
Jangan bilang kalau
gadis itu mengingat semuanya. Padahal kejadian di café beberapa waktu yang lalu
hanya sekilas dan berlangsung selama beberapa detik saja. Tidak sampai satu
menit. Lagi pula itu terjadi tanpa disengaja. Jika Agatha berada di posisinya
pada saat itu, mungkin ia masih mengingat kejadiannya. Tapi, tidak dengan
pelakunya. Sulit untuk mengenali wajah seseorang apalagi jika mereka baru
pertama kali bertemu.
“Aku yakin kalau kita
pernah bertemu sebelumnya!” ucap gadis itu lagi.
Dia bersikukuh kalau
pernah bertemu dengan Agatha sebelumnya. Dengan berbagai pembelaan Alexa
berusaha untuk mempertahankan pendapatnya.
“Memangnya dimana
kalian pernah bertemu?” tanya Immanuel.
“Entahlah, aku merasa
tidak pernah bertemu dengan Alexa sebelumnya,” jawab Agatha.
“Aku lupa dimana. Tapi,
aku yakin jika kami pernah bertemu sebelumnya!” sambung Alexa.
Terserah dia saja.
Sampai kapan pun Agatha akan tetap mengatakan kalau dirinya tidak pernah
bertemu dengan gadis itu. Mungkin ia akan berbohong untuk yang tadi. Tapi Agatha
terpaksa melakukan semua ini demi keselamatan dirinya sendiri.
“Sudahlah! Sekarang
bukan waktunya untuk membahas hal yang tidak penting seperti itu,” kata
Immanuel melerai.
Agatha mengangguk
setuju dengan perkataan pria itu. Di sisi lain Alexa tak bisa berkata apa-apa.
Kalimat barusan berhasil membungkam mulutnya. Apa yang dikatakan oleh Immanuel
tadi ada benarnya juga. Mereka berada di sini sekarang untuk melaksanakan misi.
Bukannya malah mengobrol tentang hal yang tidak penting.
Tanpa pikir panjang
lagi, Immanuel segera mengeluarkan satu set peralatan pendukung serta senjata
yang harus dirakit lebih dulu. Ada dua. Yang satunya punya Immanuel dan sisanya
milik Agatha. Sementara mereka berdua sibuk merakit senjata karena baru saja
sampai, Alexa menyibukkan diri untuk memantau kondisi sekitar. Itulah yang dia
lakukan sejak tadi. Memastikan jika kondisi di dalam gedung sesuai dengan yang
timnya harapkan. Selain bertugas sebagai sniper, mereka juga harus memiliki
pengelihatan yang tajam untuk memantau setiap pergerakan dari ketinggian.
Ada satu hal lagi yang
tidak boleh sampai terlewat. Ini cukup penting. Akan berdampak pada berhasil
atau tidaknya rencana mereka. Alexa perlu memastikan kalau tidak ada sniper
lain selain mereka di sekitar sini.
“Jadi dalam misi kali
ini kita memiliki tiga penembak jitu, begitu?” tanya Alexa.
“Ya, seperti yang kau
lihat sekarang,” balas Immanuel acuh tak acuh.
“Apa kau yakin jika
kita bisa mengandalkan gadis ini?” tanya Alexa lagi dengan pandangan yang aneh.
Tidak perlu diberi tahu
pun Agatha sudah tahu kalau ia bermaksud untuk merendahkan dirinya. Tidak
masalah. Dia sudah cukup terbiasa dengan situasi seperti ini. Dianggap sebelah
mata oleh orang lain sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tenang saja,
sebentar lagi Agatha juga akan membuat gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.
“Bisa tidak jangan
bicara terus?!” seru Immanuel sambil berdecak kesal.
“Mau dia bisa
diandalkan atau tidak, bukan urusanmu! Hiraeth lah yang menunjuknya langsung
untuk bergabung kemari!” sarkas pria itu.
“Jadi jangan terlalu
banyak bicara. Kalau kau ingin protes, katakan langsung saja kepada pria itu,”
tukasnya di akhir.
“Sudahlah, tidak perlu
sampai marah-marah seperti itu,” bisik Agatha pelan.
