
Sepertinya ada beberapa
hal yang tidak diketahu oleh Agatha sejauh ini. Waktu tidak mejadi penentu sama
sekali. Tidak peduli seberapa lama ia sudah di sini, hal itu sama sekali tidak
menjamin kalau Agatha akan mengetahui segalanya. Ada beberapa hal yang memang
tidak akan akan diberi tahu secara suka rela. Telebih Agatha merupakan
pendatang baru di sini.
Manusia zaman sekarang
memiliki tingkat kepercayaan yang tidak terlalu tinggi. Lebih tepatnya mereka
tidak akan mudah percaya dengan orang. Untuk orang terdekat saja tidak mudah
untuk dipercayai. Mereka percaya kalau manusia bukan tempat untuk menyimpan
rahasia. Mereka bisa saja berbalik menyerang kita ketika sesuatu yang buruk
terjadi. Ada banyak hal yang tidak bisa kita duga. Semesta selalu ppunya
kejutan.
“Kau nanti akan ikut
bersamaku, bukan?” tanya Zean untuk memastikan sekali lagi.
“Ya,” jawab gadis itu
dengan singkat.
Hanya buang-buang waktu
saja. Padahal Agatha yakin betul kalau ia sudah diberi tahu soal ini sebelumnya
oleh Immanuel. Mana mungkin tidak. Immanuel bukan tipikal orang yang ceroboh. Dia
tidak akan melewatkan satu hal pun. Terlepas dari itu penting atau malah tidak
sama sekali.
“Kalau begitu, bisa
tolong siapkan mobilnya?” tanya Zean.
“Dimana?” tanya gadis
itu balik.
“Ada di parkiran
belakang. Mobil van berwarna putih yang biasa kami pakai,” jelas pria itu
dengan singkat.
“Kau tahu mobil yang
mana yang aku maksud, bukan?” tanyanya untuk memastikan sekali lagi.
Agatha hanya mengangguk
pelan sebagai respon atas pertanyannya barusan.
“Baguslah kalau begitu!”
ujar Zean.
Beberapa detik
setelahnya, pria itu merogoh saku celananya. Berusaha untuk menemukan sesuatu
yang memang ia selipkan di saja sejak tadi. Seharusnya tidak sulit untuk
menemukannya kembali. Agatha percaya kalau bendanya juga tidak terlalu besar.
Ternyata dugaannya benar. Zean rupanya sedang mencari kunci mobil van yang ia
maksud tadi.
“Ini!” ucap pria itu
lalu menyodorkan kuncinya kepada Agatha.
Tanpa pikir panjang
lagi, Agatha langsung menerimanya. Ia tahu apa yang perlu dilakukan setelah
ini. Bukankah tadi pria itu sudah memberi tahunya. Sementara mereka menyusun
barang-barang yang baru saja masuk, Agatha akan menyiapkan mobil van yang akan
mereka pakai nanti.
“Kalau begitu aku pergi
ke bawah dulu!” pamit gadis itu.
“Iya!” balas Zean.
Kali ini tidak perlu
terburu-buru. Mereka tidak akan berpacu dengan waktu lagi kali ini. Semua orang
melakukan pekerjaannya dengan begitu tenang. Termasuk Agatha. Hari ini tidak
ada ancaman apa pun dan dari mana pun. Sehingga mereka bisa bergerak dengan
tenang.
Begitu pintu lift
tertutup, ia menyandarkan dirinya pada salah satu sisi dinding lift. Menunggu sampai
pintunya terbuka lagi. Sementara itu, mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Setidaknya
jauh lebih baik dari pada merokok. Agatha sama sekali tidak pernah mencoba
rokok dan sepertinya ia memang tidak akan terbiasa dengan yang satu itu.
‘TING!’
Setelah pintunya
terbuka, Agatha langsung bergegas keluar. Di lantai dasar ada begitu banyak
orang. Pasti mereka adalah orang-orang yang bekerja di kantor ini. Tapi, ia
menghiraukan kegiatan illegal para mafia yang melawan hukum.
Ia masih tidah habis
pikir sama sekali. Bagaimana bisa orang-orang di sini bersikap biasa saja.
Membiarkan para pembangkang negara bersarang di sini. Tidak masuk akal saja.
