menyenangkan. Tahu begitu,


tadi ia langsung pergi saja.


“Terserah saja!” pasrah


Agatha.


“Lagi pula sejak dulu


kau memang tidak pernah percaya denganku, bukan? Jadi kurasa tidak ada gunanya


menjelaskan panjang lebar kepada orang sepertimu,” cicit gadis itu.


“Apa kau tahu kalau kau


nyaris saja membuat orang lain kehilangan nyawanya?” tanya Narendra dengan nada


bicara yang sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.


“Dialah yang hampir


membuatku mati!” tegas Agatha sekali lagi.


“Kau


tahu jika dia yang meletakkan racun di makananku? Itu lah sebabnya kenapa aku


bisa berakhir di rumah sakit!” beber gadis itu kemudian pergi begitu saja tanpa


berpamitan sama sekali.