Dia tidak ingin
semua orang jadi terpecah karenanya. Bisa-bisa misi mereka tidak berjalan
dengan lancar. Atau konsekuensi terburuknya adalah gagal total. Tidak ada yang
benar-benar siap untuk menerima kenyataan yang satu itu.
“Kita bisa bicara lagi
nanti. Tapi, untuk sekarang fokuslah!” ucap Agatha kepada gadis itu.
Terserah bagaimana
reaksinya. Ia sama sekali tidak peduli. Yang jelas Agatha sudah memberikannya
peringatan sebelum misi mereka dimulai.
“Monitor!”
Mendadak sebuah suara
muncul dari alat bantu pendengaran mereka. Bukan hanya Agatha, Immanuel dan
Alexa saja. Suara serupa muncul di alat bantu pendengaran semua orang. Mereka
sengaja menggunakan yang satu itu sebagai salah satu akses untuk berkomunikasi
antara satu sama lain dalam jarak jauh sekali pun.
“Sebentar lagi ketiga
tim akan masuk pada saat yang bersamaan. Tim sniper bersiaplah. Kalian bisa
membantu mereka jika terjebak dalam kesulitan.”
Suara itu kembali
muncul. Semua orang fokus mendengarkan. Menghentikan kegiatannya untuk sementara
waktu. Sepertinya yang sedang berbicara kepada mereka saat ini adalah Hiraeth.
Dia pasti mengawasi mereka semua. Agatha tidak yakin kalau pria itu bisa
membagi konsentrasinya secara tepat. Tapi, memangnya siapa lagi yang bisa mereka
percaya selain pria itu.
“Bersiap pada posisi
kalian!” perintah Immanuel, kemudian segera diangguki oleh yang lainnya.
Ketiga sniper unggulan
dalam geng mereka tengah berada pada situasi penting. Peringkat tertinggi dalam
hal menembak selalu dikuasai oleh mereka. Sekarang adalah waktu penentuan
sekaligus pembuktian siapa yang paling hebat.
Semua orang tampak
begitu fokus. Situasinya jauh berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Sungguh berbanding
terbalik. Agatha ikut jadi serius karena terbawa suasana.
Sejauh ini belum ada
yang melancarkan tembakan sama sekali. Semuanya masih terpantau aman dari sini.
Alexa bertugas untuk memantau perjalanan dari Tim C, Immanuel Tim B dan yang
terakhir Agatha tentu saja harus mengawasi Tim A. Mereka semua punya tanggung
jawab masing-masing.
Misinya sudah dimulai
tanpa aba-aba secara langsung. Ini waktunya untuk beraksi. Tidak ada waktu lagi
untuk menganggur. Apa pun yang terjadi, tujuan utama mereka harus tercapai. Demi
pembalasan dendam Hiraeth dan segenap tim yang berada di bawah naungannya.
Agatha tidak tahu pasti
dari mana asal mula pertikaian ini. Tapi, mendadak ia ikut dilibatkan begitu
saja. Mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti alur permainannya.
Itulah yang dikatakan oleh Arjuna sejak awal. Ia harus berpegang teguh pada
prinsip yang satu itu.
Para sniper hanya
bertugas untuk memantau perjalanan para tim sampai batas pintu masuk gedung. Memastikan
kalau tidak ada musuh lain yang sedang mengintai dari sisi lain. Setelah mereka
berhasil memasuki gedung dengan aman dan selamat, maka tugasnya selesai. Apa pun
yang akan terjadi di dalam gedung nanti, itu sudah menjadi tanggung jawab
setiap tim. Para sniper hanya bertugas untuk mengamankan situasi dari luar dan
melindungi mereka semua dari berbagai ancaman yang datang dari luar.
Saat semua orang masuk,
misi mereka tidak benar-benar selesai. Masih ada satu hal lagi yang perlu
diselesaikan. Hiraeth dan seluruh timnya akan mendesak Hato beserta beberapa
orang penting lainnya untuk naik ke rooftop. Di situlah puncaknya. Cukup satu
tembakan tepat sasaran saja. Maka semuanya akan selesai sudah. Kemenangan berada
di tangan mereka.
Butuh
waktu sekitar beberapa menit sampai mereka benar-benar berada di rooftop. Sementara
menunggu, para sniper juga perlu bersikap waspada.