The Riot

The Riot
Protect Me



‘TAP! TAP! TAP!’


‘KRIETTT!’


Meski sekarang sudah


semakin larut malam, tapi hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh banyak


terhadap koridor yang satu ini. Mau itu siang atau malam sepertinya suasananya


sama saja. Agatha baru saja kembali dari taman. Tempat itu sepertinya cukup


cocok baginya. Meski di sana ia bertemu dengan banyak orang, tapi poin utamanya


tetap berhasil di dapatkan. Memangnya apa lagi jika bukan ketenangan.


“Sepertinya mereka


harus rajin memberikan pelumas ke engsel pintu itu agar tidak berderit lagi,”


gerutu Agatha.


Bunyinya sangat


mengganggu. Membuatnya merasa ngilu setiap kali ada yang membuka pintu. Ia benar-benar


tidak nyaman dengan kebisingan kecil yang satu  itu.


“Sepertinya mereka


benar-benar pulang,” ucap Agatha sambil berjalan menuju tempat tidurnya.


“Tapi, kenapa mereka


tidak berpamitan denganku?” tanyanya.


“Ah, sudahlah! Lagi


pula aku bisa mengurus diriku sendiri,” tukas gadis itu.


Tidak masalah kalau


memang ia harus kembali mengurusi dirinya sendiri. Lagi pula bukankah Agahta


sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri. Orang-orang menganggapnya sebagai


seorang gadis yang mandiri.


Sepertinya malam ini ia


akan tidur lebih cepat daripada biasanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian


lama jam tidurnya kembali normal. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian


lama gadis itu kembali melakukan segalanya dengan normal. Mungkin jika ingin


hidup lebih sehat, ia harus memulai ulang segalanya dan menghentikan kebiasaan


buruknya.


***


“Aku sedang menunggu


hasil laboratoriumnya keluar,” ujar Arjuna kemudian mematikan teleponnya tanpa


berpamitan sama sekali.


Sekarang ia sedang


menunggu sendirian di depan ruangan laboratorium. Menunggu hasil pemeriksaan


Agatha tadi keluar. Sementara itu Jeff sudah menunggunya di pelataran rumah


sakit. Ia baru saja kembali dari kantor untuk mengambil surat perintah. Menurut


kabar yang mereka dengar, restoran itu akan tutup tepat pada pukul sebelas


malam nanti. Masih ada sisa waktu kurang lebih sekitar dua jam lagi sebelum


tempatnya tutup.


Setelah menunggu sekitar


empat puluh lima menit, pada akhirnya ia mendapatkan juga apa yang ia mau. Tanpa


berlama-lama lagi, ia segera pergi ke parkiran untuk menyusul rekannya. Jeff


sudah menunggu sejak tadi. Kebetulan jarak dari rumah sakit ini dengan restoran


yang dimaksud tidak terlalu jauh. Jadi masih bisa ditempuh dalam kurun waktu


sekitar lima belas menit jika kondisi jalanan sedikit ramai. Namun, jika lalu


lintas tampak lancar maka mungkin bisa sampai jauh lebih cepat.


“Apa kau sudah


memastikan jika restorannya masih buka pada jam segini?” tanya Arjuna yang


tiba-tiba buka suara begitu sampai di dalam mobil.


“Mereka baru akan tutup


pada pukul sebelas malam jika hari biasa dan bahkan masih buka sampai tengah


malam saat akhir pekan,” jelas Jeff.


Pria itu hanya


mengatakan apa yang ia tahu saja.


Mendengar jawaban dari


Jeff, seorang pria yang bernama Arjuna itu lantas segera membenarkan posisi


duduknya. Kemudian memasang sabuk pengaman, bersamaan dengan si pengemudi juga.


Keamanan tetap menjadi yang nomer satu. Apa pun itu situasinya.


“Sudah?” tanya Jeff


untuk memastikan.


“Ayo berangkat


sekarang!” balas lawan bicaranya.


Sepertinya pria itu


sudah tidak sabar untuk melakukan pemeriksaan dengan segera. Ini akan menjadi


sepertinya juga tidak sesulit itu. Entah bagaimana nanti hasilnya, yang jelas


mereka sudah berusaha keras. Hanya ada satu prinsip yang perlu dipegang. Kebenaran


selalu menang.


