
Setelah menyelesaikan
beberapa pekerjaan, Agatha memutuskan untuk pergi makan siang sebentar
sekaligus istirahat sebentar sebelum mulai bekerja kembali. Ini adalah pertama
kalinya bagi gadis itu untuk keluar dari ruangannya setelah sekian lama. Agatha
menghabiskan waktunya selama berjam-jam di dalam sana hanya untuk berkutat
dengan laptopnya serta beberapa tumpukan berkas.
Mungkin bagi beberapa
orang itu bukanlah pekerjaan yang terlalu melelahkan. Tapi, bagi Agatha itu
cukup menguras tenaga. Seperti yang kita tahu jika bukan tipikal orang yang betah
berlama-lama untuk mengerjakan hal seperti itu. Tapi, karena tuntutan pekerjaan
mau tidak mau ia harus seperti ini.
Sekarang ia sudah
merasa cukup jenuh dengan hal tersebut. Satu-satunya cara untuk mengurangi hal
tersebut adalah dengan pergi ke luar dan mencari udara segar.
“Mau makan siang?” ucap
sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul tepat di telinga kanannya.
Sontak gadis itu refleks
langsung mundur beberapa langkah. Tempo detak jantungnya langsung meningkat
drastis. Ia benar-benar terkejut. Niat hati keluar ingin mencari udara segar
dan menenangkan pikirannya sebelum kembali bekerja, Agatha malah dikejutkan
dengan hal seperti ini.
“Hahaha!”
“Apa kau terkejut?”
Agatha sama sekali
tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia menanyakan pertanyaan konyol seperti itu.
Tidak bisakah sekarang ia melihat kalau Agatha sedang terkejut. Masih
bisa-bisanya bertanya seperti itu.
Mendengar pertanyaan
tidak berguna seperti itu, emosi Agatha mendadak naik secara tiba-tiba. Darah di
ubun-ubunnya terasa akan mendidih. Sungguh ia tidak bisa menahan amarahnya.
Sontak ia langsung melayangkan satu pukulan kepada rekan kerjanya.
Entah sejak kapan Jeff
berubah menjadi menyebalkan seperti ini. Ternyata semua orang sama saja
menyebalkannya. Sungguh tidak bisa dibiarkan.
“Apa kau ingin
membuatku mati mendadak karena jantungan?!” seru Agatha dengan nada bicara yang
sudah jelas jauh lebih tinggi dari pada biasanya.
“Hei, tenang-tenang!
Jangan marah-marah seperti itu,” balas Jeff.
Pria itu berusaha untuk
menenangkan gadis itu. Namun, semuanya sia-sia. Tidak ada lagi gunanya
sekarang, karena Agatha sudah terlanjur terbawa suasana.
“Ayo, ikut denganku!”
ajak Jeff kemudian langsung menarik tangan gadis itu begitu saja.
“Kita mau kemana?”
tanya Agatha.
“Sudah, jangan banya
tanya. Ikut saja denganku,” kata pria itu.
Mendadak Agatha
langsung bungkam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Secara tiba-tiba ia
kehabisan kata-kata. Tidak ada pilihan lain baginya saat ini. Pada akhirnya
mereka sampai di kantin rumah sakit. Jeff langsung menyuguhinya tempat duduk.
“Silahkan duduk di
sini,” persilahkan pria itu.
Untuk beberapa detik
gadis itu mematung di tempat. Sesekali ia mengerjap pelan. Meski sudah sampai
di tempat tujuan, ia sama sekali tidak tahu apa tujuan pria itu untuk membawanya
kemari. Yang jelas untuk makan siang. Tapi, tumben sekali. Tidak biasanya Jeff
memperlakkannya seperti ini.
“Sudah, duduk!” tegas
pria itu sekali lagi.
Tanpa berlama-lama
lagi, Jeff langsung menyuruh gadis itu untuk duduk. Kemudian Jeff pergi ke
etalase untuk memesan beberapa menu.
“Apa hari ini ulang
tahunku?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Ia lantas buru-buru
mengecek tanggal yang tertera di ponselnya. Ternyata tidak sama sekali. Ulang tahunnya
masih dua bulan lagi. Tidak terlalu lama memang. Namun, bukankkah terlalu cepat
juga untuk dirayakan.
