The Riot

The Riot
Van



Sepertinya ada beberapa


hal yang tidak diketahu oleh Agatha sejauh ini. Waktu tidak mejadi penentu sama


sekali. Tidak peduli seberapa lama ia sudah di sini, hal itu sama sekali tidak


menjamin kalau Agatha akan mengetahui segalanya. Ada beberapa hal yang memang


tidak akan akan diberi tahu secara suka rela. Telebih Agatha merupakan


pendatang baru di sini.


Manusia zaman sekarang


memiliki tingkat kepercayaan yang tidak terlalu tinggi. Lebih tepatnya mereka


tidak akan mudah percaya dengan orang. Untuk orang terdekat saja tidak mudah


untuk dipercayai. Mereka percaya kalau manusia bukan tempat untuk menyimpan


rahasia. Mereka bisa saja berbalik menyerang kita ketika sesuatu yang buruk


terjadi. Ada banyak hal yang tidak bisa kita duga. Semesta selalu ppunya


kejutan.


“Kau nanti akan ikut


bersamaku, bukan?” tanya Zean untuk memastikan sekali lagi.


“Ya,” jawab gadis itu


dengan singkat.


Hanya buang-buang waktu


saja. Padahal Agatha yakin betul kalau ia sudah diberi tahu soal ini sebelumnya


oleh Immanuel. Mana mungkin tidak. Immanuel bukan tipikal orang yang ceroboh. Dia


tidak akan melewatkan satu hal pun. Terlepas dari itu penting atau malah tidak


sama sekali.


“Kalau begitu, bisa


tolong siapkan mobilnya?” tanya Zean.


“Dimana?” tanya gadis


itu balik.


“Ada di parkiran


belakang. Mobil van berwarna putih yang biasa kami pakai,” jelas pria itu


dengan singkat.


“Kau tahu mobil yang


mana yang aku maksud, bukan?” tanyanya untuk memastikan sekali lagi.


Agatha hanya mengangguk


pelan sebagai respon atas pertanyannya barusan.


“Baguslah kalau begitu!”


ujar Zean.


Beberapa detik


setelahnya, pria itu merogoh saku celananya. Berusaha untuk menemukan sesuatu


yang memang ia selipkan di saja sejak tadi. Seharusnya tidak sulit untuk


menemukannya kembali. Agatha percaya kalau bendanya juga tidak terlalu besar.


Ternyata dugaannya benar. Zean rupanya sedang mencari kunci mobil van yang ia


maksud tadi.


“Ini!” ucap pria itu


lalu menyodorkan kuncinya kepada Agatha.


Tanpa pikir panjang


lagi, Agatha langsung menerimanya. Ia tahu apa yang perlu dilakukan setelah


ini. Bukankah tadi pria itu sudah memberi tahunya. Sementara mereka menyusun


barang-barang yang baru saja masuk, Agatha akan menyiapkan mobil van yang akan


mereka pakai nanti.


“Kalau begitu aku pergi


ke bawah dulu!” pamit gadis itu.


“Iya!” balas Zean.


Kali ini tidak perlu


terburu-buru. Mereka tidak akan berpacu dengan waktu lagi kali ini. Semua orang


melakukan pekerjaannya dengan begitu tenang. Termasuk Agatha. Hari ini tidak


ada ancaman apa pun dan dari mana pun. Sehingga mereka bisa bergerak dengan


tenang.


Begitu pintu lift


tertutup, ia menyandarkan dirinya pada salah satu sisi dinding lift. Menunggu sampai


pintunya terbuka lagi. Sementara itu, mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Setidaknya


jauh lebih baik dari pada merokok. Agatha sama sekali tidak pernah mencoba


rokok dan sepertinya ia memang tidak akan terbiasa dengan yang satu itu.


‘TING!’


Setelah pintunya


terbuka, Agatha langsung bergegas keluar. Di lantai dasar ada begitu banyak


orang. Pasti mereka adalah orang-orang yang bekerja di kantor ini. Tapi, ia


menghiraukan kegiatan illegal para mafia yang melawan hukum.


Ia masih tidah habis


pikir sama sekali. Bagaimana bisa orang-orang di sini bersikap biasa saja.


Membiarkan para pembangkang negara bersarang di sini. Tidak masuk akal saja.