Kali ini Jeff yang akan


membawa mobil ini untuk berkeliaran di jalan raya. Sementara itu Arjuna akan


tetap duduk tepat di samping kursi pengemudi sambil tetap memperhatikan


jalanan. Meski tidak mengemudi, ia juga perlu membantu si pengemudi. Jeff belum


tentu bisa melihat semuanya dari posisinya yang sekarang. Ruang lingkup


pandangannya terbatas. Ditambah dengan suasana malam yang minim akan cahaya.


Ternyata benar apa kata


Jeff tadi. Tempat makan ini masih buka sampai lumayan larut malam. Kebetulan karena


ini bukan akhir pekan, jadi sepertinya mereka akan tutup lebih awal. Sekitar


jam sebelas.


Begitu sampai di sana, Jeff


langsung menepikan mobilnya di pelataran utama yang merangkap sebagai parkiran


juga. Restoran ini ternyata tidak jauh berbeda kondisinya dengan siang hari. Tidak


terlalu ramai, namun semua tempat duduk tampak terisi jika dilihat sekilas.


Dengan berjalan


beriringan, kedua pria itu langsung menuju kasir. Setidaknya Arjuna bisa


meminta si kasir untuk memanggil atasannya kemari agar mereka mendapatkan akses


untuk memeriksa tempat ini. Sebenarnya bisa saja langsung diperiksa tanpa perlu


persetujuan jika memang kasusnya sudah masuk ke tahap fatal. Tapi, untuk saat


ini mereka masih membutuhkan kerja sama dari si pemilik tempat makan.


“Mau bayar pesanan


untuk meja nomer berapa?” tanya si kasir.


“Bisa tolong panggilkan


pemilik tempat ini? Kami perlu bicara dengannya,” jelas Arjuna di awal.


“Tapi, untuk apa?”


tanya kasir  itu balik.


“Ini surat perintahnya


dan kami dari kepolisian,” jawab Jeff sambil menghela napas kasar.


Pria itu kemudian


menyodorkan selemmbar surat yang ia dapatkan dari kantor tadi dan juga kartu


penanda anggota miliknya. Arjuna juga melakukan hal serupa. Seharusnya semua


benda itu sudah cukup untuk membuktikan kalau mereka benar datang kemari bukan


untuk bermain-main. Melainkan ada masalah serius yang harus diselesaikan dengan


segera.


“B-ba-bb-baiklah,” ucap


si kasir dengan gugup lalu buru-buru pergi ke belakang.


Mereka berdua memang


sengaja datang kemari tanpa menggunakan seragam dan tidak memakai lanyard. Kalau


Arjuna dan Jeff melakukan kedua hal tersebut atau salah satu darinya, maka


sejak awal memasuki ruangan ini mereka pasti akan menjadi pusat perhatian. Orang


pasti bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sampai polisi datang kemari.


Arjuna dan Jeff ingin


melakukan semuanya secara teratur. Sesuai dengan prosedur yang ada. Mereka tidak


akan melibatkan pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini


sama sekali. Dan yang terpenting, mereka tidak mau menunjukkan eksistensinya


kepada orang banyak. Itu sama sekali tidak penting baginya di saat seperti


sekarang ini.


Tak lama kemudian


muncullah seorang pria yang mungkin berumur sekitar empat puluh lima atau


bahkan lima tahun. Dari ambang pintu pun ia sudah tampak gugup. Pasalnya ekspresinya


tidak jauh berbeda dengan si kasir tadi.


“Maaf, kalau boleh tahu


ada apa sampai bapak-bapak sekalian datang kemari?” tanya pria itu dengan


sangat hati-hati.


“Jadi begini, kami


mendapatkan laporan kalau ada salah satu pelanggan yang keracunan. Dan diduga


jika racun itu berasal dari salah satu makanan yang ia pesan di sini siang


tadi. Sekarang korbannya sedang berada di rumah sakit sekitar sini untuk


mendapatkan perawatan,” jelas Jeff dengan panjang lebar lalu menunjukkan hasil


pemeriksaan Agatha.


“Racun?”


tanya pria itu lagi untuk memastikan.