
Agatha bersi keras agar
pria itu tidak mengunjunginya ke unit apartment barunya. Sekarang ia ingin
kehidupannya jauh lebih terjaga. Terutama privasi yang menyangkut keamanannya. Seperti
tempat tinggal yang baru contohnya.
Sejauh ini Narendra masih
belum tahu kalau gadis itu sudah pindah dan tidak lagi tinggal di gedung yang
sama dengannya. Agatha pun tampaknya tidak berniat untuk memberi tahu pria itu.
Bukan urusan Narendra sama sekali. Meski mereka masih memiliki hubungan darah,
tapi tetap saja Narendra tidak berhak untuk tahu tentang kehidupannya yang
sekarang.
“Ada perlu apa lagi?” tanya Agatha yang tidak
ingin basa-basi. Jadi langsung ke intinya saja.
“Kapan kau keluar dari
rumah sakit?” tanya pria itu balik.
“Tadi siang,” jawab
Agatha dengan apa adanya.
Gadis itu bahkan tidak
menatap mata lawan bicaranya seperti biasa. Setiap kali harus bertemu dengan
Narendra, suasana hatinya pasti berubah jadi buruk. Dia tidak bisa mengendalikan
hal tersebut. Perubahan suasana hati tersebut berada di luar kendalinya.
Rasa benci dan tidak
suka ini pertama kali muncul pada saat hari pemakaman ibunya. Kemudian beberapa
hari setelahnya Agatha pergi meninggalkan rumah begitu saja. Ia memutuskan
untuk menjalani hidupnya sendiri. Bertahan hidup sendiri tanpa bantuan siapa
pun. Tidak mudah memang untuk melakukan semua itu, tapi buktinya Agatha
berhasil bertahan.
“Kau pasti masih merasa
lemas. Kenapa tidak membiarkan ayah berkunjung ke apartmentmu?” tanya pria itu
sambil menatap putrinya cemas.
“Tidak apa-apa. Lagi
pula aku sedang ingin mencari udara segar saja,” dalih Agatha.
Agatha yang memintanya
untuk bertemu di salah satu restoran saja. Tempat makan ini tidak terlalu jauh
dari tempat tinggalnya yang baru. Jadi ia bisa menjangkaunya dengan mudah.
“Jadi, ada perlu apa?”
tanya gadis itu sekali lagi.
“Bukan hal yang serius.
Ayah hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu saja,” ungkap Narendra.
“Dan ada beberapa hal
yang ingin ayah tanyakan juga kepadamu,” imbuhnya.
Jangan-jangan pria itu
mampu membaca isi pikiran seorang gadis yang tengah duduk di hadapannya saat
ini. Pasalnya, kalau tadi Narendra menghentikan kalimatnya sampai di ingin tahu
tentang keadaannya aja, Agatha tentu akan langsung menyuruhnya pulang. Karena ia
sudah melihat sendiri kalau kondisi Agatha baik-baik saja. Tidak ada yang perlu
dijelaskan lagi soal hal tersebut.
Namun, karena mendadak
ia mengatakan bahwa ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan, Agatha jadi
berubah pikiran. Dia mengurungkan niatnya untuk mengusir pria itu. Mungkin akan
dia lakukan nanti. Tepat setelah semua pertanyaannya terungkap. Tidak bisa
dipungkiri jika sekarang Agatha merasa penasaran dengan hal tersebut.
“Pertanyaan tentang
apa?” tanya Agatha sambil menaikkan alisnya.
Narendra tidak langsung
menjawab. Dia membenarkan posisi duduknya lebih dulu. Entah untuk apa. Mungkin
agar terasa jauh lebih nyaman. Itu saja.
“Apa kau mengenal
Liora?” tanya Narendra dengan hati-hati.
Agatha semakin
kebingungan. Dahinya berkerut sampai kedua alisnya tampak seperti menyatu.
“Liora?” tanya Agatha
balik untuk memastikan.
Narendra mengangguk
pelan. Mengiyakan perkataan gadis itu tadi. Tunggu sebentar. Sepertinya Agatha
perlu mengingat-ingat lagi. Apakah nama tersebut pernah berada di dalam
hidupnya beberapa hari belakangan ini.
“Aku tidak mengenalnya,”
ujar Agatha dengan apa adanya.
“Memangnya siapa Liora?”
tanya gadis itu penasaran.