Agatha yakin betul kalau mereka semua pasti sudah tahu soal keberadaan Hiraet


dan anak buahnya yang menempati tempat tertinggi pada gedung ini. Namun, ada


satu hal yang membuat gadis itu bertanya-tanya. Bagaimana bisa mereka bersikap


acuh seolah tak ada apa-apa yang terjadi.


Para pekerja bank dan


para mafia melakukan aktivitas mereka di tempat yang sama. Hidup saling


berdampingan. Saling berselisihan setiap hari. Tapi, tidak ada yang peduli. Sebenarnya


mereka memang tidak ingin peduli sama sekali, atau hanya tidak ingin mencari


masalah kepada orang yang salah. Sedikit banyaknya, mereka yang bekerja di sini


pasti menerima ancaman atau peringatan untuk tetap menjaga rahasia. Ada sebuah


harga yang harus dibayar jika mereka tidak mengikuti peraturan yang sudah


ditetapkan.


Semua orang pasti sudah


tahu apa aturan tak tertulis yang berlaku di sini. Mungkin sebelum masuk kemari


pun mereka sudah mendengar desas-desus. Dengan begitu, setidaknya mereka sudah


memiliki persiapan.


Tak ingin ambil pusing


soal orang-orang yang sedang sibuk bekerja itu, Agatha lantas segera menuju


parkiran. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sepertinya


semua orang sedang sama-sama sibuk di sini. Sehingga tidak memiliki waktu luang


untuk mengurusi hal yang bukan urusan mereka. Itu adalah opsi lain yang


mendadak muncul di dalam kepala gadis ini.


Begitu sampai di


parkiran, kedua bola mata Agatha langsung tertuju kepada sebuah mobil van


berwatna abu-abu yang terparkir tidak jauh dari sana. Sepertinya mereka memang


sengaja meletakkan mobil itu tidak jauh dari pintu keluar agar mudah ditemukan.


***


Sambil menunggu


teman-temannya yang lain turun, Agatha masih tetap berada di dalam mobil. Ia bersantai


sambil sesekali memandangi ke luar kaca jendela. Padahal tidak ada apa-apa yang


bisa ia temukan di sana. Hanya dipadai oleh jejeran kendaraan-kendaraan lain


yang berada di sekitarnya dan memenuhi tempat ini.


“Bukankah itu Alexa?”


gumam Agatha sambil tetap mengamati.


Secara tidak sengaja


gadis itu menangkap sebuah pemandangan yang cukup mencurigakan. Alexa tampak


berdiri di depan pintu masuk sambil berbisik-bisik dengan petugas keamanan. Lalu


tak lama kemudian gadis itu merogoh tas selempang miliknya dan memberikan sebuah


amplop yang diyakini jika isinya adalah uang.


Tidak ingin melewatkan


momen penting tersebut, Agatha buru-buru mengeluarkan ponsel miliknya dan


merekam semua kejadian. Meski tidak bisa mendapatkan rekamannya secara penuh


dari awal sampai akhir, tapi setidaknya ia sudah mendapatkan poin pentingnya di


sini.


Sepertinya rekaman yang


ia dapatkan hari ini akan berguna suatu saat nanti. Tidak ada yang tahu apa


yang akan terjadi di masa depan. Manusia tidak bisa memastikan apa pun di dunia


ini. Oleh sebab itu, penting untuk selalu berjaga-jaga.


“Aku mungkin tidak tahu


apa yang sedang kau lakukan sekarang. Tapi, mungkin nanti,” ujar Agatha sambil


tersenyum miring.


Entahlah, sulit untuk


dimengerti apa makna dari sorot matanya barusan. Tidak ada yang benar-benar


bisa memastikan, kecuali Agatha sendiri. Bahkan mungkin ia juga tidak tahu


karena melakukannya tanpa sadar.


Suatu


hari nanti, video ini bisa menjadi senjata untuk menyerang balik gadis itu.


Jadi, Alexa tidak bisa macam-macam dengannya. Nasib gadis itu berada di


tangannya. Untuk pertama kalinya ia mungkin akan membuat Alexa jadi menurut


kepadanya. Ternyata menaklukkan orang seperti Alexa tidak terlalu sulit juga.