
Kali ini Agatha kembali
memperhatikan lembaran kertas tersebut di tangannya. Mengamati setiap kata yang
tertulis di sana juga beserta gambar yang turut dilampirkan. Tapi, tetap saja
tidak ada sesuatu yang aneh yang berhasil menarik perhatian gadis itu. Semuanya
terlihat begitu normal. Sama, tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka bahas
di kantor tadi.
Agatha sampai tidak
habis pikir. Dia sungguh tidak mengerti. Yang mana satu yang dimaksud oleh
Jeff. Kenapa tidak langsung diberi tahu saja. Kenapa harus membuat lawan
bicaranya berpikir setengah mati seperti ini. Agatha sudah menyerah. Tidak
peduli mau sejeli apa pun matanya, ia tetap tidak akan bisa menemukan
kejanggalan yang dimaksud oleh pria itu tadi.
“Beri tahu saja yang
mana!” celetuk Agatha sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Ck! Bagaimana bisa kau
tidak menemukannya? Padahal sudah terpampang dengan jelas di sana,” protes
Jeff.
Tanpa basa-basi, pria
itu langsung merebut kertas tersebut dari tangan Agatha. Tenang saja, Agatha
tidak akan marah hanya karena hal sepele tersebut. Lagi pula di awal ia yang
memintanya kepada Jeff sendiri. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk marah. Biar
pria itu menjelaskan segalanya sengan caranya sendiri.
“Coba perhatikan peluru
ini!” perintah Jeff.
Ini bukan yang pertama kalinya
pria itu mengatakan hal tersebut. Sebelumnya ia juga memerintahkan hal yang
serupa. Sepertinya letak kejanggalannya berada pada benda itu. Tapi, tidak
peduli sekeras apa pun gadis itu berusaha, hasilnya tetap saja nihil. Ia sama
sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh dan terlihat mencurigakan pada peluru
tersebut. Itu terlihat sepeti peluru SS195LF biasa.
“Ada apa dengan peluru
ini memangnya?” tanya Agatha dengan ragu.
“Kau yakin tidak
menemukan sesuatu yang aneh?” tanya Jeff sekali lagi. Kemudian dibalas dengan
gelengan lemah oleh lawan bicaranya.
“Kalau begitu biar
kutunjukkan kepadamu dimana letak keanehannya,” lanjutnya.
Mendengar kalimat
ini dia benar-benar merasa penasaran. Sebenarnya ada apa dengan peluru tersebut
sampai berhasil menyita perhatian pria ini.
“Tidakkah kau melihat
tulisan yang berada di salah satu sisi pelurunya?”
Jeff mengeluarkan satu
pertanyaan pancingan yang membuat Agatha memicingkan matanya. Sekarang ia baru
paham. Ternyata itulah yang menjadi pokok permasalahannya sejak tadi. Sebuah
tulisan yang tampaknya dibuat dengan tekanan pada salah satu sisi peluru. Tidak
biasanya mereka memberikan tulisan di sana.
“Tulisan apa ini?”
tanya Agatha.
Meski sudah menemukan
puncak dari topik pembicaraan mereka malam ini, tapi itu bukan berarti jika
semuanya sudah cukup jelas. Tidak sama sekali. Ini baru permulaan saja bagi
gadis itu. Masih banyak hal yang perlu ia cari tahu, dan Jeff adalah orang
pertama yang akan ia mintai keterangan.
“Coba ingat-ingat
lagi!” perintah pria itu.
“Kau pernah menulis
kode ini di kertas laporanmu!” tukasnya.
Sudah cukup sampai di
sana Jeff memberikan petunjuk kepada gadis itu. Sisanya biar ia yang
menyelesaikan sendiri. Jeff yakin jika lawan bicaranya saat ini sudah mampu
berpikir lebih jauh lagi mengenai hal tersebut. Ia tahu kalau Agatha bisa
mengandalkan dirinya sendiri.
“Kertas laporan?” gumam
Agatha sambil menyugar rambutnya ke belakang.
“Tapi, kertas laporan
yang mana satu?” sambungnya.
“Ada begitu banyak
kertas laporan yang pernah sampai di tanganku, dan aku selalu menuliskan
sesuatu di sana sebagai catatan tambahan,” simpulnya.
Meski pilihannya
lumayan banyak, Agatha tidak menyerah begitu saja. Tanpa kepastian, ia terus
berusaha untuk menebak. Kira-kira kertas yang mana yang dimaksud oleh Jeff dari
sekian banyak kertas laporan yang pernah ia coret-coret.
***