Agatha yakin betul kalau mereka semua pasti sudah tahu soal keberadaan Hiraet
dan anak buahnya yang menempati tempat tertinggi pada gedung ini. Namun, ada
satu hal yang membuat gadis itu bertanya-tanya. Bagaimana bisa mereka bersikap
acuh seolah tak ada apa-apa yang terjadi.
Para pekerja bank dan
para mafia melakukan aktivitas mereka di tempat yang sama. Hidup saling
berdampingan. Saling berselisihan setiap hari. Tapi, tidak ada yang peduli. Sebenarnya
mereka memang tidak ingin peduli sama sekali, atau hanya tidak ingin mencari
masalah kepada orang yang salah. Sedikit banyaknya, mereka yang bekerja di sini
pasti menerima ancaman atau peringatan untuk tetap menjaga rahasia. Ada sebuah
harga yang harus dibayar jika mereka tidak mengikuti peraturan yang sudah
ditetapkan.
Semua orang pasti sudah
tahu apa aturan tak tertulis yang berlaku di sini. Mungkin sebelum masuk kemari
pun mereka sudah mendengar desas-desus. Dengan begitu, setidaknya mereka sudah
memiliki persiapan.
Tak ingin ambil pusing
soal orang-orang yang sedang sibuk bekerja itu, Agatha lantas segera menuju
parkiran. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sepertinya
semua orang sedang sama-sama sibuk di sini. Sehingga tidak memiliki waktu luang
untuk mengurusi hal yang bukan urusan mereka. Itu adalah opsi lain yang
mendadak muncul di dalam kepala gadis ini.
Begitu sampai di
parkiran, kedua bola mata Agatha langsung tertuju kepada sebuah mobil van
berwatna abu-abu yang terparkir tidak jauh dari sana. Sepertinya mereka memang
sengaja meletakkan mobil itu tidak jauh dari pintu keluar agar mudah ditemukan.
***
Sambil menunggu
teman-temannya yang lain turun, Agatha masih tetap berada di dalam mobil. Ia bersantai
sambil sesekali memandangi ke luar kaca jendela. Padahal tidak ada apa-apa yang
bisa ia temukan di sana. Hanya dipadai oleh jejeran kendaraan-kendaraan lain
yang berada di sekitarnya dan memenuhi tempat ini.
“Bukankah itu Alexa?”
gumam Agatha sambil tetap mengamati.
Secara tidak sengaja
gadis itu menangkap sebuah pemandangan yang cukup mencurigakan. Alexa tampak
berdiri di depan pintu masuk sambil berbisik-bisik dengan petugas keamanan. Lalu
tak lama kemudian gadis itu merogoh tas selempang miliknya dan memberikan sebuah
amplop yang diyakini jika isinya adalah uang.
Tidak ingin melewatkan
momen penting tersebut, Agatha buru-buru mengeluarkan ponsel miliknya dan
merekam semua kejadian. Meski tidak bisa mendapatkan rekamannya secara penuh
dari awal sampai akhir, tapi setidaknya ia sudah mendapatkan poin pentingnya di
sini.
Sepertinya rekaman yang
ia dapatkan hari ini akan berguna suatu saat nanti. Tidak ada yang tahu apa
yang akan terjadi di masa depan. Manusia tidak bisa memastikan apa pun di dunia
ini. Oleh sebab itu, penting untuk selalu berjaga-jaga.
“Aku mungkin tidak tahu
apa yang sedang kau lakukan sekarang. Tapi, mungkin nanti,” ujar Agatha sambil
tersenyum miring.
Entahlah, sulit untuk
dimengerti apa makna dari sorot matanya barusan. Tidak ada yang benar-benar
bisa memastikan, kecuali Agatha sendiri. Bahkan mungkin ia juga tidak tahu
karena melakukannya tanpa sadar.
Suatu
hari nanti, video ini bisa menjadi senjata untuk menyerang balik gadis itu.
Jadi, Alexa tidak bisa macam-macam dengannya. Nasib gadis itu berada di
tangannya. Untuk pertama kalinya ia mungkin akan membuat Alexa jadi menurut
kepadanya. Ternyata menaklukkan orang seperti Alexa tidak terlalu sulit juga.