Merasa kebingungan
karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sama sekali sejak tadi,
Agatha lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Ada apa ini?”
“Tidak ada apa-apa,”
balas pria itu dengan cepat.
Lagi-lagi Agatha merasa
kebingungan. Ia mengerutkan dahinya, hingga kedua alisnya tampak menyatu
seperti itu. Sungguh, sejak awal ia sama sekali tidak mengerti apa pun. Jadi,
sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini. Apakah Agatha telah melewatkan
sesuatu di sini. Kenapa mendadak ia jadi seperti satu-satunya orang yang tidak
tahu tentang apa pun di sini.
“Apa yang salah
denganmu?” tanya Agatha untuk yang kesekian kalinya.
“Apa aku telah
melewatkan sesuatu?” timpalnya kemudian.
Tidak peduli sudah
seberapa keras gadis ini berusaha untuk memutar otak dan mencari jawaban. Hasilnya
tetap sama saja. Nihil. Apa-apaan ini. Sungguh tidak adil. Bagaimana bisa
semesta membiarkan hanya dirinya saja yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi
di sini. Bahkan sampai sekarang saja ia masih bertanya-tanya kepada dirinya
sendiri.
“Hari ini aku akan
mentraktirmu!” ucap Jeff dengan antusias.
Lawan bicaranya malah
langsung mengernyitkan kedua matanya saat Jeff berkata seperti itu. Seolah masih
belum yakin.
“Apa hari ini adalah
hari uulang tahunmu?” tanya Agatha dengan pebuh rasa curiga.
“Ha?! Tidak sama
sekali!” tepis pria itu dengan cepat.
“Ulang tahunku awal
tahun. Kita bahkan pernah merayakannya bersama-sama dengan yang lain. Apa kau
lupa soal yang satu itu?” jelas Jeff kemudian diakhiri dengan sebuah
pertanyaan.
“Ah, benar juga,” jawab
Agatha.
“Bagaimana bisa aku
melupakan yang satu itu,” gumamnya.
“Lalu sekarang kau
mentraktirku makanan atas dasar apa?” tanya Agatha lagi.
“Apa hari ini ada
sebuah perayaan atau hari spesial bagimu atau bagiku?” lanjutnya.
Sebenarnya Agatha masih
merasa penasaran. Sebab, sejak awal tadi ia memang belum menemukan jawaban atas
pertanyaannya barusan. Sebenarnya mudah saja untuk menemukan pertanyaannya.
Jeff hanya perlu menjawab apa yang seharusnya ia jawab. Dengan begitu semuanya
akan selesai cepat. Tidak perlu berbelit-belit seperti ini.
“Hmm….. entahlah!”
jawab pria itu sambil menggidikkan bahunya.
“Memangnya harus ada
alasan tertentu untuk mentraktir makanan temanmu sendiri?” tanyanya balik.
“Tentu saja!” jawab
Agatha dengan begitu yakin.
“Tapi, bagiku tidak
selalu begitu,” balas Jeff.
“Kau bisa melakukan
kebaikan kapan saja. Terkadang tidak perlu alasan untuk berbuat baik kepada
orang lain,” paparnya secara singkat.
Sepertinya bertanya
kepada Jeff adalah suatu kesalahan besar. Ia tidak akan bisa mendapatkan
jawaban yang diinginkan jika begini caranya. Lagi pula tampaknya Jeff sama
sekali tidak ingin untuk menjawab pertanyaan Agatha dengan serius. Jadi, daripada
berdebat lebih lama lagi, gadis itu memutuskan untuk bungkam dan tidak bicara
apa-apa lagi. Lebih tepatnya dia sudah putus asa.
Sekarang ia jauh lebih
memilih untuk mengikuti alur permainannya saja. Terserah dengan apa yang akan
dilakukan oleh pria itu. Ia sama sekali tidak peduli. Selama tidak merugikan
dirinya sendiri dan orang lain, Agatha sama sekali tidak mempermasalahkan hal
tersebut.
Mari
berpikir positif saja. Mungkin hari ini Jeff sedang hoki atau hanya sekedar
suasana hatinya saja yang sedang baik. Sampai-sampai ia ingin memberikan
kejutan kepada rekan kerjanya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa hanya
Agatha saja. Bagaimana dengan teman-teman kerjanya yang lain. seperti Arjuna,
Thomas, Robi dan yang lainnya.