
Untuk yang kesekian kalinya Agatha mengalah. Berusaha
untuk berdamai dengan dirinya sendiri dan merendahkan rasa egoisnya. Jika bukan
karena urusan pekerjaan, mungkin ia tidak akan mau bersikap seperti ini.
Menunggu adalah sesuatu yang memuakkan baginya. Bahkan
ia yakin jika bukan hanya dirinya saja yang merasakan hal demikian, namun juga
orang lain. Memangnya siapa yang bersedia diminta untuk menunggu. Malam ini
daftar pekerjaannya jadi bertambah karena harus menunggu kedatangan sekelompok
mafia.
Jika sudah tertangkap nanti, Agatha akan memastikan
kalau mereka semua mendapatkan ganjaran yang sesuai. Bukan hanya kesalahan
karena mengacau di tempat umum saja, namun mereka juga telah merusak suasana
hati gadis ini. Hukuman yang pantas diberikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Meskipun alasan nomer dua tidak bisa dijadikan sebagai
dasar hukum untuk memberikan hukuman kepada orang lain.
Sejak percakapan mereka yang terakhir tadi, Agatha
jadi tidak banyak bicara. Daripada memberontak, ia jauh lebih memilih untuk
menurut. Semua akan terasa lebih mudah ketika mereka berdua berada di pihak
yang sama.
Paling lambat mereka akan menunggu sampai pukul dua
belas malam nanti. Jika sungguh tidak ada tanda-tanda penyerangan, maka mereka
akan kembali ke kantor. Begitu kesepakatannya tadi. Intuisi gadis itu
mengatakan jika mereka sedang dikerjai. Ada orang jahil yang sengaja membuat
laporan palsu. Walaupun tidak ada yang tahu pasti apa tujuan utamanya.
Rasa kantuk diam-diam mulai menghampirinya lagi kali
ini. Agatha tidak bisa menolak. Berat baginya untuk tetap membuka mata
lebar-lebar. Kini matanya hanya segaris, namun masih cukup jelas untuk memantau
situasi di luar sana. Sepertinya ia tidak akan bertahan lebih lama lagi. Kalau
saja Agatha tahu lebih dulu jika malam ini ia akan bekerja sampai larut malam,
mungkin ia sudah mengonsumsi setidaknya sedikit kafein agar tetap terjaga.
Tanpa ia sadari, perlahan namun pasti kesadarannya
pergi kea lam bawah sadar. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi kali ini.
“Apa dia tertidur?” gumam Arjuna yang baru saja
menyadari hal tersebut.
“Dasar!” pekiknya dengan sarkas.
Pria itu masih tidak habis pikir dengan Agatha. Bagaimana
bisa ia tertidur dengan pulas saat bekerja. Terlebih situasinya saat ini
menuntut mereka untuk tetap selalu berjaga-jaga. Ini tidak main-main. Bahaya bisa
datang dan mengancam nyawa kapan saja. Jadi, mereka harus selalu siaga. Tidak
boleh sampai lengah.
Tapi, kali ini Agatha malah bisa-bisanya tertidur. Tanpa
pikir panjang lagi, Arjuna berinisiatif untuk membangunkan gadis itu. Tidak
baik lama-lama kehilangan kesadaran seperti ini saaat bertugas di lapangan.
“Hey!” seru pria itu sembari mengguncang-guncang
tubuh Agatha pelan.
Sesuai dengan dugaannya. Gadis itu merasa terusik
dan segera membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Nyawanya belum
terkumpul sepenuhnya. Ini akan jadi masalah besar kalau sampai incaran mereka datang
di waktu yang bersamaan.
“Siapa yang menyuruhmu untuk tidur saat sedang
bekerja?!” tanya pria itu.
Kali ini nada bicaranya tidak lagi terdengar santai.
Bahkan volume suaranya terdengar jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya.
“Ck! Dasar!” balas Agatha sembari mengusap-usap
kelopak matanya.
Mau tak mau malam ini
ia harus kembali memaksakan diri untuk bekerja. Terkadang Agatha memang
bersikap terlalu keras kepada dirinya sendiri. Namun itu tidak apa-apa. Sejauh
ini hasil yang ia dapatkan cukup setimpal dan memuaskan. Jadi, tidak masalah.