Tentu saja ia merasa
penasaran. Bagaimana bisa ia bersikap biasa-biasa saja saat ayahnya tiba-tiba
menanyakan tentang Liora. Yang bahkan ia saja tidak pernah tahu siapa itu.
Sejauh ini Narendra belum pernah menceritakan tentang Liora kepada anaknya. Karena
pasti tidak akan berjalan semulus itu. Agatha tidak akan bisa menerima
kenyataan kalau sebentar lagi ia akan memiliki ibu baru. Padahal ia sungguh
campur tentang urusan anggota keluarganya.
“Kau sungguh tidak
mengenalnya?” tanya Narendra sekali lagi.
“Tidak,” jawab Agatha
singkat.
Sekarang pria itu pun
ikut kebingungan. Padahal sebelumnya Liora bilang kalau mereka berdua sudah
pernah bertemu. Liora yang memintanya untuk bertemu dan mereka sudah beberapa
kali keluar bersama. Sehingga pada saat Agatha dilarikan ke rumash sakit, Liora
buru-buru menghampirinya untuk memastikan jika kondisi gadis itu baik-baik
saja.
Dari penuturan Liora
tadi, Narendra dapat menyimpulkan jika hubungan mereka berdua sudah cukup
akrab. Jauh lebih baik dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi,
kenapa mendadak Agatha bersikap seperti ini. Seolah-olah tidak pernah bertemu
dengan seorang wanita yang bernama Liora. Sebenarnya apa yang sedang terjadi
dan kepada siapa ia harus percaya sekarang.
Pada akhirnya Narendra
memutuskan untuk menunjukkan foto wanita itu yang kebetulan ada beberapa di
dalam ponselnya. Siapa tahu memori Agatha sedang tidak terlalu bagus sejak
kejadian itu. Sehingga ia bisa-bisanya melupakan beberapa hal penting.
“Coba lihat foto ini!”
perintah Narendra.
“Apa kau mengenal
wanita ini? Namanya Liora,” tanya pria itu.
Agatha menyoroti
seorang wanita paruh baya yang berada di dalam foto tersebut sambil
mengingat-ingat kembali. Akhirnya sekarang ingatannya kembali.
“Ah, jadi wanita gila
ini bernama Liora?” gumam Agatha sambil mengangguk-angguk paham.
“Kau bilang apa tadi?!”
tanya pria itu.
“Bukan apa-apa,” dalih
Agatha dengan begitu tenang.
Narendra mengembalikan
ponselnya kembali ke saku. Kemudian menanyai Agatha kembali. Tampaknya sekarang
ia sudah mulai ingat tentang Liora.
“Jadi, bagaimana? Kau
mengenalnya sekarang?”
“Ya, kurang lebih
begitulah! Ada apa memangnya?”
“Apa benar kau yang
menyakitinya sampai dia koma selama dua hari?”
“Jadi, dia koma?!
Baguslah kalau begitu,”
“Apanya yang bagus?!
Apa kau sudah gila?!”
“Justru wanita itulah
yang sudah gila. Dia datang ke kamarku kemudian berusaha untuk membunuhku
dengan racun tersebut. Aku melihatnya saat ia akan menyuntikkan cairan tersebut
ke dalam botol infusku,”
“Untuk apa dia
melakukan hal tersebut? Liora hanya ingin menjengukmu!”
“Apa kau akan membawa
racun ketika mengunjungi orang lain yang sedang sakit?”
“Omong kosong macam apa
yang sedang kau bicarakan ini?!”
Agatha menghela
napasnya dengan kasar. Ia sungguh tidak habis pikir. Ternyata pertanyaan yang
dimaksud oleh pria itu tadi adalah ini. Sama sekali tidak menyenangkan. Tahu begitu,
tadi ia langsung pergi saja.
“Terserah saja!” pasrah
Agatha.
“Lagi pula sejak dulu
kau memang tidak pernah percaya denganku, bukan? Jadi kurasa tidak ada gunanya
menjelaskan panjang lebar kepada orang sepertimu,” cicit gadis itu.
“Apa kau tahu kalau kau
nyaris saja membuat orang lain kehilangan nyawanya?” tanya Narendra dengan nada
bicara yang sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
“Dialah yang hampir
membuatku mati!” tegas Agatha sekali lagi.
“Kau
tahu jika dia yang meletakkan racun di makananku? Itu lah sebabnya kenapa aku
bisa berakhir di rumah sakit!” beber gadis itu kemudian pergi begitu saja tanpa
berpamitan sama sekali.